Seni Kanji dan Perjalanan Kreatif Yulius Iskandar Menjaga Legasi Sang Ayah
12 October 2025 |
15:58 WIB
Di balik setiap goresan tinta dan potongan kata yang menenangkan, tersimpan kisah penuh makna tentang cinta, keluarga, dan kreativitas lintas generasi. Begitulah cerita lahirnya Seni Kanji, jenama seni asal Bandung yang memadukan kaligrafi Mandarin dengan ilustrasi bergaya vintage.
Gaya seni ini merupakan hasil kolaborasi unik antara Yulius Iskandar dan mendiang ayahnya, Paulus Supomo. “Saya tuh dari kecil ngelihat papa suka banget ngegambar. Setiap hari, di kertas bekas kalender, kertas kantor yang udah salah print, dia gambar pakai ballpoint. Dari saya bayi pun dia udah rutin menggambar,” kenang Yulius saat ditemui dalam ajang Jakarta Doodle Fest 2025, di Senayan City, Minggu (12/10/2025)
Baca juga: Menelusuri Evolusi Seni Corat-Coret di Jakarta Doodle Fest 2025
Kebiasaan sederhana sang ayah ternyata meninggalkan jejak kuat dalam diri Yulius. Dia tumbuh mencintai seni dan menulis bahkan sering membuat quotes dan jargon pendek yang viral di media sosial hingga akhirnya terpikir olehnya untuk memberi ilustrasi visual pada kata-kata tersebut.
Namun, karena merasa belum percaya diri dengan kemampuan menggambarnya, Yulius akhirnya meminjam “tangan” sang ayah untuk mewujudkan ide-ide kreatif tersebut.
“Kalau saya yang gambar, hasilnya jelek, terutama kalau gambar makhluk hidup. Jadi saya minjem tangannya papa buat ngegambar isi kepala saya. Saya yang bikin kata-kata, papa yang ngilustrasiin," tuturnya.
Kolaborasi ayah dan anak itu kemudian melahirkan Seni Kanji, sebuah proyek visual yang menggabungkan kekuatan teks dan ilustrasi tangan. Karya-karya mereka awalnya diunggah di Instagram pada 2016, namun baru viral pada 2019 lewat Twitter. “Yang retweet lebih dari 10 ribu. Dari situ mulai banyak yang ngajak kolaborasi,” kenangnya.
Dari ruang keluarga di Bandung, Seni Kanji terus menembus pasar secara lebih luas. Kolektor dan pembelinya tidak hanya dari Indonesia tetapi juga datang dari berbagai penjuru dunia Australia, Singapura, Malaysia, Brunei, Taiwan, Hong Kong, hingga Amerika Serikat.
Kini, produk Seni Kanji berkembang menjadi beragam produk mulai dari art print, kalender, t-shirt, parfum hasil kolaborasi, hingga karya di atas kain dan topi.
Tahun 2021 menjadi titik balik emosional bagi Yulius. Sang ayah, Supomo, berpulang pada Juli tahun itu. Namun, karya dan semangatnya tetap hidup dalam setiap produk SeniKanji. “Saya masih mengolah aset gambarnya papa. Karakternya khas banget, itu nggak bisa diganti,” ujarnya.
Untuk beberapa proyek khusus, Yulius menggandeng ilustrator lain, tapi esensi tangan Supomo tetap menjadi jiwa dari Seni Kanji. Gaya khas itu tampak pada perpaduan tipografi Mandarin dan visual minimalis bernuansa vintage, yang sering menyampaikan pesan reflektif tentang hidup dan spiritualitas.
“Banyak yang beli art print-nya terus pasang di kantor, ruang tamu, sampai musola. Karena nggak ada gambar makhluk hidupnya, jadi banyak yang merasa cocok buat ruang ibadah,” cerita Yulius.
Dalam Jakarta Doodle Fest 2025, Seni Kanji menampilkan rilisan eksklusif berupa art print riso hasil kolaborasi dengan Riso Cycle. Kali ini, mereka bermain dengan palet warna baru yakni bright pink dan hero green. “Biasanya kami main di warna biru, hitam, dan merah. Tapi tahun ini saya pilih warna pink dan hijau untuk mendukung kawan-kawan yang sedang memperjuangkan banyak hal di negeri ini,” ujarnya.
Rilisan terbatas ini hanya dibuat 20 piece, dan sebagian besar langsung ludes diburu kolektor. “Seru banget responnya. Banyak kolektor lama yang beli lagi karena feel-nya beda,” tambahnya.
Di antara semua produk Seni Kanji, t-shirt dan art print menjadi primadona dalam ajang Jakarta Doddle Fest tersebut. Kaos bergambar ilustrasi khas mereka dibanderol sekitar Rp150 ribu, dan dapat dibeli langsung melalui Instagram.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
Untuk melindungi karya-karyanya, sejak 2022 Seni Kanji telah terdaftar resmi di HAKI. Menurutnya perlindungan hak cipta sangat pennting bagi seorang seniman karena karakter visual itu identik sama senimannya. "Terinspirasi boleh, tapi kalau meniru plek-plekan, itu pembajakan,” katanya.
Sebagai creative director Seni Kanji, Yulius kini meneruskan semangat sang ayah dengan menjadikan setiap karya sebagai pengingat bahwa seni bisa menjadi warisan hidup. “Selama saya masih hidup, saya akan terus menjaga legasi ini supaya tetap hidup,” ujarnya.
Gaya seni ini merupakan hasil kolaborasi unik antara Yulius Iskandar dan mendiang ayahnya, Paulus Supomo. “Saya tuh dari kecil ngelihat papa suka banget ngegambar. Setiap hari, di kertas bekas kalender, kertas kantor yang udah salah print, dia gambar pakai ballpoint. Dari saya bayi pun dia udah rutin menggambar,” kenang Yulius saat ditemui dalam ajang Jakarta Doodle Fest 2025, di Senayan City, Minggu (12/10/2025)
Baca juga: Menelusuri Evolusi Seni Corat-Coret di Jakarta Doodle Fest 2025
Kebiasaan sederhana sang ayah ternyata meninggalkan jejak kuat dalam diri Yulius. Dia tumbuh mencintai seni dan menulis bahkan sering membuat quotes dan jargon pendek yang viral di media sosial hingga akhirnya terpikir olehnya untuk memberi ilustrasi visual pada kata-kata tersebut.
Namun, karena merasa belum percaya diri dengan kemampuan menggambarnya, Yulius akhirnya meminjam “tangan” sang ayah untuk mewujudkan ide-ide kreatif tersebut.
“Kalau saya yang gambar, hasilnya jelek, terutama kalau gambar makhluk hidup. Jadi saya minjem tangannya papa buat ngegambar isi kepala saya. Saya yang bikin kata-kata, papa yang ngilustrasiin," tuturnya.
Kolaborasi ayah dan anak itu kemudian melahirkan Seni Kanji, sebuah proyek visual yang menggabungkan kekuatan teks dan ilustrasi tangan. Karya-karya mereka awalnya diunggah di Instagram pada 2016, namun baru viral pada 2019 lewat Twitter. “Yang retweet lebih dari 10 ribu. Dari situ mulai banyak yang ngajak kolaborasi,” kenangnya.
Dari ruang keluarga di Bandung, Seni Kanji terus menembus pasar secara lebih luas. Kolektor dan pembelinya tidak hanya dari Indonesia tetapi juga datang dari berbagai penjuru dunia Australia, Singapura, Malaysia, Brunei, Taiwan, Hong Kong, hingga Amerika Serikat.
Kini, produk Seni Kanji berkembang menjadi beragam produk mulai dari art print, kalender, t-shirt, parfum hasil kolaborasi, hingga karya di atas kain dan topi.
Tahun 2021 menjadi titik balik emosional bagi Yulius. Sang ayah, Supomo, berpulang pada Juli tahun itu. Namun, karya dan semangatnya tetap hidup dalam setiap produk SeniKanji. “Saya masih mengolah aset gambarnya papa. Karakternya khas banget, itu nggak bisa diganti,” ujarnya.
Untuk beberapa proyek khusus, Yulius menggandeng ilustrator lain, tapi esensi tangan Supomo tetap menjadi jiwa dari Seni Kanji. Gaya khas itu tampak pada perpaduan tipografi Mandarin dan visual minimalis bernuansa vintage, yang sering menyampaikan pesan reflektif tentang hidup dan spiritualitas.
“Banyak yang beli art print-nya terus pasang di kantor, ruang tamu, sampai musola. Karena nggak ada gambar makhluk hidupnya, jadi banyak yang merasa cocok buat ruang ibadah,” cerita Yulius.
Dalam Jakarta Doodle Fest 2025, Seni Kanji menampilkan rilisan eksklusif berupa art print riso hasil kolaborasi dengan Riso Cycle. Kali ini, mereka bermain dengan palet warna baru yakni bright pink dan hero green. “Biasanya kami main di warna biru, hitam, dan merah. Tapi tahun ini saya pilih warna pink dan hijau untuk mendukung kawan-kawan yang sedang memperjuangkan banyak hal di negeri ini,” ujarnya.
Rilisan terbatas ini hanya dibuat 20 piece, dan sebagian besar langsung ludes diburu kolektor. “Seru banget responnya. Banyak kolektor lama yang beli lagi karena feel-nya beda,” tambahnya.
Di antara semua produk Seni Kanji, t-shirt dan art print menjadi primadona dalam ajang Jakarta Doddle Fest tersebut. Kaos bergambar ilustrasi khas mereka dibanderol sekitar Rp150 ribu, dan dapat dibeli langsung melalui Instagram.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
Untuk melindungi karya-karyanya, sejak 2022 Seni Kanji telah terdaftar resmi di HAKI. Menurutnya perlindungan hak cipta sangat pennting bagi seorang seniman karena karakter visual itu identik sama senimannya. "Terinspirasi boleh, tapi kalau meniru plek-plekan, itu pembajakan,” katanya.
Sebagai creative director Seni Kanji, Yulius kini meneruskan semangat sang ayah dengan menjadikan setiap karya sebagai pengingat bahwa seni bisa menjadi warisan hidup. “Selama saya masih hidup, saya akan terus menjaga legasi ini supaya tetap hidup,” ujarnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.