A Perfect Fit : Tantangan Melibatkan Perasaan

27 March 2022   |   23:25 WIB

Like
Film ini menceritakan tentang dua orang asing yang tidak sengaja dipertemukan dalam sebuah toko. Semua itu karena bulu angsa dan mantra yang diberikan oleh salah satu peramal yang ditemuinya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan mendapat jalan baru.

Saski adalah seorang Fashion Designer, ia merupakan wanita cantik keturunan Bali. Saski memiliki kekasih bernama Deny, ia seorang anak pengusaha besar. Kala itu, tepat di hari ulang tahun pacarnya, Saski tidak memiliki sepatu yang bagus. Acara itu sangat penting bagi Saski dan Deny. Namun, karena belum mendapatkan sepatunya, ia jadi harus mencari terlebih dahulu.

Awalnya, Saski tidak mempercayai ramalan. Bahkan ia menganggapnya sebagai tebak-tebakan saja. Akan tetapi, karena sahabatnya memaksa ia akhirnya menemukan sebuah toko yang belum ada pengunjungnya sama sekali karena pesan dari si peramal tadi.

Saski agak sedikit ragu karena toko itu terlihat sepi. Namun karena waktu sudah semakin sempit. Ia harus mendapatkannya secepat mungkin. Di sana tokonya sangat unik, sebab model dipilihkan dan dipasangkan langsung oleh pemiliknya. Mau tidak mau akhirnya Saski memesan di situ. Ia segera pergi menuju acara.

Sialnya, sepatu yang ia pesan tertukar. Padahal waktu sudah lewat. Saski memutar arah bersama supir taksi menuju toko tadi untuk menukarnya.

Sesampainya di toko, ia mengalami kesialan lagi. Rambut dan wajahnya terguyur cat yang menimpanya. Hal itu membuat Saski kembali merasa jengkel. Bukannya mendapat sepatu yang tadi, kini malah dirinya yang terkena imbas. Telpon dari kekasihnya terus berdatangan. Sampai tanpa sepengetahuannya, telpon itu diterima. 

Deny mendengar percakapan mereka, ia salah sangka. Padahal Saski hanya ingin menukar sepatu yang ia beli. Di tengah ulang tahunnya, Deny marah besar. Ia mempermalukan Saski di tengah tamu yang datang. Itu adalah salah satu kekurangan Deny. Tidak bisa mengontrol emosinya, padahal Saski berusaha menjelaskan apa adanya. Namun, Deny menyela sebelum Saski berkata. Sikap kasarnya menjadikan wibawa Deny sebagai seorang anak pengusaha kurang baik. Seharusnya sebagai seorang lelaki bersikap lemah lembut kepada perempuan.

Saski merasa sakit hati dan ingin mengembalikan barang dari toko sepatu itu. Ia melemparnya dan sasarannya tidak tepat. Sepatu itu membentur kepala Rio, sang pemilik toko. Hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.

Saski tampaknya benar-benar sial. Ia berdebat dengan sahabatnya di tengah ketidaksadaran Rio. Hingga mendadak Rio terbangun dan meminta tolong mengambilkan kunci yang tertinggal di tokonya.

Semenjak kejadian itu, mereka menjadi lebih sering bertemu, saling membantu. Hingga mengobrol hal-hal yang bersifat personal. Film ini menarik, karena di dalamnya terdapat selipan unsur budaya lokal. Jadi keduanya, netral ditampilkan di layar kaca. Dikemas cukup apik. 

Selanjutnya, pembukaan toko milik Rio dibuka. Saski menjadi orang pertama yang memotong pita peresmian, karena bentuk terima kasih sebagai pelanggan pertama.

Keributan terjadi, tiba-tiba Deny menarik tangan Saski dan menyuruhnya pulang. Acara pertunangan mereka akan segera berlangsung. Hal itu membuat Saski merasa tidak nyaman. Ia seolah terpaksa menerimanya, karena merasa hutang budi terhadap keluarga Deny yang telah membiayai pengobatan ibunya. 

Saski dan Deny segera menyiapkan acara tunangannya. Begitu pun Rio. Mendadak ibunya akan menjodohkannya dengan teman kecilnya bernama Tiara. Mereka masing-masing bertunangan dengan kondisi hati yang saling bertolak belakang. 

Kemudian mereka pasrah dan saling memendam. Pertemuan antara Saski dan Rio menjadi canggung dan kikuk. Padahal keduanya sama-sama ingin bersama. Lantas masih dalam rangka persiapan menuju tahap nikah. Mereka memesan sepatu di satu tempat yang sama. Pengrajin itu bernama Pak Katut. Kebetulan di sana ada acara adat yang diselenggarakan bersama. Rio dan Deny mengikutinya. Awalnya acara berlangsung baik, seiring berjalannya waktu mereka menjadi saling menjatuhkan.

Deny membenci sepatu yang dipesan Saski, ia menyuruhnya untuk membatalkan pemesanan sepatu itu karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Begitupun Tiara, ia memutuskan untuk tidak memproduksi barang dari Pak Katut lagi. Semua karena tulisan nama di sepatu pernikahannya saling tertukar. Saski dan Rio, kemudian Tiara dan Deny. 

Tiba-tiba ketika Saski sedang berdiskusi dengan temannya tentang model baju terbaru yang dibuatnya, si peramal itu kembali muncul seolah memberi petunjuk dan bulu angsa. Katanya, ia bisa mengubahnya jika ia mau, dengan menerbangkan bulu itu.

Saski mendapat kabar dari sahabatnya bahwa calon suaminya tercyduk di sebuah hotel miliknya bersama dua orang perempuan. Lewat video yang dikirimnya. Ketika dimintai penjelasan Deny seolah tidak merasa bersalah dan kukuh dengan pernikahan mereka. Tujuan utamanya adalah mendapatkan hak waris ayahnya. Saski merasa dikhianati. Ia merasa menjadi korban. 

Di rumahnya, Deny dan sang adik saling berdebat. Tangan Deny mendarat dan refleks memukul pipi adiknya karena emosi. Papanya melihat itu lalu kecewa, ia memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dan mengganti hak waris kepada adiknya seratus persen.

Tepat pada hari pernikahan Tiara dan Rio. Terjadi sebuah masalah, dalam ritual adat Makassar. Seharusnya di atas meja itu yang disediakan daun nangka, ternyata malah daun pisang yang tersimpan. Hal itu membuatnya merasa malu. Hingga akhirnya ia harus menunda pernikahannya.

Keesokannya Tiara mampir ke toko milik Rio, ia tak sengaja mendengar percakapannya dengan pak Katut bahwa dirinya tidak mencintai Tiara. Feeling Pak Katut sangat kuat hingga akhirnya ia sengaja mengukir nama Rio dan Saski bukan Tiara. Tiara kecewa karena Rio tidak pernah memberitahunya. Akhirnya hubungan mereka terhenti di tengah jalan.

Rio memutuskan untuk kembali ke Jakarta meninggalkan Saski. Sangkanya Saski akan jadi menikah dengan Deny, ia mengabari salamnya lewat pesan. Mendengar itu Saski segera menghampiri toko pertama kali mereka bertemu. Ternyata sudah tidak ada siapa-siapa. Ia harus pulang dengan tangan kosong dan menerbangkan bulu angsa itu ke atas.

Kemudian, keluarlah Rio. Ia mengambilnya dan keduanya kembali dipertemukan di tempat yang sama.

Alur cerita dalam film ini memang terkesan ringan, namun cukup mudah ditebak oleh penonton. Sehingga kurang gereget dan sangat disayangkan juga ekspresi sedih si karakter utama perempuannya agak kurang keluar. Jadi tingkat kesedihan yang ditampilkan seperti kurang mendalam.