Dzikra Afifah dan Ingatan Purba tentang Pengorbanan di Art Jakarta 2025
05 October 2025 |
12:59 WIB
1
Like
Like
Like
Seniman Dzikra Afifah kembali menunjukkan ketertarikannya pada tema paradoks tentang kekuatan dan kerapuhan di Art Jakarta 2025. Karya instalasinya yang memadukan figur utama dengan potongan tubuh di dinding, berhasil memikat lewat permainan visual yang kuat.
Melalui medium keramik, Dzikra bermain dengan tanah liat yang dikenal rewel dan penuh ketidakpastian. Retakan, bengkokan, bahkan potensi runtuh selalu menghantui prosesnya. Akan tetapi, ia justru merangkul kerentanan itu, menjadikannya bagian penting dari cerita yang ingin dibangun.
Judul karya ini, Dismembered: The Opposite of Fear, membuka pintu ke dalam dunia yang penuh paradoks. Retakan dan kehancuran tak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai energi baru untuk melahirkan bentuk-bentuk lain.
Pada dinding merah di belakang, potongan-potongan menyerupai tubuh manusia seakan melayang. Mereka menambah lapisan cerita tentang pengorbanan dan keterpisahan, seolah tubuh yang tercerai-berai bisa tetap meninggalkan jejak dan ingatan.
Baca juga: Peserta Jalan Bareng Genhype Antusias Nikmati Karya Seni di Art Jakarta 2025
Karya Dzikra mengeksplorasi ingatan purba tentang “pengorbanan” sebagai respons manusia terhadap rasa takut akan kekacauan dan ketidakpastian alam.
Sosok dewi yang berdiri di tengah lingkaran putih bukan sekadar figur estetis, melainkan representasi ambivalen, seorang pengasuh sekaligus predator, manifestasi dari memori kuno tentang kekuatan supranatural yang merawat sambil meminta pengorbanan.
Menariknya, Dzikra juga menambahkan bentuk-bentuk hibrida yang sulit didefinisikan. Kehadiran mereka menciptakan ketidakpastian visual sekaligus mematahkan kategori-kategori baku yang selama ini membatasi cara kita memahami tubuh dan identitas.
Dengan caranya sendiri, Dzikra Afifah berhasil mengajak kita menengok ulang hubungan manusia dengan rasa takut, dengan ingatan leluhur, dan dengan kondisi dunia yang selalu penuh ketidakpastian.
"Jadi, fear atau ketakutan itu saya ambil dari kelekatan emosionalku ketika berinteraksi sama tanah liat. Tanah liat itu kan materialnya enggak stabil ya, dan ketika dibangun dengan ukuran yang cukup masif, strukturnya sebenarnya rapuh," ungkap Dzikra.
Setiap kali bekerja dengan tanah liat, Dzikra Afifah mengaku selalu dihantui rasa cemas. Material yang rapuh dan tidak stabil membuat karyanya berisiko runtuh atau hancur kapan saja. Namun, justru dari ketakutan itulah lahir bentuk-bentuk baru yang khas, yang kemudian membawanya pada penafsiran mendalam terhadap sosok Dewi Kali.
Bagi Dzikra, figur Kali begitu memikat karena tidak hadir sebagaimana dewi pada umumnya. Dalam mitologi purba, ia digambarkan dengan wajah garang, bibir berlumuran darah, serta ular yang melilit tubuhnya yang menjadi simbol-simbol yang memperlihatkan daya predatoris yang kuat dan menakutkan.
Visual yang agresif ini menurut Dzikra sangat relevan untuk menggambarkan ketakutan paling mendasar dalam diri manusia. Ia menekankan bahwa pada dasarnya manusia bukanlah predator utama, melainkan makhluk rapuh yang bisa dimangsa oleh hewan-hewan besar. Ketakutan untuk tercabik predator itulah yang melekat dalam ingatan kolektif.
Lebih jauh, Dzikra melihat ketakutan terhadap predator ini justru membentuk hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi, baik dewa, dewi, maupun Tuhan. Dalam banyak kebudayaan, hubungan itu hampir selalu diwujudkan lewat ritual pengorbanan berdarah, terutama melalui hewan-hewan yang menjadi simbol mangsa.
“Dari hal yang sifatnya praktikal, ketakutan itu, ketakutan yang mentah, tiba-tiba bisa membawaku pada kaitan-kaitannya sama sejarah, refleksi, dan lain sebagainya,” kata Dzikra.
Hal ini pula yang kemudian mengantarkannya menciptakan bentuk-bentuk hibrida. Baginya, wujud 'siluman' tersebut mencerminkan rasa takut manusia terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami.
Manusia cenderung merasa lebih aman ketika berhadapan dengan sesuatu yang mirip dengan dirinya sendiri. Karena itu, sosok-sosok seperti siluman justru menjadi refleksi dari ketakutan manusia, bukan karena mereka memiliki kekuatan istimewa, melainkan karena keberadaannya sulit didefinisikan secara jelas.
Karya Dzikra pada akhirnya mengingatkan bahwa rasa takut bukanlah sesuatu yang perlu dihindari, melainkan energi yang bisa melahirkan bentuk, makna, dan tafsir baru. Justru dalam kerentanan material dan proses itulah seni menemukan kekuatannya.
Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manajemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025.
Baca juga: Budi Pradono Luncurkan Buku Omah Tanah di Art Jakarta 2025, Arsitektur Berkelanjutan dari Material Tradisional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui medium keramik, Dzikra bermain dengan tanah liat yang dikenal rewel dan penuh ketidakpastian. Retakan, bengkokan, bahkan potensi runtuh selalu menghantui prosesnya. Akan tetapi, ia justru merangkul kerentanan itu, menjadikannya bagian penting dari cerita yang ingin dibangun.
Judul karya ini, Dismembered: The Opposite of Fear, membuka pintu ke dalam dunia yang penuh paradoks. Retakan dan kehancuran tak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai energi baru untuk melahirkan bentuk-bentuk lain.
Pada dinding merah di belakang, potongan-potongan menyerupai tubuh manusia seakan melayang. Mereka menambah lapisan cerita tentang pengorbanan dan keterpisahan, seolah tubuh yang tercerai-berai bisa tetap meninggalkan jejak dan ingatan.
Baca juga: Peserta Jalan Bareng Genhype Antusias Nikmati Karya Seni di Art Jakarta 2025
_crop.jpg)
Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manajemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025 (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sosok dewi yang berdiri di tengah lingkaran putih bukan sekadar figur estetis, melainkan representasi ambivalen, seorang pengasuh sekaligus predator, manifestasi dari memori kuno tentang kekuatan supranatural yang merawat sambil meminta pengorbanan.
Menariknya, Dzikra juga menambahkan bentuk-bentuk hibrida yang sulit didefinisikan. Kehadiran mereka menciptakan ketidakpastian visual sekaligus mematahkan kategori-kategori baku yang selama ini membatasi cara kita memahami tubuh dan identitas.
Dengan caranya sendiri, Dzikra Afifah berhasil mengajak kita menengok ulang hubungan manusia dengan rasa takut, dengan ingatan leluhur, dan dengan kondisi dunia yang selalu penuh ketidakpastian.
"Jadi, fear atau ketakutan itu saya ambil dari kelekatan emosionalku ketika berinteraksi sama tanah liat. Tanah liat itu kan materialnya enggak stabil ya, dan ketika dibangun dengan ukuran yang cukup masif, strukturnya sebenarnya rapuh," ungkap Dzikra.
Setiap kali bekerja dengan tanah liat, Dzikra Afifah mengaku selalu dihantui rasa cemas. Material yang rapuh dan tidak stabil membuat karyanya berisiko runtuh atau hancur kapan saja. Namun, justru dari ketakutan itulah lahir bentuk-bentuk baru yang khas, yang kemudian membawanya pada penafsiran mendalam terhadap sosok Dewi Kali.
Bagi Dzikra, figur Kali begitu memikat karena tidak hadir sebagaimana dewi pada umumnya. Dalam mitologi purba, ia digambarkan dengan wajah garang, bibir berlumuran darah, serta ular yang melilit tubuhnya yang menjadi simbol-simbol yang memperlihatkan daya predatoris yang kuat dan menakutkan.
Visual yang agresif ini menurut Dzikra sangat relevan untuk menggambarkan ketakutan paling mendasar dalam diri manusia. Ia menekankan bahwa pada dasarnya manusia bukanlah predator utama, melainkan makhluk rapuh yang bisa dimangsa oleh hewan-hewan besar. Ketakutan untuk tercabik predator itulah yang melekat dalam ingatan kolektif.
Lebih jauh, Dzikra melihat ketakutan terhadap predator ini justru membentuk hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi, baik dewa, dewi, maupun Tuhan. Dalam banyak kebudayaan, hubungan itu hampir selalu diwujudkan lewat ritual pengorbanan berdarah, terutama melalui hewan-hewan yang menjadi simbol mangsa.
“Dari hal yang sifatnya praktikal, ketakutan itu, ketakutan yang mentah, tiba-tiba bisa membawaku pada kaitan-kaitannya sama sejarah, refleksi, dan lain sebagainya,” kata Dzikra.
_crop.jpg)
Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manajemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025 (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Manusia cenderung merasa lebih aman ketika berhadapan dengan sesuatu yang mirip dengan dirinya sendiri. Karena itu, sosok-sosok seperti siluman justru menjadi refleksi dari ketakutan manusia, bukan karena mereka memiliki kekuatan istimewa, melainkan karena keberadaannya sulit didefinisikan secara jelas.
Karya Dzikra pada akhirnya mengingatkan bahwa rasa takut bukanlah sesuatu yang perlu dihindari, melainkan energi yang bisa melahirkan bentuk, makna, dan tafsir baru. Justru dalam kerentanan material dan proses itulah seni menemukan kekuatannya.
Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manajemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025.
Baca juga: Budi Pradono Luncurkan Buku Omah Tanah di Art Jakarta 2025, Arsitektur Berkelanjutan dari Material Tradisional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.