Waspada Risiko Serius Mengintai di Balik Tren Edit Foto Pakai AI
18 September 2025 |
16:56 WIB
Fenomena penggunaan teknologi artificial intelligence (AI) dalam pengeditan foto kini menjadi tren yang semakin populer di media sosial. Masyarakat berlomba-lomba menciptakan potret diri dengan gaya elegan, sinematik, hingga artistik. Ada yang membuat foto polaroid seolah berpose bersama artis pujaan atau tokoh ternama.
Lebih jauh lagi, tidak sedikit yang berkreasi menjadikan potret diri sebagai miniatur atau figur dengan bantuan teknologi AI. Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan, tren ini memang memberi kesenangan estetik, sekaligus membuka ruang baru dalam ekspresi digital. Namun di balik euforia tersebut, terdapat potensi risiko kejahatan siber yang patut diwaspadai.
“Terutama karena teknologi AI yang digunakan memerlukan akses ke data pribadi pengguna, dalam hal ini foto wajah, metadata, serta terkadang informasi akun yang digunakan untuk autentikasi,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Kamis (18/9/2025).
Baca juga: 10 Ide Prompt Gemini AI Buat Foto Keluarga
Salah satu risiko paling nyata kata Pratama adalah penyalahgunaan data biometrik wajah. Foto hasil unggahan pengguna bisa disimpan oleh aplikasi atau platform, lalu dimanfaatkan untuk keperluan yang tidak pernah disetuju.
Foto tersebut bisa dimanfaatkan para penjahat siber untuk pembuatan deepfake pornografi, manipulasi identitas, hingga rekayasa sosial yang lebih canggih. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kasus deepfake secara global, di mana wajah individu diintegrasikan ke dalam konten palsu yang merugikan reputasi korban.
Selain itu, penyedia aplikasi AI yang tidak kredibel berpotensi menjadi ladang pengumpulan data massal yang dapat dijual di pasar gelap digital. Pratama menjelaskan, data yang tampak sepele seperti wajah dan gaya rambut seseorang dapat dipadukan dengan informasi lain untuk menciptakan profil lengkap yang bisa dipakai dalam serangan phishing yang lebih meyakinkan.
Risiko lainnya adalah adanya malware terselubung dalam aplikasi edit foto berbasis AI. Tidak semua aplikasi yang beredar di toko aplikasi resmi maupun situs web memiliki tingkat keamanan yang baik.
Beberapa di antaranya bisa menyisipkan kode berbahaya yang diam-diam mengakses kamera, mikrofon, bahkan file pribadi pengguna. Ada pula kemungkinan aplikasi meminta izin berlebihan seperti lokasi atau akses kontak yang tidak relevan dengan kebutuhan pengeditan foto.
Menurutnya, ini memperluas potensi eksploitasi data pribadi dan membuka jalan bagi pencurian identitas. Lebih jauh, tren berbagi hasil foto AI di media sosial juga menimbulkan risiko lain berupa doxing. “Wajah dan data pribadi yang dipamerkan secara terbuka dapat digunakan pihak tertentu untuk melacak identitas pengguna di dunia nyata,” jelas Pratama.
Kendati demikian, penggunaan AI dalam pengeditan foto menurut Pratama bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Hanya saja, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran keamanan digital.
Baca juga: 10 Contoh Prompt Gemini AI Foto Sendiri di Lift, Studio, hingga Wisuda
Pemilihan aplikasi yang aman dan transparan menjadi langkah pertama. Pengguna sebaiknya hanya mengunduh aplikasi dari penyedia terpercaya dengan reputasi baik serta membaca ulasan dan kebijakan privasi sebelum mengunggah foto.
Penting juga untuk menghindari penggunaan foto yang terlalu sensitif, misalnya dokumen resmi atau pose yang berpotensi disalahgunakan. Selain itu, disarankan agar pengguna tidak menghubungkan aplikasi edit foto AI dengan akun utama media sosial, melainkan menggunakan email sekunder atau akun terpisah untuk meminimalisasi potensi kebocoran.
Lebih jauh lagi, tidak sedikit yang berkreasi menjadikan potret diri sebagai miniatur atau figur dengan bantuan teknologi AI. Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan, tren ini memang memberi kesenangan estetik, sekaligus membuka ruang baru dalam ekspresi digital. Namun di balik euforia tersebut, terdapat potensi risiko kejahatan siber yang patut diwaspadai.
“Terutama karena teknologi AI yang digunakan memerlukan akses ke data pribadi pengguna, dalam hal ini foto wajah, metadata, serta terkadang informasi akun yang digunakan untuk autentikasi,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Kamis (18/9/2025).
Baca juga: 10 Ide Prompt Gemini AI Buat Foto Keluarga
Salah satu risiko paling nyata kata Pratama adalah penyalahgunaan data biometrik wajah. Foto hasil unggahan pengguna bisa disimpan oleh aplikasi atau platform, lalu dimanfaatkan untuk keperluan yang tidak pernah disetuju.
Foto tersebut bisa dimanfaatkan para penjahat siber untuk pembuatan deepfake pornografi, manipulasi identitas, hingga rekayasa sosial yang lebih canggih. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kasus deepfake secara global, di mana wajah individu diintegrasikan ke dalam konten palsu yang merugikan reputasi korban.
Selain itu, penyedia aplikasi AI yang tidak kredibel berpotensi menjadi ladang pengumpulan data massal yang dapat dijual di pasar gelap digital. Pratama menjelaskan, data yang tampak sepele seperti wajah dan gaya rambut seseorang dapat dipadukan dengan informasi lain untuk menciptakan profil lengkap yang bisa dipakai dalam serangan phishing yang lebih meyakinkan.
Risiko lainnya adalah adanya malware terselubung dalam aplikasi edit foto berbasis AI. Tidak semua aplikasi yang beredar di toko aplikasi resmi maupun situs web memiliki tingkat keamanan yang baik.
Beberapa di antaranya bisa menyisipkan kode berbahaya yang diam-diam mengakses kamera, mikrofon, bahkan file pribadi pengguna. Ada pula kemungkinan aplikasi meminta izin berlebihan seperti lokasi atau akses kontak yang tidak relevan dengan kebutuhan pengeditan foto.
Menurutnya, ini memperluas potensi eksploitasi data pribadi dan membuka jalan bagi pencurian identitas. Lebih jauh, tren berbagi hasil foto AI di media sosial juga menimbulkan risiko lain berupa doxing. “Wajah dan data pribadi yang dipamerkan secara terbuka dapat digunakan pihak tertentu untuk melacak identitas pengguna di dunia nyata,” jelas Pratama.
Kendati demikian, penggunaan AI dalam pengeditan foto menurut Pratama bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Hanya saja, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran keamanan digital.
Baca juga: 10 Contoh Prompt Gemini AI Foto Sendiri di Lift, Studio, hingga Wisuda
Pemilihan aplikasi yang aman dan transparan menjadi langkah pertama. Pengguna sebaiknya hanya mengunduh aplikasi dari penyedia terpercaya dengan reputasi baik serta membaca ulasan dan kebijakan privasi sebelum mengunggah foto.
Penting juga untuk menghindari penggunaan foto yang terlalu sensitif, misalnya dokumen resmi atau pose yang berpotensi disalahgunakan. Selain itu, disarankan agar pengguna tidak menghubungkan aplikasi edit foto AI dengan akun utama media sosial, melainkan menggunakan email sekunder atau akun terpisah untuk meminimalisasi potensi kebocoran.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.