Merayakan Seni Visual yang Inklusif dan Ramah Keluarga di Jakarta Doodle Fest 2025
12 October 2025 |
18:07 WIB
Jakarta Doodle Fest 2025 sukses membumikan seni menjadi lebih inklusif dan ramah keluarga. Tahun ini, festival yang diselenggarakan oleh TFR News tersebut tak hanya menjadi ajang pertemuan para seniman dan pencinta seni, tapi juga ruang untuk mengenalkan dunia visual kepada masyarakat luas, termasuk anak-anak dengan cara yang menyenangkan.
Sebanyak 80 tenant turut meramaikan festival yang sudah memasuki tahun ketiganya ini. Ragam produk seni dan kreatif hadir mulai dari ilustrasi, pernak-pernik, sticker, buku dan baju anak, mainan edukatif, hingga merchandise bertema budaya populer Indonesia.
Baca juga: Menelusuri Evolusi Seni Corat-Coret di Jakarta Doodle Fest 2025
Selain itu, terdapat produk F&B. Kurasi tahun ini juga lebih beragam, menampilkan berbagai gaya mulai dari karakter lucu, tema budaya lokal, hingga ilustrasi bergaya gelap yang eksperimental.
“Kami ingin lebih berwarna. Tahun ini ada tenant yang mengangkat makanan Indonesia, ada juga yang terinspirasi dari perwayangan. Kami percaya pengunjung juga beragam seleranya,” ujar Siti Fatimah Ayu Nindia, Co-founder Jakarta Doodle Fest sekaligus Editor-in-Chief TFR News.
Tak hanya sekadar pasar seni atau art market, JFD 2025 juga menghadirkan area khusus untuk anak di mana anak-anak bebas berkreasi lewat kegiatan interaktif seperti menggambar, face painting, hingga membuat karya kecil mereka sendiri.
Suasana hangat terasa sejak hari pertama. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak, sementara para orang tua tampak menikmati akhir pekan sambil berburu produk ilustrasi karya para ilustrator lokal atau bersantai di zona relaksasi yang turut disediakan. Festival ini memang didesain sebagai ruang yang hidup agar seni tidak lagi terasa eksklusif, melainkan bisa dinikmati siapa saja.
"Kami ingin membuat seni terasa lebih dekat dan mudah diakses. Karena ini pada tahun ini kami sengaja menghadirkan suasana yang JFD yang lebih ramah keluarga,” ujarnya.
Itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan pihak penyelenggara untuk membawa JFD yang pada tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, kini digelar di Senayan City agar lebih inklusif dan menyasar lebih banyak masyarakat dan keluarga.
"Kami melihat banyak pengunjung tahun lalu datang membawa anak. Dari situ, kami sadar pentingnya menghadirkan ruang yang ramah anak dan keluarga," ujar Ayu.
Ke depan JFD akan tetap dilaksanakan di Senayan City. Mall ini menjadi tempat strategis untuk menarik lebih banyak keluarga yang ingin menikmati akhir pekan dengan cara berbeda.
Dengan arus pengunjung yang ramai setiap akhir pekan, Ayu memperkirakan jumlah pengunjung JDF tahun ini mencapai lebih dari 10.000 orang.
Namun bagi Ayu, keberhasilan JDF bukan hanya diukur dari jumlah pengunjung atau penjualan, tetapi dari bagaimana seni bisa lebih diterima masyarakat luas.
“Kami ingin art lebih accessible. Kadang orang merasa takut karena menganggap seni itu rumit. Lewat JDF, kami ingin tunjukkan bahwa seni bisa dinikmati siapa saja bahkan lewat hal sederhana seperti stiker, mainan, atau aktivitas menggambar,” jelasnya.
Salah satu booth yang ramai dikunjungi Hompipah sebuah board game bertema permainan tradisional Indonesia yang dikembangkan oleh Tania, kreator muda lulusan BINUS, jurusan Desain Komunikasi Visual.
Permainan ini terinspirasi dari masa kecil tahun 1980-an, mirip ular tangga tapi dengan sentuhan lokal. Pemain akan menemukan kartu aksi seperti kartu Tahu atau kartu Tempe yang memberi tantangan bermain bekel, congklak, atau suit dengan teman.
“Tujuannya biar anak-anak main bareng tanpa gadget. Dan lucunya, banyak juga orang dewasa yang beli karena kangen masa kecil," tuturnya.
Tak heran, antusiasme terhadap Hompipah luar biasa 10 set yang dibawa ke JDF langsung ludes hanya dalam 15 menit di hari pertama.
Tak kalah menarik, ada juga Bits & Bobs, brand yang menggabungkan humor dan budaya lokal dalam bentuk cendera mata penuh warna. "Bits & Bobs itu toko souvenir Indonesia yang memadukan ilustrasi lokal dengan humor khas Indonesia,” ujar Angela, pendiri Bits & Bobs.
Produk yang dihadirkan beragam, mulai dari gantungan berbentuk jajanan pasar seperti lemper dan pastel, hingga pouch dan tote bag bergambar warung padang, becak, dan KRL. “Yang paling diminati itu gantungan jajanan pasar. Anak-anak suka yang bentuknya lucu, sementara orang dewasa senang karena terasa nostalgia," tuturnya.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
Jakarta Doodle Fest 2025 berhasil menjadi ruang baru bagi keluarga urban untuk healing dengan cara berbeda. Tak perlu jauh-jauh keluar kota, cukup datang ke Senayan City dan nikmati pengalaman bermain, berbelanja, dan berimajinasi bersama di tengah dunia seni yang penuh warna.
“Kalau anak-anak bisa mengenal seni lewat permainan atau kegiatan kreatif, mereka akan tumbuh dengan imajinasi yang luas. Dan bagi orang tua, ini cara seru buat quality time yang bermakna,” ujarnya.
Sebanyak 80 tenant turut meramaikan festival yang sudah memasuki tahun ketiganya ini. Ragam produk seni dan kreatif hadir mulai dari ilustrasi, pernak-pernik, sticker, buku dan baju anak, mainan edukatif, hingga merchandise bertema budaya populer Indonesia.
Baca juga: Menelusuri Evolusi Seni Corat-Coret di Jakarta Doodle Fest 2025
Selain itu, terdapat produk F&B. Kurasi tahun ini juga lebih beragam, menampilkan berbagai gaya mulai dari karakter lucu, tema budaya lokal, hingga ilustrasi bergaya gelap yang eksperimental.
“Kami ingin lebih berwarna. Tahun ini ada tenant yang mengangkat makanan Indonesia, ada juga yang terinspirasi dari perwayangan. Kami percaya pengunjung juga beragam seleranya,” ujar Siti Fatimah Ayu Nindia, Co-founder Jakarta Doodle Fest sekaligus Editor-in-Chief TFR News.
Tak hanya sekadar pasar seni atau art market, JFD 2025 juga menghadirkan area khusus untuk anak di mana anak-anak bebas berkreasi lewat kegiatan interaktif seperti menggambar, face painting, hingga membuat karya kecil mereka sendiri.
Suasana hangat terasa sejak hari pertama. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak, sementara para orang tua tampak menikmati akhir pekan sambil berburu produk ilustrasi karya para ilustrator lokal atau bersantai di zona relaksasi yang turut disediakan. Festival ini memang didesain sebagai ruang yang hidup agar seni tidak lagi terasa eksklusif, melainkan bisa dinikmati siapa saja.
"Kami ingin membuat seni terasa lebih dekat dan mudah diakses. Karena ini pada tahun ini kami sengaja menghadirkan suasana yang JFD yang lebih ramah keluarga,” ujarnya.
Itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan pihak penyelenggara untuk membawa JFD yang pada tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, kini digelar di Senayan City agar lebih inklusif dan menyasar lebih banyak masyarakat dan keluarga.
"Kami melihat banyak pengunjung tahun lalu datang membawa anak. Dari situ, kami sadar pentingnya menghadirkan ruang yang ramah anak dan keluarga," ujar Ayu.
Ke depan JFD akan tetap dilaksanakan di Senayan City. Mall ini menjadi tempat strategis untuk menarik lebih banyak keluarga yang ingin menikmati akhir pekan dengan cara berbeda.
Dengan arus pengunjung yang ramai setiap akhir pekan, Ayu memperkirakan jumlah pengunjung JDF tahun ini mencapai lebih dari 10.000 orang.
Namun bagi Ayu, keberhasilan JDF bukan hanya diukur dari jumlah pengunjung atau penjualan, tetapi dari bagaimana seni bisa lebih diterima masyarakat luas.
“Kami ingin art lebih accessible. Kadang orang merasa takut karena menganggap seni itu rumit. Lewat JDF, kami ingin tunjukkan bahwa seni bisa dinikmati siapa saja bahkan lewat hal sederhana seperti stiker, mainan, atau aktivitas menggambar,” jelasnya.
Salah satu booth yang ramai dikunjungi Hompipah sebuah board game bertema permainan tradisional Indonesia yang dikembangkan oleh Tania, kreator muda lulusan BINUS, jurusan Desain Komunikasi Visual.

Tania Pemilik Hompipah (foto: Dewi Andriani/hypefast)
Permainan ini terinspirasi dari masa kecil tahun 1980-an, mirip ular tangga tapi dengan sentuhan lokal. Pemain akan menemukan kartu aksi seperti kartu Tahu atau kartu Tempe yang memberi tantangan bermain bekel, congklak, atau suit dengan teman.
“Tujuannya biar anak-anak main bareng tanpa gadget. Dan lucunya, banyak juga orang dewasa yang beli karena kangen masa kecil," tuturnya.
Tak heran, antusiasme terhadap Hompipah luar biasa 10 set yang dibawa ke JDF langsung ludes hanya dalam 15 menit di hari pertama.
Tak kalah menarik, ada juga Bits & Bobs, brand yang menggabungkan humor dan budaya lokal dalam bentuk cendera mata penuh warna. "Bits & Bobs itu toko souvenir Indonesia yang memadukan ilustrasi lokal dengan humor khas Indonesia,” ujar Angela, pendiri Bits & Bobs.

Foto: Dewi Andriani
Produk yang dihadirkan beragam, mulai dari gantungan berbentuk jajanan pasar seperti lemper dan pastel, hingga pouch dan tote bag bergambar warung padang, becak, dan KRL. “Yang paling diminati itu gantungan jajanan pasar. Anak-anak suka yang bentuknya lucu, sementara orang dewasa senang karena terasa nostalgia," tuturnya.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
Jakarta Doodle Fest 2025 berhasil menjadi ruang baru bagi keluarga urban untuk healing dengan cara berbeda. Tak perlu jauh-jauh keluar kota, cukup datang ke Senayan City dan nikmati pengalaman bermain, berbelanja, dan berimajinasi bersama di tengah dunia seni yang penuh warna.
“Kalau anak-anak bisa mengenal seni lewat permainan atau kegiatan kreatif, mereka akan tumbuh dengan imajinasi yang luas. Dan bagi orang tua, ini cara seru buat quality time yang bermakna,” ujarnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.