Sutradara Anggi Frisca: Film Anak Indonesia Minim Padahal Pasar Penontonnya Besar
16 October 2025 |
16:00 WIB
Industri perfilman Indonesia masih minim melahirkan karya film-film anak. Sinema anak acapkali dianggap tidak terlalu menjual di pasaran jika dibandingkan dengan genre-genre lain seperti drama dan horor. Padahal, film anak memiliki potensi pasar penonton yang besar jika para filmmaker mau menggarapnya.
Sutradara Anggi Frisca menilai dari segi kuantitas, jumlah film anak di Indonesia masih sangat minim. Dari ratusan film yang diproduksi tiap tahunnya, tak banyak film anak yang mengemuka di pasaran. Menurutnya, kondisi ini juga yang akhirnya membuat anak-anak rentan menonton film-film yang tak sesuai umurnya, hanya karena bisa menikmati quality time bersama orang tuanya.
Baca juga: Sam’s Studios Punya Bioskop Terprogram Layar Film Anak Setiap Sabtu & Minggu
"Hitung deh dalam satu tahun misalnya ada 100 film, film anaknya paling cuma satu. Film semua umur juga enggak banyak. Terus yang jadi bahaya adalah ketika orangtuanya ingin nonton tapi enggak bisa ninggalin anaknya, anaknya kan tetap dibawa ke bioskop. Itu yang sering terjadi," katanya saat diwawancarai Hypeabis.id, baru-baru ini.
Di tengah kondisi itu, Anggi bersama rumah produksi yang didirikannya, Aksa Bumi Langit, mencoba mengisi gap tersebut dengan menghadirkan film-film yang bisa ditonton semua umur termasuk anak-anak. Salah satunya film Tegar (2022), yang mendapat apresiasi besar tak hanya di dalam negeri tapi juga di panggung internasional.
Seperti judulnya, film Tegar berkisah tentang seorang anak penyandang disabilitas berusia 10 tahun bernama Tegar yang berjuang untuk mewujudkan impiannya yang sederhana, yaitu bersekolah dan berteman. Dengan skenario distribusi yang langsung menyasar kepada komunitas dan sekolah-sekolah, film tersebut sampai saat ini telah ditonton lebih dari 1,6 juta penonton.
Meski telah dirilis sejak 2022, film Tegar masih banjir apresiasi dari berbagai dunia. Film ini telah tampil dan menginspirasi dunia di lebih dari 20 festival internasional di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Italia, hingga China.
Tak hanya tampil, film ini juga telah meraih lebih dari 15 penghargaan internasional termasuk Best Film, Best Actor, dan Best Director. Pada akhir tahun 2025, film ini juga akan tampil di festival film anak di Beijing, China dan Turki.
Menurut Anggi, film-film anak sebenarnya telah memiliki pasar penonton tersendiri di Indonesia. Hanya, tantangannya adalah dalam soal distribusi. Sebab, skema distribusi film reguler di bioskop cenderung memberi durasi tayang yang singkat, sehingga filmmaker pun hanya punya waktu sebentar untuk mempromosikan filmnya dan menarik para penonton datang ke bioskop.
"Film anak itu pasarnya ada, tapi dimana dan gimana menarik mereka ke bioskop. Karena tantangannya di distribusi reguler durasinya cukup singkat, dan tidak semua film punya kapasitas marketing atau promo yang besar. Akhirnya banyak film anak yang tidak terekspos karena tidak punya dana marketing yang besar untuk mendistribusikannya," ujar sutradara berusia 41 tahun itu.
Apalagi, kata Anggi, anak-anak saat ini merupakan generasi emas yang akan mengisi bonus demografi pada 2045 mendatang. Dengan demikian, penting untuk membentuk generasi yang berkualitas dari berbagai aspek, termasuk memaparkan mereka dengan tontonan-tontonan yang mengedukasi dan menginspirasi.
"Aku percaya setiap generasi itu tumbuh dan pertama kali belajar itu bukan dia belajar ngomong, tapi belajar lihat dan meniru. Kenapa makanya aku percaya kalau film atau media audio visual itu sebetulnya alat yang paling pertama yang harus kita jagain. Kalau kita bicara budaya, ya budaya nontonnya yang harus kuat Karena mereka belajar dari situ," ucapnya.
Anggi Frisca adalah satu dari sedikit sutradara yang memiliki ketertarikan besar pada film-film anak. Minatnya yang besar untuk menghadirkan film-film anak bukan tanpa sebab. Dia ingin menjadikan film sebagai media untuk menyampaikan pesan edukasi bahkan mengajak anak-anak Indonesia untuk percaya diri dan berani bermimpi.
"Aku ngeliat anak muda atau anak-anak di era sekarang itu enggak punya mimpi. Itu yang bikin aku pengen mengaktivasi mimpi, karena hampir semua filmku ini sekarang rata-rata tentang mimpi," ujar sinematografer kelahiran Bandung tersebut.
Baca juga: Ini Alasan Belum Banyak Film Anak di Indonesia Hadir di Bioskop
Sutradara Anggi Frisca menilai dari segi kuantitas, jumlah film anak di Indonesia masih sangat minim. Dari ratusan film yang diproduksi tiap tahunnya, tak banyak film anak yang mengemuka di pasaran. Menurutnya, kondisi ini juga yang akhirnya membuat anak-anak rentan menonton film-film yang tak sesuai umurnya, hanya karena bisa menikmati quality time bersama orang tuanya.
Baca juga: Sam’s Studios Punya Bioskop Terprogram Layar Film Anak Setiap Sabtu & Minggu
"Hitung deh dalam satu tahun misalnya ada 100 film, film anaknya paling cuma satu. Film semua umur juga enggak banyak. Terus yang jadi bahaya adalah ketika orangtuanya ingin nonton tapi enggak bisa ninggalin anaknya, anaknya kan tetap dibawa ke bioskop. Itu yang sering terjadi," katanya saat diwawancarai Hypeabis.id, baru-baru ini.
Di tengah kondisi itu, Anggi bersama rumah produksi yang didirikannya, Aksa Bumi Langit, mencoba mengisi gap tersebut dengan menghadirkan film-film yang bisa ditonton semua umur termasuk anak-anak. Salah satunya film Tegar (2022), yang mendapat apresiasi besar tak hanya di dalam negeri tapi juga di panggung internasional.
Seperti judulnya, film Tegar berkisah tentang seorang anak penyandang disabilitas berusia 10 tahun bernama Tegar yang berjuang untuk mewujudkan impiannya yang sederhana, yaitu bersekolah dan berteman. Dengan skenario distribusi yang langsung menyasar kepada komunitas dan sekolah-sekolah, film tersebut sampai saat ini telah ditonton lebih dari 1,6 juta penonton.
Meski telah dirilis sejak 2022, film Tegar masih banjir apresiasi dari berbagai dunia. Film ini telah tampil dan menginspirasi dunia di lebih dari 20 festival internasional di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Italia, hingga China.
Tak hanya tampil, film ini juga telah meraih lebih dari 15 penghargaan internasional termasuk Best Film, Best Actor, dan Best Director. Pada akhir tahun 2025, film ini juga akan tampil di festival film anak di Beijing, China dan Turki.
Menurut Anggi, film-film anak sebenarnya telah memiliki pasar penonton tersendiri di Indonesia. Hanya, tantangannya adalah dalam soal distribusi. Sebab, skema distribusi film reguler di bioskop cenderung memberi durasi tayang yang singkat, sehingga filmmaker pun hanya punya waktu sebentar untuk mempromosikan filmnya dan menarik para penonton datang ke bioskop.
"Film anak itu pasarnya ada, tapi dimana dan gimana menarik mereka ke bioskop. Karena tantangannya di distribusi reguler durasinya cukup singkat, dan tidak semua film punya kapasitas marketing atau promo yang besar. Akhirnya banyak film anak yang tidak terekspos karena tidak punya dana marketing yang besar untuk mendistribusikannya," ujar sutradara berusia 41 tahun itu.
Apalagi, kata Anggi, anak-anak saat ini merupakan generasi emas yang akan mengisi bonus demografi pada 2045 mendatang. Dengan demikian, penting untuk membentuk generasi yang berkualitas dari berbagai aspek, termasuk memaparkan mereka dengan tontonan-tontonan yang mengedukasi dan menginspirasi.
"Aku percaya setiap generasi itu tumbuh dan pertama kali belajar itu bukan dia belajar ngomong, tapi belajar lihat dan meniru. Kenapa makanya aku percaya kalau film atau media audio visual itu sebetulnya alat yang paling pertama yang harus kita jagain. Kalau kita bicara budaya, ya budaya nontonnya yang harus kuat Karena mereka belajar dari situ," ucapnya.
Anggi Frisca adalah satu dari sedikit sutradara yang memiliki ketertarikan besar pada film-film anak. Minatnya yang besar untuk menghadirkan film-film anak bukan tanpa sebab. Dia ingin menjadikan film sebagai media untuk menyampaikan pesan edukasi bahkan mengajak anak-anak Indonesia untuk percaya diri dan berani bermimpi.
"Aku ngeliat anak muda atau anak-anak di era sekarang itu enggak punya mimpi. Itu yang bikin aku pengen mengaktivasi mimpi, karena hampir semua filmku ini sekarang rata-rata tentang mimpi," ujar sinematografer kelahiran Bandung tersebut.
Baca juga: Ini Alasan Belum Banyak Film Anak di Indonesia Hadir di Bioskop
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.