Belajar Arti Berkeluarga dari Film Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga

28 March 2022   |   08:40 WIB

Like

"Siapakah cinta pertamamu? Lalu kedua dan ketiga?"

Silakan cek trailernya


 

Siapa yang setuju kalau cinta pertama anak adalah orang tuanya. Sebaliknya, orang tua menempatkan anak di urutan pertama cintanya?

Asia, diperankan oleh Putri Marino, adalah gadis berusia 27 tahun. Dia drop out dari sekolah dan kemudian menjadi dancer dan instruktur aerobik dan Zumba. Dia masih punya mimpi yang tertunda, ingin menjadi dancer berkelas internasional. Namun, masih tidak tega meninggalkan ibunya. Selama ini, Asia hanya hidup berdua dengan ibunya, sampai suatu ketika bertemu dengan Raja dan keluarganya.
Ibu LInda, diperankan oleh Ira Wibowo, adalah seorang janda beranak satu. Dulu dia kabur dari suaminya karena KDRT dan sampai sekarang dia belum menikah lagi. Sudah tujuh tahun, Ibu Linda divonis bebas dari kanker payudara. Selama sakit, Asia, anak semata wayangnya, mengurusnya.
Raja, diperankan oleh Angga Yunanda, adalah pemuda yang punya pribadi humoris. Namun, dia punya keluarga yang sangat kaku. Dia dibesarkan oleh bapaknya yang menduda sejak dia dilahirkan. Dia besar dengan kasih sayang kedua kakaknya yang sangat perhatian, si sulung yang dominan, Ratu (diperankan Widi Mulia), dan si tengah yang penurut, Suri (diperankan Ersa Mayori). Raja sedang berusaha mapan secara finansial meski rasanya sulit membagi waktu antara dirinya sendiri dan keluarganya.
Pak Dewa Santoso, diperankan oleh Slamet Rahardjo Djarot, adalah bapak dari Raja. Dia adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil. Dia sangat ingin Raja segera punya pekerjaan tetap. Sering kali komunikasi antara dia dan Raja tidak baik karena salah persepsi. Saat ini, Bapak Dewa merawat ibunya, seorang penderita Alzheimer. Dia pun diceritakan mempunyai gejala yang sama seperti ibunda.

Setiap pasangan, Ibu Linda-Bapak Dewa dan Asia-Raja, harusnya punya kesempatan sama untuk bahagia. Sayangnya, ikatan darah di antara mereka berempat membuat salah satu harus mengalah. Tanpa bicara soal pespektif agama, ada banyak nilai hidup berkeluarga yang bisa diambil dari film ini. Saya bahkan tak mampu juga menahan air mata di beberapa adegannya yang sangat menguras emosi.

1. Siapa pun butuh teman.
Tanpa pandang usia, film ini mengingatkan penonton bahwa siapa pun berhak jatuh cinta dan bahagia. Dalam keadaan pasangan yang sudah tidak muda dan ada anak, biasanya penolakan akan datang dari anak-anak mereka. Padahal siapa pun butuh teman menemani hingga akhir usianya.

"Tiada partner dansa yang sempurna." (Ibu Linda)

Layaknya berpasangan, tidak ada yang sempurna, terutamanya lagi jika masing-masing membawa serta masa lalunya.

2. Betapa luar bisa bakti yang bisa anak berikan pada orang tuanya.

"Raja mau Bapak bahagia. Asia juga mau ibunya juga bahagia." (Raja)

3. Jangan lupa apresiasi pencapaian diri sendiri.

"Ini juga penting. Jangan lupa urus diri sendiri." (Raja)

4. Cinta orang tua kepada anak sanggup mengalahkan kepentingan pribadinya.

"Bapak sudah tak punya masa depan. Kamu yang punya masa depan." (Bapak Dewa)

Selain hikmah di atas, ada dua nilai pendidikan yang menarik untuk dibahas.
Latar waktu film adalah masa pandemi Covid-19. Sepanjang adegan yang memperlihatkan interaksi dengan orang yang bukan keluarga selalu menerapkan protokol kesehatan dan new normal. Ada beberapa adegan juga, yang menurut saya, sifatnya kampanye menggunakan masker.
Selain itu, ada nilai edukasi kesehatan mengenai penyakit Alzheimer. Penyakit ini adalah penyakit yang bisa diturunkan kepada anak atau cucu. Film ini bercerita bagaimana kesulitan dan dampak penyakit Alzheimer tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi penderita. Keluarga sudah pasti akan takut kehilangan dan terlupakan. Anggota keluarga akan sakit hati ketika saat itu tiba karena merasa terlupakan
Namun, bagi penderita, membayangkan dia akan melupakan semuanya adalah sangat menakutkan. Peran keluarga sebagai penguat dan mampu siap sedia dalam masa sesulit apa pun akan sangat membantunya.

Sesungguhnya ketidaksempurnaan sebuah keluarga akan jadi sempurna jika mereka bisa melaluinya bersama.

"Raja juga senang jadi anak Bapak." (Raja)

Selamat menonton dan jangan lupa siapkan tisu di sebelah Anda.
#hypefilm #Hypeabismoviereview