Illustrasi #Metoo (sumber: freepik)

Mengapa Gerakan #MeToo Belum Mengguncang Industri Musik Seperti Hollywood?

12 November 2025   |   17:30 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Beberapa tahun terakhir dunia hiburan diguncang oleh gerakan #MeToo. Gerakan ini bermula dari media sosial pada 2017 setelah aktris-aktris Hollywood berani mengungkap kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh tokoh berpengaruh di industri film.

Tagar #MeToo kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan yang dialami perempuan di berbagai bidang pekerjaan. Dampaknya begitu luas hingga mengubah wajah industri hiburan, terutama di Amerika Serikat.

Baca juga: 3 Selebriti Terkenal yang Mengalami Cancel Culture

Namun kini muncul pertanyaan baru, apakah industri musik juga akan mengalami momen serupa. Setelah banyak figur di dunia film dan media harus mempertanggungjawabkan perilakunya, publik mulai menyoroti dunia musik yang selama ini cenderung lebih tertutup.

Melansir dari Los Angeles Times, dalam beberapa minggu terakhir industri musik diguncang oleh sejumlah tuduhan pelecehan yang melibatkan tokoh besar di dalamnya. Meski demikian, dampak dari pengungkapan ini masih terbatas dan belum menimbulkan perubahan sistemik seperti yang terjadi di Hollywood.

Salah satu alasan mengapa perubahan terasa lebih lambat adalah karena budaya di dunia musik kerap menganggap perilaku tidak pantas sebagai bagian dari gaya hidup yang “normal”.

Menurut laporan dari The Playground, banyak musisi dan orang di balik layar yang terbiasa dengan lingkungan kerja yang permisif dan sulit dipisahkan dari citra kebebasan khas dunia musik. Akibatnya, banyak korban merasa ragu untuk bersuara karena takut dianggap merusak reputasi atau kariernya sendiri.

Meski begitu, ada tanda-tanda bahwa kesadaran mulai tumbuh. Melansir dari Entertainment Weekly, penyanyi Ellie Goulding mengungkap bahwa industri musik kini sudah jauh lebih berhati-hati dibanding beberapa tahun lalu. Ia mengatakan banyak label mulai menerapkan kebijakan perlindungan dan pengawasan terhadap artis muda, termasuk menyediakan pendampingan profesional.

Meskipun langkah-langkah ini masih kecil, perubahan arah tersebut menunjukkan bahwa ada upaya menuju lingkungan yang lebih aman dan setara.

Beberapa kasus besar memang sudah menjadi perhatian publik, seperti yang melibatkan R. Kelly dan Sean “Diddy” Combs. Namun, This is Beirut mengutip bahwa industri musik masih dianggap belum mengalami gelombang pengungkapan yang benar-benar menyentuh struktur kekuasaan di balik layar. Dalam banyak kasus, tuduhan baru muncul ketika korban sudah tidak lagi aktif di industri atau setelah bertahun-tahun lamanya.

Kondisi ini memberikan pelajaran penting, terutama bagi industri musik di Indonesia dan Asia. Dengan semakin banyaknya anak muda yang terjun ke dunia kreatif, penting untuk menciptakan sistem kerja yang lebih transparan dan aman. Industri musik lokal memiliki peluang besar untuk belajar dari kesalahan yang terjadi di luar negeri dengan menyiapkan mekanisme pelaporan yang jelas dan memperkuat budaya profesional sejak dini.

Gerakan #MeToo menunjukkan bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika korban didengar dan pelaku dimintai pertanggungjawaban. Dunia musik memang memiliki karakter yang berbeda dengan film, tetapi pada dasarnya keduanya dibangun di atas relasi kuasa yang serupa.

Tanpa keberanian untuk membuka suara dan dukungan dari institusi, perubahan besar tidak akan terjadi. Mungkin jalan masih panjang, tapi kesadaran publik yang semakin tinggi bisa menjadi langkah awal menuju industri musik yang lebih aman dan manusiawi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

10 Rekomendasi Film Gotik yang Memikat dengan Romansa, Tragedi, dan Estetika Kelam

BERIKUTNYA

Fesyen Era Gen Z Memaksa Industri Mode Berbenah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga