Pendiri Jagat Craft Jogja, Sinta Mawar Sari Sutanto. (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Kerajinan Denim Daur Ulang Jagat Craft Jogja Bawa Identitas Budaya ke SMEXPO 2025

27 November 2025   |   19:13 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, Selasa (25/11/2025), menghadirkan beragam produk UMKM mulai dari makanan, fashion, hingga kerajinan. Di antara deretan booth tersebut, sebuah stand dengan tas handmade bermotif batik dan wayang terlihat menonjol berkat detail dan karakter desainnya yang khas.

Tas-tas bernuansa budaya itu merupakan karya Jagat Craft Jogja, UMKM asal Yogyakarta yang didirikan oleh Sinta Mawar Sari Sutanto. Brand ini lahir dari perjalanan panjang seorang perajin yang menekuni hobinya sejak muda hingga berkembang menjadi usaha berbasis seni dan budaya.

Baca juga: Bleu by Astrid Tampil Memikat di SMEXPO 2025 dengan Karya Rajutnya

Sejak 2007, Sinta Mawar Sari Sutanto telah menekuni dunia pembuatan tas handmade. Namun, brand resmi miliknya, Jagat Craft Jogja, baru lahir pada 2018. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dan kecintaan kuat terhadap desain, Sinta berhasil membangun identitas unik yang membedakan brand-nya dari produk tas lain yang beredar di pasaran.

“Nama saya Sinta Mawar Sari Sutanto, usia 45 tahun,” ujarnya membuka percakapan. Ketertarikannya mendirikan brand berasal dari hobinya dalam mendesain. “Dari hobi, suka mendesain,” katanya. Hasrat tersebut berkembang menjadi bisnis yang kini semakin dikenal, baik di dalam maupun luar negeri.

Sinta tidak sekadar membuat tas, tetapi membangun sebuah brand dengan akar budaya yang kuat. Ia menyampaikan bahwa ada filosofi yang melandasi setiap karyanya, sebab hampir seluruh desain bermula dari kecintaannya pada batik dan wayang. Ia juga menuturkan bahwa ragam batik seperti parang, kawung, serta karakter wayang memiliki filosofi masing-masing yang selalu ia jadikan inspirasi.

Ia menjelaskan bahwa seluruh desain Jagat Craft Jogja merupakan hasil karyanya sendiri. Perpaduan antara denim dan batik menjadi ciri khas brand menghadirkan sentuhan modern tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia yang ingin terus ia jaga.

Dari berbagai produk yang ia buat, Sinta menjelaskan bahwa tote bag dan backpack merupakan yang paling diminati, terutama model 3-in-1. Ia menilai banyak pelanggan tertarik karena desain tasnya dianggap unik dan lucu, sehingga mudah menarik perhatian konsumen.

Jagat Craft Jogja juga dikenal sebagai brand yang memanfaatkan bahan daur ulang. “Saya menggunakan bahan sisa jeans, karena ini bahan yang timeless. Dari dulu sampai sekarang peminatnya banyak," ujarnya.
 

Koleksi Jagat Craft Jogja. (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Koleksi Jagat Craft Jogja. (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Sinta menjelaskan bahwa inspirasi desainnya bisa datang dari mana saja, terutama dari hal-hal sederhana yang ia temui sehari-hari. Ia sering mendapat ide ketika melihat orang-orang menggunakan tas di jalan, lalu memperhatikan bentuk dan detailnya. Bahan utama yang ia gunakan antara lain denim, batik, serta kain katun sebagai lapisan dalam.

Meski begitu, menjaga kualitas dan konsistensi desain bukanlah hal mudah. Ia menilai bahwa tantangannya terletak pada proses mengombinasikan bahan dan menciptakan desain baru, karena tidak semua orang mampu melakukannya. Bahkan, beberapa orang yang ia ajari menjahit belum bisa meniru teknik desainnya secara utuh.

Saat ini, Sinta dibantu satu orang penjahit tetap, dan empat orang tambahan saat pesanan meningkat. “Yang bantu satu orang, tapi kalau pesanan banyak ada empat orang,” jelasnya. Produksi tas pun cukup cepat, bergantung pada desainnya. “Yang lama itu desainnya. Kalau mood bagus, bisa dapat lima tas sehari.”

Jagat Craft Jogja merupakan salah satu UMKM yang telah lama mendapatkan dukungan dari Pertamina. Sinta menjelaskan bahwa ia mulai mengikuti Akademi Pertamina pada tahun ini, sementara status sebagai mitra binaan sudah ia jalani sejak sekitar 2014–2015. Menurutnya, berbagai program pembinaan yang ia terima—khususnya materi dari akademi—sangat membantu dalam pengembangan usahanya.

Dalam hal pemasaran, Sinta masih mengandalkan Instagram dan jaringan reseller. Namun, produk Jagat Craft Jogja telah menjangkau pasar internasional, dengan pengiriman yang pernah dilakukan ke Malaysia, Singapura, dan Hong Kong; bahkan Malaysia menjadi tujuan yang paling sering.

Bagi Sinta, pencapaian terbesar adalah ketika brand miliknya semakin dikenal dan memiliki identitas desain yang kuat. Ia merasa bersyukur karena Jagat Craft Jogja kini mulai dikenali melalui ciri khas tas yang mereka produksi.

Ke depan, Sinta menyadari bahwa tantangan akan semakin besar, terutama dalam menjaga inovasi. “Tantangannya membuat desain terbaru. Kita harus kreatif terus. Kalau desainnya itu-itu saja, orang bosan. Kompetitor juga semakin banyak,” tuturnya. Meski begitu, ia tetap optimis. “Harapannya semakin berkembang aja.”

Jagat Craft Jogja merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan mendapat dukungan penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Menafsir Indonesia melalui Seni Rupa Satu Tanah, Seribu Ketangguhan

BERIKUTNYA

Planet Sports Run 2026 Jadi Pembuka Agenda Lari Nasional, Poin Bisa Ditukar Apparel

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga