Pendiri Turah Sekam Zen RS, Penggagas Kolektif Membaca Melawan Ichan dan Pegiat Perpustakaan Jalanan Vebrina (kanan) pada diskusi "Apa Arti Membaca Setelah Soeharto Menjadi Pahlawan?" dalam JILF 2025 di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Refleksi JILF 2025: Saat Membaca Jadi Bentuk Perlawanan Paling Sederhana

15 November 2025   |   18:29 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Buku adalah jendela dunia. Frasa inilah yang selalu diajarkan oleh guru atau pendidik saat Genhype duduk di bangku sekolah. Sebab dari aktivitas membaca, baik buku atau realitas, seseorang akan memiliki pengetahuan alternatif, serta cara berpikir yang bisa membongkar narasi tunggal.

Namun, hampir di setiap zaman selalu ada pelarangan, penyitaan, bahkan pembakaran buku-buku tertentu. Belum lama ini, bahkan sejumlah buku justru dijadikan barang bukti dalam penangkapan sejumlah aktivis seusai demonstrasi di sejumlah daerah pada akhir Agustus 2025.

Baca juga: JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan

Pada titik inilah membaca menjadi lebih dari aktivitas intelektual semata. Dia berubah menjadi tindakan politis yang mempertanyakan siapa yang berhak menentukan pengetahuan mana yang boleh diakses publik. Membaca, pada akhirnya, adalah cara masyarakat bertahan dari upaya pembungkaman.

Diskusi bertajuk Apa Arti Membaca Setelah Soeharto Menjadi Pahlawan? di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 menunjukkan hal tersebut dengan terang. Diinisiasi Turah Sekam, Perpustakan Jalanan, dan Membaca Melawan, diskusi berlangsung di Galeri S. Soedjojono, TIM, Jakarta, Sabtu (15/11/25).

Selama beberapa waktu terakhir ketiga komunitas tersebut memang bekerja dengan metodologi berbeda, tapi memiliki satu kesadaran yang sama. Bahwa membaca diperlukan bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk membuka ruang aman bagi warga.

Vebrina, perwakilan Perpustakaan Jalanan Jakarta mengatakan, bahwa membaca adalah bentuk perlawanan terhadap ketimpangan kelas. Ketika masih banyak anak sekolah dasar di Jakarta yang kesulitan membaca alfabet, lapakan buku di trotoar menjadi tindakan memperluas akses pengetahuan. 

Dia menjelaskan, dengan membawa buku ke ruang publik, mereka menolak logika bahwa literasi hanya milik kelompok tertentu. Membaca, paparnya, juga membantu masyarakat membangun ingatan kolektif. Sebab, ketika negara mengubah narasi sejarah buku-buku yang dibredel menjadi pengingat alternatif. 

"Mengingat adalah tindakan menolak pelupaan, dan membaca adalah alat paling sederhana untuk melakukannya," katanya.

Di sisi lain, kolektif Membaca Melawan justru memusatkan perhatian pada bagaimana membaca dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif. Mereka melihat bahwa ruang-ruang gerakan sering maskulin dan hierarkis. Dengan kegiatan seperti meronce, mewarnai, hingga membuat zine, membaca ditempatkan sebagai jembatan untuk menghadirkan rasa aman bagi perempuan, dan kelompok rentan.

Ichan dari kolektif Membaca Melawan mengatakan, dalam konteks masyarakat hari ini, membaca juga menjadi cara untuk melawan banjir informasi yang menyesatkan. Ketika rumor dan misinformasi beredar lebih cepat daripada klarifikasi, kemampuan membaca secara kritis adalah benteng pertahanan paling dasar. "Tanpanya, masyarakat mudah dikooptasi oleh narasi tunggal," katanya.
 

JILF


Pendiri Turah Sekam Zen RS, Penggagas Kolektif Membaca Melawan Ichan dan Pegiat Perpustakaan Jalanan Vebrina (kanan) pada diskusi "Apa Arti Membaca Setelah Soeharto Menjadi Pahlawan?" dalam JILF 2025 di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Turah Sekam, melalui pendirinya Zen RS, menawarkan perspektif lain mengenai pentingnya membaca. Baginya, membaca adalah cara untuk membangun kembali keintiman dengan teks di tengah dunia yang serba cepat. Membaca buku fisik atau zine adalah tindakan melambat yang menentang derasnya notifikasi dan algoritma digital.

Lebih jauh, Zen mengibaratkan membaca sebagai tindakan memasuki “server” sebuah sistem. Ketika seseorang membaca buku-buku yang pernah dilarang atau dibredel, mereka akan dapat memahami bagaimana sistem bekerja. Dari sana dia akan belajar bahwa aturan dapat diubah, disabotase, atau setidaknya dipertanyakan keberpihakannya.

Pelarangan buku, menurut para panelis, justru mempertegas mengapa membaca begitu penting bagi masyarakat. Setiap larangan adalah tanda bahwa ada sesuatu yang ingin ditutupi. Dengan membaca buku-buku tersebut, publik mendapatkan kesempatan untuk melihat sisi lain sejarah dan kebijakan yang selama ini disamarkan.

Ruang-ruang literasi yang digerakkan komunitas pun memiliki peran strategis dalam hal ini. Mereka menciptakan tempat untuk berdialog tanpa hierarki, sekaligus mempertemukan warga dari berbagai latar sosial. Solidaritas yang muncul dari ruang-ruang kecil ini juga dapat menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran bersama.

Aktivitas membaca bersama juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dapat mengikat masyarakat. Ketika seseorang menemukan keterhubungan melalui teks, mereka akan merasa tidak sendirian dalam memandang ketidakadilan. Keterhubungan inilah, papar Zen, yang acapkali menjadi titik awal munculnya gerakan.

Diskusi di JILF 2025 ini juga memperlihatkan bahwa pentingnya membaca tidak hanya terletak pada teks yang dibaca. Dia justru terletak pada hubungan yang tercipta, ruang yang dibangun, dan keberanian yang tumbuh di dalamnya. Artinya, membaca adalah pengalaman sosial yang menyeberangi batas kelas dan identitas.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan

BERIKUTNYA

GoodVibes Botanical Kenalkan Wangi Bunga khas Indonesia dalam Aromaterapi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga