Menelusuri Evolusi Seni Corat-Coret di Jakarta Doodle Fest 2025
11 October 2025 |
12:45 WIB
Pada mulanya, doodle art hanya dianggap sebagai coretan iseng tanpa arah yang dibuat seseorang di pinggir buku tulisnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, bentuk gambar sederhana ini berkembang menjadi ekspresi seni yang makin diakui oleh publik dan pencinta seni visual.
Kepopuleran doodle art meningkat tajam berkat kemudahan berbagi karya melalui media sosial seperti Instagram. Dari situ, terbentuklah komunitas global yang saling memberi inspirasi dan dukungan antarseniman.
Kini, semakin banyak komunitas yang rutin menggelar kegiatan seperti gambar bareng maupun berbagai kompetisi doodle art. Seiring ekosistemnya yang terbentuk, sejumlah kegiatan art market yang khusus menyoroti bentuk seni ini pun juga bermunculan, salah satunya adalah Jakarta Doodle Fest 2025.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
Seniman Nadya Noor mengatakan secara umum doodle art merupakan gaya menggambar yang bebas, spontan, dan tidak selalu direncanakan. Hasilnya bisa berupa pola abstrak, bentuk-bentuk unik, atau ilustrasi menarik yang merefleksikan ekspresi pribadi pembuatnya.
Nadya menyebut banyak seniman doodle masih memulai perjalanan mereka dari hobi sederhana, seperti kebiasaan menggambar atau membuat coretan sejak kecil. Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk kesenangan pribadi itu lama-kelamaan berkembang seiring dengan bertemunya karya-karya tersebut dengan para penggemar di media sosial.
Dari sekadar coretan iseng, gambar-gambar itu kemudian tumbuh menjadi karakter yang memiliki identitas sendiri. Beberapa bahkan berkembang menjadi bentuk visual yang lebih kompleks seperti cerita, kartun, atau animasi, hingga akhirnya diproduksi dan dijual sebagai merchandise yang bernilai komersial.
“Ternyata ada potensi doodle itu untuk diapresiasi lebih, bahkan bisa menjadi mata pencaharian,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan media sosial yang pesat membuka ruang baru bagi seniman untuk menampilkan karya mereka ke publik yang lebih luas. Nadya menilai bahwa media sosial memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem seni doodle masa kini.
Melalui berbagai platform media sosial, karya yang dulunya hanya dibuat untuk kesenangan pribadi kini bisa dikenal, diapresiasi, bahkan dibeli oleh banyak orang. Hal ini menunjukkan bagaimana dunia digital telah mengubah cara seniman berinteraksi dengan audiens dan memonetisasi kreativitas mereka.
Di luar itu, dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada ekosistem industri kreatif yang terus menyesuaikan diri dan pada akhirnya memberikan ruang bagi seniman doodle art untuk menampilkan karya mereka. Ajang seperti Jakarta Doodle Fest menjadi contoh nyata dari wadah yang mendorong kolaborasi, apresiasi, dan peluang baru bagi para seniman doodle.
Secara aplikasi karya pun makin berkembang. Nadya menyebut coretan gambarnya tak hanya sebatas jadi art print, tetapi juga bisa diaplikasikan ke medium lain, termasuk ke home decor.
Kendati demikian, Nadya menggarisbawahi bahwa produk-produk yang muncul di JDF 2025 juga tak bisa serta merta dibandingkan produk industri pada umumnya. Seni doodle, katanya, masih berakar pada ekspresi personal antara seniman dan karya, bukan semata urusan bisnis atau produksi massal.
Karenanya, keberadaan festival dan art market semacam ini dianggap sangat membantu para seniman. Mereka dapat menyalurkan ide, menjual merchandise hasil karya ketika sedang bersemangat berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan dari kreativitas.
Co-founder Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025, Christine Laifa, menyampaikan bahwa perhelatan tahun ini menghadirkan lebih dari 70 seniman doodle. Tahun ini, festival juga menawarkan konsep baru yang lebih menarik. Festival tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga memadukannya dengan unsur pertunjukan untuk menciptakan pengalaman yang lebih hidup bagi para pengunjung.
Menurut Christine, fokus utama JDF 2025 adalah memberikan variasi program agar pengunjung tidak sekadar datang untuk berbelanja produk, tetapi juga bisa merasakan pengalaman seni yang lebih menyeluruh. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap perubahan pasar dan antusiasme publik terhadap seni doodle yang semakin luas.
Dia menjelaskan pada penyelenggaraan sebelumnya, sebagian besar pengunjung JDF berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Namun, yang menarik, kata Christine, festival ini juga mulai menarik perhatian anak-anak dan keluarga. “Ternyata banyak anak-anak yang juga tertarik, jadi keluarga juga datang ke sini,” ujarnya.
Untuk itu, tahun ini JDF menghadirkan berbagai program yang lebih inklusif dan interaktif. “Kami ingin pengunjung bisa melihat lebih banyak, bukan hanya stiker atau art print seperti yang sudah umum. Tahun ini ada program musikal, Little Doodle for Kids, peluncuran brand frame untuk art print, hingga instalasi kolaboratif,” tutur Christine.
Dengan beragam program baru dan partisipasi puluhan seniman, penyelenggara optimistis Jakarta Doodle Fest 2025 akan menarik lebih banyak pengunjung dibanding tahun sebelumnya. Targetnya, sekitar 10.000 hingga 20.000 orang akan hadir selama empat hari penyelenggaraan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kepopuleran doodle art meningkat tajam berkat kemudahan berbagi karya melalui media sosial seperti Instagram. Dari situ, terbentuklah komunitas global yang saling memberi inspirasi dan dukungan antarseniman.
Kini, semakin banyak komunitas yang rutin menggelar kegiatan seperti gambar bareng maupun berbagai kompetisi doodle art. Seiring ekosistemnya yang terbentuk, sejumlah kegiatan art market yang khusus menyoroti bentuk seni ini pun juga bermunculan, salah satunya adalah Jakarta Doodle Fest 2025.
Baca juga: Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor

Pengunjung melihat produk di Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025 di Jakarta, Kamis (9/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Nadya menyebut banyak seniman doodle masih memulai perjalanan mereka dari hobi sederhana, seperti kebiasaan menggambar atau membuat coretan sejak kecil. Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk kesenangan pribadi itu lama-kelamaan berkembang seiring dengan bertemunya karya-karya tersebut dengan para penggemar di media sosial.
Dari sekadar coretan iseng, gambar-gambar itu kemudian tumbuh menjadi karakter yang memiliki identitas sendiri. Beberapa bahkan berkembang menjadi bentuk visual yang lebih kompleks seperti cerita, kartun, atau animasi, hingga akhirnya diproduksi dan dijual sebagai merchandise yang bernilai komersial.
“Ternyata ada potensi doodle itu untuk diapresiasi lebih, bahkan bisa menjadi mata pencaharian,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan media sosial yang pesat membuka ruang baru bagi seniman untuk menampilkan karya mereka ke publik yang lebih luas. Nadya menilai bahwa media sosial memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem seni doodle masa kini.
Melalui berbagai platform media sosial, karya yang dulunya hanya dibuat untuk kesenangan pribadi kini bisa dikenal, diapresiasi, bahkan dibeli oleh banyak orang. Hal ini menunjukkan bagaimana dunia digital telah mengubah cara seniman berinteraksi dengan audiens dan memonetisasi kreativitas mereka.
Di luar itu, dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada ekosistem industri kreatif yang terus menyesuaikan diri dan pada akhirnya memberikan ruang bagi seniman doodle art untuk menampilkan karya mereka. Ajang seperti Jakarta Doodle Fest menjadi contoh nyata dari wadah yang mendorong kolaborasi, apresiasi, dan peluang baru bagi para seniman doodle.
Secara aplikasi karya pun makin berkembang. Nadya menyebut coretan gambarnya tak hanya sebatas jadi art print, tetapi juga bisa diaplikasikan ke medium lain, termasuk ke home decor.
Kendati demikian, Nadya menggarisbawahi bahwa produk-produk yang muncul di JDF 2025 juga tak bisa serta merta dibandingkan produk industri pada umumnya. Seni doodle, katanya, masih berakar pada ekspresi personal antara seniman dan karya, bukan semata urusan bisnis atau produksi massal.
Karenanya, keberadaan festival dan art market semacam ini dianggap sangat membantu para seniman. Mereka dapat menyalurkan ide, menjual merchandise hasil karya ketika sedang bersemangat berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan dari kreativitas.
Co-founder Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025, Christine Laifa, menyampaikan bahwa perhelatan tahun ini menghadirkan lebih dari 70 seniman doodle. Tahun ini, festival juga menawarkan konsep baru yang lebih menarik. Festival tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga memadukannya dengan unsur pertunjukan untuk menciptakan pengalaman yang lebih hidup bagi para pengunjung.
Menurut Christine, fokus utama JDF 2025 adalah memberikan variasi program agar pengunjung tidak sekadar datang untuk berbelanja produk, tetapi juga bisa merasakan pengalaman seni yang lebih menyeluruh. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap perubahan pasar dan antusiasme publik terhadap seni doodle yang semakin luas.

Pengunjung melihat produk di Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025 di Jakarta, Kamis (9/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Untuk itu, tahun ini JDF menghadirkan berbagai program yang lebih inklusif dan interaktif. “Kami ingin pengunjung bisa melihat lebih banyak, bukan hanya stiker atau art print seperti yang sudah umum. Tahun ini ada program musikal, Little Doodle for Kids, peluncuran brand frame untuk art print, hingga instalasi kolaboratif,” tutur Christine.
Dengan beragam program baru dan partisipasi puluhan seniman, penyelenggara optimistis Jakarta Doodle Fest 2025 akan menarik lebih banyak pengunjung dibanding tahun sebelumnya. Targetnya, sekitar 10.000 hingga 20.000 orang akan hadir selama empat hari penyelenggaraan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.