Mengapa Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi? Begini Kata Dokter
05 December 2025 |
09:00 WIB
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Hingga kini, Indonesia berada pada posisi ketiga dengan tingkat kematian ibu tertinggi di kawasan Asean. Data Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Angka tersebut setara dengan rata-rata 22 ibu yang kehilangan nyawa setiap harinya akibat berbagai masalah selama kehamilan, proses persalinan, maupun masa nifas.
Baca juga: Hadapi Beban Ganda, 78% Ibu Akui Tunda Urusan Kesehatan Personal Demi Keluarga
Ketua Umum Perhimpunan Obstetrik dan Ginekologi Indonesia (POGI) Budi Wiweko mengatakan bahwa eklamsia masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya AKI. Eklamsia merupakan komplikasi berat yang dapat muncul pada masa kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan.
Kondisi tersebut termasuk dalam kategori kegawatdaruratan medis yang perlu segera mendapat tindakan karena mengancam keselamatan ibu dan janin. Tanpa penanganan cepat dan tepat, eklamsia dapat menyebabkan berbagai dampak serius, mulai dari kerusakan organ dan hilangnya kesadaran hingga berujung pada kematian.
"Nomor satu ada eklampsia, eklampsia itu adalah tekanan darah tinggi, dalam kehamilan ibunya bisa kejang, itu penyebab kematian nomor satu," ungkap pria yang karib disapa Iko ini.
Penyebab kematian terbanyak lainnya adalah perdarahan pascapersalinan. Kondisi ini, kata dokter Iko, terjadi setelah proses melahirkan, ketika ibu mengalami pendarahan hebat yang tidak tertangani dengan baik sehingga berujung fatal.
Selain itu, infeksi juga menjadi faktor signifikan yang mendorong meningkatnya angka kematian ibu. Di samping infeksi, masalah lain seperti keterlambatan memperoleh layanan rujukan yang memadai turut memperburuk situasi.
Dokter juga menyebut tingginya AKI juga disebabkan oleh kasus pernikahan dini yang masih cukup tinggi. Data menunjukkan sekitar 10,03 persen perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun, sementara angka kelahiran pada remaja usia 15–19 tahun mencapai 20,49 per 1.000 penduduk.
Menurut Prof. Budi, fenomena pernikahan di bawah umur merupakan kenyataan yang terjadi secara luas, termasuk di kawasan perkotaan, bukan hanya di desa. Padahal, berbagai studi sudah menjelaskan bahwa kehamilan dan kelahiran pada usia terlalu muda berdampak buruk pada kesehatan ibu. Secara biologis, katanya, tubuh remaja umumnya memang belum sepenuhnya siap menjalani proses kehamilan, sehingga risiko komplikasi meningkat.
"Secara biologis, organ-organ reproduksi perempuan, apalagi di bawah 16 tahun belum terlalu siap untuk menerima kehamilan, sehingga risiko untuk darah tinggi, preeklamsia juga sangat tinggi," tandasnya.
Dokter berharap angka kematian ibu dapat diturunkan dengan lebih optimal melalui RPJMN 2025–2029, yang menetapkan sasaran penurunan AKI hingga mencapai 77 kasus per 100.000 kelahiran hidup.
"Indonesia kini berada dalam fase krusial. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, beban kesehatan perempuan tetap mengkhawatirkan," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Angka tersebut setara dengan rata-rata 22 ibu yang kehilangan nyawa setiap harinya akibat berbagai masalah selama kehamilan, proses persalinan, maupun masa nifas.
Baca juga: Hadapi Beban Ganda, 78% Ibu Akui Tunda Urusan Kesehatan Personal Demi Keluarga
Ketua Umum Perhimpunan Obstetrik dan Ginekologi Indonesia (POGI) Budi Wiweko mengatakan bahwa eklamsia masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya AKI. Eklamsia merupakan komplikasi berat yang dapat muncul pada masa kehamilan, persalinan, atau setelah melahirkan.
Kondisi tersebut termasuk dalam kategori kegawatdaruratan medis yang perlu segera mendapat tindakan karena mengancam keselamatan ibu dan janin. Tanpa penanganan cepat dan tepat, eklamsia dapat menyebabkan berbagai dampak serius, mulai dari kerusakan organ dan hilangnya kesadaran hingga berujung pada kematian.
"Nomor satu ada eklampsia, eklampsia itu adalah tekanan darah tinggi, dalam kehamilan ibunya bisa kejang, itu penyebab kematian nomor satu," ungkap pria yang karib disapa Iko ini.
Penyebab kematian terbanyak lainnya adalah perdarahan pascapersalinan. Kondisi ini, kata dokter Iko, terjadi setelah proses melahirkan, ketika ibu mengalami pendarahan hebat yang tidak tertangani dengan baik sehingga berujung fatal.
Selain itu, infeksi juga menjadi faktor signifikan yang mendorong meningkatnya angka kematian ibu. Di samping infeksi, masalah lain seperti keterlambatan memperoleh layanan rujukan yang memadai turut memperburuk situasi.
Dokter juga menyebut tingginya AKI juga disebabkan oleh kasus pernikahan dini yang masih cukup tinggi. Data menunjukkan sekitar 10,03 persen perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun, sementara angka kelahiran pada remaja usia 15–19 tahun mencapai 20,49 per 1.000 penduduk.
Menurut Prof. Budi, fenomena pernikahan di bawah umur merupakan kenyataan yang terjadi secara luas, termasuk di kawasan perkotaan, bukan hanya di desa. Padahal, berbagai studi sudah menjelaskan bahwa kehamilan dan kelahiran pada usia terlalu muda berdampak buruk pada kesehatan ibu. Secara biologis, katanya, tubuh remaja umumnya memang belum sepenuhnya siap menjalani proses kehamilan, sehingga risiko komplikasi meningkat.
"Secara biologis, organ-organ reproduksi perempuan, apalagi di bawah 16 tahun belum terlalu siap untuk menerima kehamilan, sehingga risiko untuk darah tinggi, preeklamsia juga sangat tinggi," tandasnya.
Dokter berharap angka kematian ibu dapat diturunkan dengan lebih optimal melalui RPJMN 2025–2029, yang menetapkan sasaran penurunan AKI hingga mencapai 77 kasus per 100.000 kelahiran hidup.
"Indonesia kini berada dalam fase krusial. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, beban kesehatan perempuan tetap mengkhawatirkan," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.