Dari Liburan hingga Gadget, Experience Economy Jadi Tren Baru Konsumsi
24 September 2025 |
20:30 WIB
Belakangan ini, fenomena experience economy kian menonjol dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Konsep ini menggambarkan pergeseran belanja masyarakat dari sekadar kebutuhan pokok menuju barang dan jasa yang menghadirkan pengalaman mulai dari wisata, leisure, hingga gadget.
Meski daya beli masyarakat disebut-sebut mengalami penurunan, akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, porsi konsumsi untuk leisure dan pengalaman terus memperlihatkan peningkatan minat yang tajam.
Baca juga: Liburan dan Konser Jadi Prioritas, Experience Economy Makin Menguat di 2025
Laporan LokadataID berjudul Pola Perilaku Konsumen Muda: Liburan, Hiburan, dan Peraduan bahkan menyebut periode 2022-2025 sebagai ledakan pengalaman. Fenomena ini ditandai dengan maraknya revenge travel yang memicu lonjakan perjalanan wisata.
Selain itu, konser musik internasional juga menjadi magnet baru yang makin mendorong fenomena ini. Keduanya melahirkan istilah gig-tripping, di mana perjalanan dilakukan khusus untuk menghadiri konser atau festival musik.
Pengamat Ekonomi CELIOS Nailul Huda menilai tren tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian pada leisure economy. “Yang paling dekat dengan experience economy mungkin leisure economy, di mana konsumsi barang-barang leisure seperti pariwisata hingga gadget terus meningkat,” ujarnya.
Data memperkuat pandangan itu. Pangsa konsumsi untuk leisure dan experience economy pada 2021 tercatat sekitar 30%. Namun, pada 2024 angkanya naik menjadi 32,38%. Nailul menilai tren ini sebagai sinyal kuat bahwa permintaan terhadap barang dan jasa berbasis pengalaman akan terus berkembang. Bahkan hal ini juga berpotensi akan berlanjut dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Pergeseran preferensi konsumsi menjadi faktor kunci. Masyarakat kini tidak hanya mengejar pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan juga mencari pengalaman dengan nilai emosional. Kesadaran terhadap kesehatan mental ikut memperkuat arah konsumsi baru ini terutama di kalangan milenial dan Gen Z.
“Orang juga sudah mulai aware terhadap kesehatan mental, terutama digawangi oleh generasi milenial dan Gen Z,” ujar Nailul.
Arus informasi yang deras turut mempercepat laju experience economy. Dengan akses digital, masyarakat lebih mudah mengenal destinasi wisata baru, memahami cara mengurus paspor, hingga mengikuti perkembangan teknologi gadget. Hal ini membuka ruang lebih luas bagi produk dan layanan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Untuk memaksimalkan dampak positifnya, Nailul menekankan pentingnya peran pemerintah. Dukungan bisa diberikan dengan memperkuat produk dan jasa dalam negeri. Pengembangan pariwisata domestik, misalnya, dapat menjawab kebutuhan healing masyarakat, sementara produksi gadget lokal berpotensi menjadi alternatif menarik bagi generasi muda yang haus akan inovasi.
Ke depan, experience economy diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Nailul menegaskan, tren ini juga menjadi alarm bagi pelaku industri untuk beradaptasi. Inovasi dalam menciptakan pengalaman yang bernilai akan menjadi kunci, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga membangun daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Meski daya beli masyarakat disebut-sebut mengalami penurunan, akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, porsi konsumsi untuk leisure dan pengalaman terus memperlihatkan peningkatan minat yang tajam.
Baca juga: Liburan dan Konser Jadi Prioritas, Experience Economy Makin Menguat di 2025
Laporan LokadataID berjudul Pola Perilaku Konsumen Muda: Liburan, Hiburan, dan Peraduan bahkan menyebut periode 2022-2025 sebagai ledakan pengalaman. Fenomena ini ditandai dengan maraknya revenge travel yang memicu lonjakan perjalanan wisata.
Selain itu, konser musik internasional juga menjadi magnet baru yang makin mendorong fenomena ini. Keduanya melahirkan istilah gig-tripping, di mana perjalanan dilakukan khusus untuk menghadiri konser atau festival musik.
Pengamat Ekonomi CELIOS Nailul Huda menilai tren tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian pada leisure economy. “Yang paling dekat dengan experience economy mungkin leisure economy, di mana konsumsi barang-barang leisure seperti pariwisata hingga gadget terus meningkat,” ujarnya.
Data memperkuat pandangan itu. Pangsa konsumsi untuk leisure dan experience economy pada 2021 tercatat sekitar 30%. Namun, pada 2024 angkanya naik menjadi 32,38%. Nailul menilai tren ini sebagai sinyal kuat bahwa permintaan terhadap barang dan jasa berbasis pengalaman akan terus berkembang. Bahkan hal ini juga berpotensi akan berlanjut dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Pergeseran preferensi konsumsi menjadi faktor kunci. Masyarakat kini tidak hanya mengejar pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan juga mencari pengalaman dengan nilai emosional. Kesadaran terhadap kesehatan mental ikut memperkuat arah konsumsi baru ini terutama di kalangan milenial dan Gen Z.
“Orang juga sudah mulai aware terhadap kesehatan mental, terutama digawangi oleh generasi milenial dan Gen Z,” ujar Nailul.
Arus informasi yang deras turut mempercepat laju experience economy. Dengan akses digital, masyarakat lebih mudah mengenal destinasi wisata baru, memahami cara mengurus paspor, hingga mengikuti perkembangan teknologi gadget. Hal ini membuka ruang lebih luas bagi produk dan layanan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Untuk memaksimalkan dampak positifnya, Nailul menekankan pentingnya peran pemerintah. Dukungan bisa diberikan dengan memperkuat produk dan jasa dalam negeri. Pengembangan pariwisata domestik, misalnya, dapat menjawab kebutuhan healing masyarakat, sementara produksi gadget lokal berpotensi menjadi alternatif menarik bagi generasi muda yang haus akan inovasi.
Ke depan, experience economy diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Nailul menegaskan, tren ini juga menjadi alarm bagi pelaku industri untuk beradaptasi. Inovasi dalam menciptakan pengalaman yang bernilai akan menjadi kunci, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga membangun daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.