Drama Cinta & Sihir ‘Dream’ Hangatkan BUDAmFEST 2025
09 December 2025 |
16:00 WIB
Sosok lelaki itu berjalan di antara penonton sambil menyeret koper. Dia adalah Lysander (Minhyeok Choi) yang ingin bertemu pujaan hatinya, Hermia (Seunghee Park). Keduanya janjian bertemu untuk menikmati suasana alam sembari merencanakan masa depan mereka.
Namun, momen itu buyar ketika ayah Hermia, Egeus, melakukan panggilan video. Lewat layar ponsel, Egeus kembali menegaskan keinginannya agar Hermia menikah dengan Demetrius (Hyungnam Pak). Karena cintanya hanya untuk Lysander, Hermia pun sepakat melarikan diri bersama kekasihnya ke hutan.
Baca juga: Museum Kebangkitan Nasional Disulap Jadi Laboratorium Teater Lewat BUDAmFEST 2025
Di sisi lain, Helena (Eunjung Hong) yang diam-diam mencintai Demetrius memutuskan mengejar lelaki itu hingga ke hutan, berharap perasaannya mendapat balasan. Demetrius sendiri menuju hutan untuk mencari Hermia, membuat keempat anak muda itu terlibat dalam pusaran pencarian cinta masing-masing.
Narasi adegan inilah yang menjadi titik tolok pementasan Dream, di Aula Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Senin (8/12/25) sore. Menjadi pertunjukan pembuka Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Dream diadaptasi dari naskah klasik A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare.
Disutradarai oleh Rangga Riantiarno dan Hyoung Taek-limb, pertunjukan ini membalut romantisme klasik dalam pendekatan kekinian. Keduanya menghadirkan humor, kehangatan, dan ritme panggung yang terasa seperti drama-komedi kontemporer, laiknya drakor yang membuatnya dekat bagi penonton muda.
Dream merupakan salah satu program unggulan BUDAmFEST 2025 melalui kelas Silang Teks, yang mempertemukan seniman Indonesia dan Korea. Naskah adaptasinya digarap oleh Lee Seon-yeon dan Rosida Erowati, yang menafsir ulang naskah klasik itu ke dalam konteks budaya dan estetika Asia.
Premis kisahnya mengikuti dua sejoli yang melarikan diri dari tekanan perjodohan. Namun saat memasuki hutan, mereka justru masuk ke ruang hidup kaum peri. Pertemuan manusia dan peri itulah yang menyalakan konflik, kelucuan, dan kesalahpahaman beruntun di antara para karakter.
Dalam versi ini, kaum peri dipimpin oleh raja dan ratu yang gemar menggunakan sihir untuk menggoda manusia. Gangguan para peri membuat keempat pemuda itu kehilangan arah tentang siapa sebenarnya yang mereka cintai. Identitas, pilihan, dan perasaan bercampur seolah berada dalam mimpi panjang tanpa ujung.
Menariknya, Dream juga menyoroti kelas pekerja melalui adegan kelompok badut atau pekerja panggung. Mereka menjadi simbol bagaimana masyarakat kecil berhadapan dengan kuasa elit. Sementara itu, para peri digambarkan terancam hilang akibat perluasan kota, menghadirkan kritik ekologis yang tetap relevan.
Program Silang Teks mempertemukan unsur seni tradisi Indonesia seperti: Macapat, mantra, wayang, tari kecak, tari topeng, dan gamelan, dengan tradisi Korea seperti Pansori dan Jeango. Komedi sesekali muncul dari pertemuan ini, seperti ketika musik naratif pansori yang berbahasa Korea bersahutan dengan suluk Jawa.
Proses kreatif para pemain dibangun lewat riset, improvisasi, dan pembacaan ulang naskah klasik secara ketat. Kendati tidak semua bagian naskah dimainkan, pertemuan dua kultur yang berbeda dari segi geografis dan bahasa memberi lapisan tafsir baru tentang hubungan manusia dan dunia magis.
Sutradara Rangga Riantiarno menyebut proses ini sebagai pengalaman penuh kejutan. Menurutnya, pertukaran metode antara dua negara memperluas cara pandang para seniman. “Semoga sudut pandang baru tentang situasi negeri masing-masing kolaborator, dan juga dunia, yang kami hadirkan melalui karya ini bisa tersampaikan,” ujarnya.
Dari Korea, sutradara Hyoung Taek Limb juga membawa pendekatan estetika pansori yang musikal dan ekspresif. Pendiri Seoul Factory for the Performing Arts itu berhasil memadukan ritme tuturan pansori dengan komedi romantis Shakespeare. Pertemuan dua gaya ini menciptakan struktur lakon yang penuh dinamika tubuh, suara, dan gerak.
Pementasan Dream menjadi contoh bagaimana tradisi dapat menjadi sumber inovasi. Setiap unsur yang digunakan tidak hanya menjadi ornamen, tetapi berubah menjadi pondasi narasi dan atmosfer pertunjukan. Musik, gestur, hingga improvisasi dirangkai mengikuti kata kunci dari naskah Shakespeare.
Semua elemen tersebut menyatu dalam keintiman panggung Aula Stovia. Ruang yang dekat membuat penonton seolah terseret langsung ke dalam mimpi panjang para tokoh. Dream menutup sore itu dengan perasaan hangat, lucu, dan sedikit sureal, persis seperti mimpi indah yang enggan ditinggalkan, meski penonton hanya duduk di atas tatami.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, momen itu buyar ketika ayah Hermia, Egeus, melakukan panggilan video. Lewat layar ponsel, Egeus kembali menegaskan keinginannya agar Hermia menikah dengan Demetrius (Hyungnam Pak). Karena cintanya hanya untuk Lysander, Hermia pun sepakat melarikan diri bersama kekasihnya ke hutan.
Baca juga: Museum Kebangkitan Nasional Disulap Jadi Laboratorium Teater Lewat BUDAmFEST 2025
Di sisi lain, Helena (Eunjung Hong) yang diam-diam mencintai Demetrius memutuskan mengejar lelaki itu hingga ke hutan, berharap perasaannya mendapat balasan. Demetrius sendiri menuju hutan untuk mencari Hermia, membuat keempat anak muda itu terlibat dalam pusaran pencarian cinta masing-masing.
Narasi adegan inilah yang menjadi titik tolok pementasan Dream, di Aula Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Senin (8/12/25) sore. Menjadi pertunjukan pembuka Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Dream diadaptasi dari naskah klasik A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare.

Sejumlah pelakon dari Lab Teater Ciputat & Seoul Factory saat mementaskan teater berjudul Dream dalam Budamfest 2025 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Senin (8/12/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Disutradarai oleh Rangga Riantiarno dan Hyoung Taek-limb, pertunjukan ini membalut romantisme klasik dalam pendekatan kekinian. Keduanya menghadirkan humor, kehangatan, dan ritme panggung yang terasa seperti drama-komedi kontemporer, laiknya drakor yang membuatnya dekat bagi penonton muda.
Dream merupakan salah satu program unggulan BUDAmFEST 2025 melalui kelas Silang Teks, yang mempertemukan seniman Indonesia dan Korea. Naskah adaptasinya digarap oleh Lee Seon-yeon dan Rosida Erowati, yang menafsir ulang naskah klasik itu ke dalam konteks budaya dan estetika Asia.
Premis kisahnya mengikuti dua sejoli yang melarikan diri dari tekanan perjodohan. Namun saat memasuki hutan, mereka justru masuk ke ruang hidup kaum peri. Pertemuan manusia dan peri itulah yang menyalakan konflik, kelucuan, dan kesalahpahaman beruntun di antara para karakter.
Dalam versi ini, kaum peri dipimpin oleh raja dan ratu yang gemar menggunakan sihir untuk menggoda manusia. Gangguan para peri membuat keempat pemuda itu kehilangan arah tentang siapa sebenarnya yang mereka cintai. Identitas, pilihan, dan perasaan bercampur seolah berada dalam mimpi panjang tanpa ujung.
Menariknya, Dream juga menyoroti kelas pekerja melalui adegan kelompok badut atau pekerja panggung. Mereka menjadi simbol bagaimana masyarakat kecil berhadapan dengan kuasa elit. Sementara itu, para peri digambarkan terancam hilang akibat perluasan kota, menghadirkan kritik ekologis yang tetap relevan.
Program Silang Teks mempertemukan unsur seni tradisi Indonesia seperti: Macapat, mantra, wayang, tari kecak, tari topeng, dan gamelan, dengan tradisi Korea seperti Pansori dan Jeango. Komedi sesekali muncul dari pertemuan ini, seperti ketika musik naratif pansori yang berbahasa Korea bersahutan dengan suluk Jawa.
Proses kreatif para pemain dibangun lewat riset, improvisasi, dan pembacaan ulang naskah klasik secara ketat. Kendati tidak semua bagian naskah dimainkan, pertemuan dua kultur yang berbeda dari segi geografis dan bahasa memberi lapisan tafsir baru tentang hubungan manusia dan dunia magis.

Sejumlah pelakon dari Seoul Factory saat mementaskan teater berjudul Dream dalam Budamfest 2025 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Senin (8/12/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Sutradara Rangga Riantiarno menyebut proses ini sebagai pengalaman penuh kejutan. Menurutnya, pertukaran metode antara dua negara memperluas cara pandang para seniman. “Semoga sudut pandang baru tentang situasi negeri masing-masing kolaborator, dan juga dunia, yang kami hadirkan melalui karya ini bisa tersampaikan,” ujarnya.
Dari Korea, sutradara Hyoung Taek Limb juga membawa pendekatan estetika pansori yang musikal dan ekspresif. Pendiri Seoul Factory for the Performing Arts itu berhasil memadukan ritme tuturan pansori dengan komedi romantis Shakespeare. Pertemuan dua gaya ini menciptakan struktur lakon yang penuh dinamika tubuh, suara, dan gerak.
Pementasan Dream menjadi contoh bagaimana tradisi dapat menjadi sumber inovasi. Setiap unsur yang digunakan tidak hanya menjadi ornamen, tetapi berubah menjadi pondasi narasi dan atmosfer pertunjukan. Musik, gestur, hingga improvisasi dirangkai mengikuti kata kunci dari naskah Shakespeare.
Semua elemen tersebut menyatu dalam keintiman panggung Aula Stovia. Ruang yang dekat membuat penonton seolah terseret langsung ke dalam mimpi panjang para tokoh. Dream menutup sore itu dengan perasaan hangat, lucu, dan sedikit sureal, persis seperti mimpi indah yang enggan ditinggalkan, meski penonton hanya duduk di atas tatami.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.