Mengenal Sindrom Peter Pan, Ketika Tanggung Jawab Dewasa Terasa Terlalu Berat
02 September 2025 |
09:30 WIB
Hidup dewasa berarti bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan membangun hubungan matang. Namun, sebagian orang memilih tetap terjebak dalam kenyamanan masa muda, kondisi yang dikenal sebagai sindrom Peter Pan, terinspirasi dari tokoh fiksi yang menolak tumbuh besar.
Psikolog Dan Kiley memperkenalkan istilah ini dalam bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up (1983). Ia menggambarkan orang-orang yang sulit mengelola tuntutan kedewasaan, mulai dari urusan pekerjaan, hubungan sosial, hingga kehidupan romantis.
Baca juga: Mengenal NPD, Gangguan Kepribadian yang Kerap Disalahartikan dengan Sikap Narsis
Kiley kemudian menerbitkan The Wendy Dilemma (1985), yang membahas kesulitan pasangan romantis yang menjalani hubungan dengan “Peter Pan”, sosok yang enggan memikul tanggung jawab dewasa, sehingga pasangannya harus menanggung beban yang ditinggalkan.
Pada awalnya, penelitian Kiley banyak dipengaruhi pandangan patriarkal tentang gender dan seksualitas. Sindrom Peter Pan digambarkan khusus pada pria dan hubungan heteroseksual. Namun, pandangan modern menegaskan bahwa perilaku ini bisa dialami siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin atau orientasi seksual.
Sindrom Peter Pan bukanlah diagnosis medis resmi. Istilah ini digunakan secara informal oleh sejumlah psikolog untuk menjelaskan perilaku tertentu, bukan kondisi yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) maupun lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Kiley mencatat bahwa gejala sindrom ini biasanya mulai tampak di usia 11–12 tahun dan semakin jelas ketika memasuki masa remaja. Beberapa ahli menduga, pola asuh yang terlalu melindungi anak dapat menjadi salah satu faktor pemicu. Anak yang dibesarkan tanpa kesempatan menghadapi tantangan hidup nyata cenderung tumbuh tanpa keterampilan mengelola masalah, sehingga sulit beradaptasi dengan kehidupan dewasa yang penuh tuntutan.
Banyak orang yang mengira sindrom Peter Pan dan Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah dua konsep psikologis yang sama. Padahal, meski memiliki sejumlah kesamaan perilaku, keduanya punya perbedaan yang jelas. Keduanya sama-sama melibatkan kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan dewasa yang matang karena masalah dalam komitmen dan empati.
Keduanya juga berpusat pada diri sendiri, namun dengan akar yang berbeda. Pada sindrom Peter Pan, fokus ini biasanya berasal dari keinginan mempertahankan kebebasan pribadi dan menghindari tanggung jawab, sedangkan pada NPD muncul dari kebutuhan akan kekaguman dan validasi.
Orang dengan kedua kondisi ini juga cenderung sulit menerima kritik atau masukan yang menantang citra diri atau cara pandang mereka. Meski individu dengan sindrom Peter Pan kerap menunjukkan sifat narsistik, NPD secara khusus ditandai dengan perilaku merendahkan dan memanipulasi orang lain, sifat yang biasanya tidak terdapat pada pengidap sindrom Peter Pan.
Orang yang mengidap sindrom Peter Pan biasanya menunjukkan beberapa perilaku berikut:
Kiley bahkan merinci tujuh tanda khusus dalam bukunya, seperti emosi yang tidak disalurkan dengan tepat, apatis akan aturan, sulit membangun pertemanan sejati, menghindari tanggung jawab, masalah dengan figur ibu atau memperlakukan pasangan seperti seorang “ibu,” merasa jauh dari ayah atau figur otoritas pria, serta ketakutan terhadap penolakan dalam hubungan romantis.
Menariknya, beberapa ciri ini terasa akrab di kalangan dewasa muda saat ini. Standar kedewasaan klasik seperti menikah, memiliki rumah, dan menjadi orang tua semakin sulit dijangkau karena faktor sosial-ekonomi yang berubah. Banyak yang merasa belum benar-benar “menjadi dewasa” hanya karena belum mencapai tonggak lama tersebut, meskipun kedewasaan sesungguhnya berjalan dengan atau tanpa pencapaian itu.
Sesekali merindukan kesederhanaan masa kecil adalah hal yang wajar. Namun, bila seseorang terus-menerus kesulitan mengelola tanggung jawab dan menjaga hubungan yang sehat, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental bisa menjadi langkah yang bijak.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Psikolog Dan Kiley memperkenalkan istilah ini dalam bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up (1983). Ia menggambarkan orang-orang yang sulit mengelola tuntutan kedewasaan, mulai dari urusan pekerjaan, hubungan sosial, hingga kehidupan romantis.
Baca juga: Mengenal NPD, Gangguan Kepribadian yang Kerap Disalahartikan dengan Sikap Narsis
Kiley kemudian menerbitkan The Wendy Dilemma (1985), yang membahas kesulitan pasangan romantis yang menjalani hubungan dengan “Peter Pan”, sosok yang enggan memikul tanggung jawab dewasa, sehingga pasangannya harus menanggung beban yang ditinggalkan.
Pada awalnya, penelitian Kiley banyak dipengaruhi pandangan patriarkal tentang gender dan seksualitas. Sindrom Peter Pan digambarkan khusus pada pria dan hubungan heteroseksual. Namun, pandangan modern menegaskan bahwa perilaku ini bisa dialami siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin atau orientasi seksual.
Sindrom Peter Pan bukanlah diagnosis medis resmi. Istilah ini digunakan secara informal oleh sejumlah psikolog untuk menjelaskan perilaku tertentu, bukan kondisi yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) maupun lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Kiley mencatat bahwa gejala sindrom ini biasanya mulai tampak di usia 11–12 tahun dan semakin jelas ketika memasuki masa remaja. Beberapa ahli menduga, pola asuh yang terlalu melindungi anak dapat menjadi salah satu faktor pemicu. Anak yang dibesarkan tanpa kesempatan menghadapi tantangan hidup nyata cenderung tumbuh tanpa keterampilan mengelola masalah, sehingga sulit beradaptasi dengan kehidupan dewasa yang penuh tuntutan.
Banyak orang yang mengira sindrom Peter Pan dan Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah dua konsep psikologis yang sama. Padahal, meski memiliki sejumlah kesamaan perilaku, keduanya punya perbedaan yang jelas. Keduanya sama-sama melibatkan kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan dewasa yang matang karena masalah dalam komitmen dan empati.
Keduanya juga berpusat pada diri sendiri, namun dengan akar yang berbeda. Pada sindrom Peter Pan, fokus ini biasanya berasal dari keinginan mempertahankan kebebasan pribadi dan menghindari tanggung jawab, sedangkan pada NPD muncul dari kebutuhan akan kekaguman dan validasi.
Orang dengan kedua kondisi ini juga cenderung sulit menerima kritik atau masukan yang menantang citra diri atau cara pandang mereka. Meski individu dengan sindrom Peter Pan kerap menunjukkan sifat narsistik, NPD secara khusus ditandai dengan perilaku merendahkan dan memanipulasi orang lain, sifat yang biasanya tidak terdapat pada pengidap sindrom Peter Pan.
Orang yang mengidap sindrom Peter Pan biasanya menunjukkan beberapa perilaku berikut:
- Kesulitan menerima tanggung jawab dan komitmen jangka panjang.
- Cenderung menyalahkan orang lain dan menghindari kritik.
- Mengalami masalah dalam pekerjaan atau minat karier.
- Sering menunda, bersikap lamban, atau kurang motivasi.
- Emosi tumpul atau tidak sesuai situasi, misalnya marah berlebihan.
- Sombong dan terpusat pada diri sendiri.
- Takut kesepian, tetapi sulit menjaga hubungan sehat.
- Kesulitan mengendalikan perilaku impulsif.
- Mengandalkan orang lain untuk mengambil keputusan atau memenuhi kebutuhan.
- Sering bergonta-ganti pasangan dan mengakhiri hubungan saat diminta komitmen lebih serius.
Kiley bahkan merinci tujuh tanda khusus dalam bukunya, seperti emosi yang tidak disalurkan dengan tepat, apatis akan aturan, sulit membangun pertemanan sejati, menghindari tanggung jawab, masalah dengan figur ibu atau memperlakukan pasangan seperti seorang “ibu,” merasa jauh dari ayah atau figur otoritas pria, serta ketakutan terhadap penolakan dalam hubungan romantis.
Menariknya, beberapa ciri ini terasa akrab di kalangan dewasa muda saat ini. Standar kedewasaan klasik seperti menikah, memiliki rumah, dan menjadi orang tua semakin sulit dijangkau karena faktor sosial-ekonomi yang berubah. Banyak yang merasa belum benar-benar “menjadi dewasa” hanya karena belum mencapai tonggak lama tersebut, meskipun kedewasaan sesungguhnya berjalan dengan atau tanpa pencapaian itu.
Sesekali merindukan kesederhanaan masa kecil adalah hal yang wajar. Namun, bila seseorang terus-menerus kesulitan mengelola tanggung jawab dan menjaga hubungan yang sehat, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental bisa menjadi langkah yang bijak.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.