Riri Riza Pertahankan Adegan Ikonik Toko Buku Bekas di Film Rangga & Cinta
02 March 2025 |
15:14 WIB
Dalam dunia perfilman Indonesia, nama Riri Riza dikenal sebagai seorang sutradara dengan visi kuat dalam bercerita. Salah satu keputusan menarik baru saja diambilnya dalam proses produksi film Rangga & Cinta, dengan mempertahankan adegan ikonik di toko buku bekas.
Bagi Riri, adegan tersebut masih memiliki nilai yang penting, terutama untuk mendukung visi berceritanya di film remake tersebut. Adegan ini juga dianggapnya memiliki makna mendalam pada perkembangan karakter serta alur yang tersaji di dalamnya.
Adegan di toko buku bekas memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hubungan antara Rangga dan Cinta. Sejak pertama kali muncul di film Ada Apa dengan Cinta? (2002), toko buku jadi salah satu latar yang ikonik di antara perasaan romansa dua sejoli ini.
Baca juga: Kenal Lebih Dekat dengan Para Pemeran Film Rangga & Cinta
Keberadaan toko buku seperti tengah melambangkan kepribadian Rangga yang pendiam, intelektual, sekaligus pencinta sastra. Sementara bagi Cinta, toko buku seperti sebuah simbol pertemuan kembali dengan sisi Rangga yang masih menyimpan sudut-sudut misteriusnya.
“Ada beberapa yang memang akan terus dipertahankan, seperti toko buku bekas. Itu akan tetap kita pertahankan untuk menampilkan kecenderungan-kecenderungan Rangga soal sastra,” ungkap Riri kepada Hypeabis.id.
Baginya, mempertahankan toko buku bekas dalam Rangga & Cinta tampaknya bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap memori, sastra, dan sejarah karakter yang telah melekat dalam benak para penonton selama bertahun-tahun.
Namun, Riri masih enggan membocorkan lokasi syuting toko bekas tersebut. Akan tetapi, menengok dari versi orisinalnya, karakter Rangga kala itu datang ke kawasan toko buku bekas di Kwitang, Senan, Jakarta Pusat.
Riri mengatakan secara umum, film remake ini tentu saja masih mengambil benang merah yang sama dengan orisinalnya. Dia bahkan memastikan akan tetap mempertahankan latar era 2001 sebagai basis penceritaannya.
Dia menyadari lanskap perkotaan juga arsitektur bangunan di beberapa sisi memang telah jauh berubah di Jakarta. Hal ini menuntutnya menjadi lebih jeli sebagai sutradara, terutama untuk melihat sisi-sisi yang masih bisa dieksplorasi dan menggambarkan tahun tersebut.
Sebab, dunia cerita yang hendak dipertahankan Riri adalah dunia remaja era 2000-an awal dengan segala dinamika sosial hingga politik masa itu turut mempengaruhi para karakter di dalamnya.
“Saya bersama production desainer, juga sinematografer, berusaha untuk memastikan suasana tahun 2000-an tetap terjaga. Ada tekstur warna, kita cari warna-warna Jakarta yang mungkin agak pucat, mungkin banyak transportasi di masa itu yang sekarang sudah tidak ada lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, produser Mira Lesmana mengatakan pihaknya memilih tetap mempertahankan plot cerita serta latar 2000-an karena beberapa alasan. Menurutnya, era tersebut cukup menarik karena memiliki sisi-sisi keterbatasan dalam teknologi, yang pada akhirnya memengaruhi cara komunikasi para karakter.
“Namun, tetap ya, tentunya akan ada treatment baru. Kita ambil dari development dari cerita yang dulu kami buat menggunakan puisi-puisi Rako Prijanto juga,” ucapnya.
Dalam film ini, Mira mengatakan para pemain tak hanya dituntut berakting. Lebih dari itu, mereka juga mesti bisa menumpahkan emosi setiap adegan dengan bernyanyi. Sebab, film ini mengambil konsep drama musikal.
Baginya, ini yang akan jadi pembeda cukup besar. Mira juga menyebut para pemain memiliki suara yang bagus dan khas. Hal tersebut memberi dimensi baru dari cerita yang sudah ada sebelumnya. “Selain itu, akan ada surprise adegan yang mungkin berbeda, tetapi ini ditunggu saja,” imbuhnya.
Film Rangga & Cinta saat ini masih dalam proses produksi dan ditargetkan selesai serta tayang di tahun ini. Dalam film ini, Miles Films kembali menunjuk Melly Goeslaw dan Anto Hoed untuk menangani penciptaan musiknya yang cukup legendaris.
Baca juga: 12 Film Indonesia Tayang Maret 2025 di Bioskop, Didominasi Horor
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Bagi Riri, adegan tersebut masih memiliki nilai yang penting, terutama untuk mendukung visi berceritanya di film remake tersebut. Adegan ini juga dianggapnya memiliki makna mendalam pada perkembangan karakter serta alur yang tersaji di dalamnya.
Adegan di toko buku bekas memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hubungan antara Rangga dan Cinta. Sejak pertama kali muncul di film Ada Apa dengan Cinta? (2002), toko buku jadi salah satu latar yang ikonik di antara perasaan romansa dua sejoli ini.
Baca juga: Kenal Lebih Dekat dengan Para Pemeran Film Rangga & Cinta

Sutradara Riri Riza, Produser Mira Lesmana, dan para pemain film Rangga & Cinta (Sumber gambar: Miles Films)
“Ada beberapa yang memang akan terus dipertahankan, seperti toko buku bekas. Itu akan tetap kita pertahankan untuk menampilkan kecenderungan-kecenderungan Rangga soal sastra,” ungkap Riri kepada Hypeabis.id.
Baginya, mempertahankan toko buku bekas dalam Rangga & Cinta tampaknya bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap memori, sastra, dan sejarah karakter yang telah melekat dalam benak para penonton selama bertahun-tahun.
Namun, Riri masih enggan membocorkan lokasi syuting toko bekas tersebut. Akan tetapi, menengok dari versi orisinalnya, karakter Rangga kala itu datang ke kawasan toko buku bekas di Kwitang, Senan, Jakarta Pusat.
Riri mengatakan secara umum, film remake ini tentu saja masih mengambil benang merah yang sama dengan orisinalnya. Dia bahkan memastikan akan tetap mempertahankan latar era 2001 sebagai basis penceritaannya.
Dia menyadari lanskap perkotaan juga arsitektur bangunan di beberapa sisi memang telah jauh berubah di Jakarta. Hal ini menuntutnya menjadi lebih jeli sebagai sutradara, terutama untuk melihat sisi-sisi yang masih bisa dieksplorasi dan menggambarkan tahun tersebut.
Sebab, dunia cerita yang hendak dipertahankan Riri adalah dunia remaja era 2000-an awal dengan segala dinamika sosial hingga politik masa itu turut mempengaruhi para karakter di dalamnya.
“Saya bersama production desainer, juga sinematografer, berusaha untuk memastikan suasana tahun 2000-an tetap terjaga. Ada tekstur warna, kita cari warna-warna Jakarta yang mungkin agak pucat, mungkin banyak transportasi di masa itu yang sekarang sudah tidak ada lagi,” imbuhnya.

Rangga diperankan oleh El Putra Sarira, Cinta diperankan oleh Leya Princy, Borne diperankan oleh Rafi Sudirman, Karmen diperankan oleh Daniella Tumiwa, Milly diperankan oleh Katyana Mawira, Maura diperankan oleh Kyandra Sembel, Alya diperankan oleh Jasmine Nadya.
“Namun, tetap ya, tentunya akan ada treatment baru. Kita ambil dari development dari cerita yang dulu kami buat menggunakan puisi-puisi Rako Prijanto juga,” ucapnya.
Dalam film ini, Mira mengatakan para pemain tak hanya dituntut berakting. Lebih dari itu, mereka juga mesti bisa menumpahkan emosi setiap adegan dengan bernyanyi. Sebab, film ini mengambil konsep drama musikal.
Baginya, ini yang akan jadi pembeda cukup besar. Mira juga menyebut para pemain memiliki suara yang bagus dan khas. Hal tersebut memberi dimensi baru dari cerita yang sudah ada sebelumnya. “Selain itu, akan ada surprise adegan yang mungkin berbeda, tetapi ini ditunggu saja,” imbuhnya.
Film Rangga & Cinta saat ini masih dalam proses produksi dan ditargetkan selesai serta tayang di tahun ini. Dalam film ini, Miles Films kembali menunjuk Melly Goeslaw dan Anto Hoed untuk menangani penciptaan musiknya yang cukup legendaris.
Baca juga: 12 Film Indonesia Tayang Maret 2025 di Bioskop, Didominasi Horor
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.