The Falls: Pandemi dan Kehidupan yang Terjun Bebas

27 March 2022   |   23:51 WIB

Like

Pandemi adalah masalah besar bagi kemanusiaan, namun jelas bukan satu-satunya. Sebab di saat bersamaan, pandemi justru membantu manusia menyadari berbagai persoalan yang sebelumnya diabaikan bak api dalam sekam.


Di tengah kecenderungan universalitas dalam dunia modern, seruan filsuf Soren Kierkegaard (1813-1855) untuk berfokus pada sosok manusia nyata beserta kisah-kisah pengalaman hidupnya terasa mencolok. Gagasan Kierkegaard seperti mengingatkan kita, bahwa hanya berfokus pada yang universal akan membuat berbagai hal terasa asing dan “kering”. Betul bahwa pandemi adalah persoalan global. Namun, untuk sungguh-sungguh memahami dampak yang diakibatkannya dalam hidup seseorang dan berempati, kita tidak bisa hanya melihatnya dari kejauhan, apalagi hanya bertumpu pada data dan angka.

Upaya untuk menyelami kisah manusia dalam menjalani hari-hari pandemi itulah yang hadir dalam film The Falls karya sutradara—merangkap sinematografer dan penulis naskah—asal Taiwan: Chung Mong Hong. Nomine film terbaik Venice Horizons Award 2021, serta pemenang pemeran utama perempuan, skenario, dan film terbaik Golden Horse Awards 2021 ini dirilis oleh Netflix akhir Januari 2022 lalu.

Kehidupan stabil Xiao Jing (Gingle Wang), seorang pelajar SMA, dan ibunya Luo Pin Wen (Alyssa Chia), seorang pekerja perusahaan multinasional, seakan terjun bebas setelah pandemi. Akibat kontak erat dengan teman sekelasnya yang positif covid-19, Xiao Jing dan ibunya mesti menjalani karantina. Ruang domestik yang sebelumnya kerap dianggap inferior—pun diatribusikan dengan sifat feminin—, justru menjadi pusat aktivitas karena kebijakan swakarantina selama pandemi. Sekalipun terisolasi dalam ruang domestik, tidak berarti segalanya menjadi “steril” dan aman. Sebaliknya, dalam kondisi terkungkung malah membuat keduanya menyadari, bahwa pandemi bukan saja persoalan penyebaran virus. Melainkan juga paksaan untuk menghadapi dan membenahi segala silang sengkarut dalam keluarga dan batin. The Falls dengan penuh empati menjalin kisah perempuan, ruang domestik, pandemi global, dan gejolak batin manusia.

Ketidakmesraan Xiao Jing dan Luo Pin Wen mulanya tidak terlampau disadari karena masing-masing sibuk beraktivitas dan minimnya interaksi. Namun, selanjutnya mereka tidak bisa menghindar lantaran mesti menjalani hari-hari hanya berdua selama karantina di apartemennya. Pertikaiannya dengan sang putri menambah riuh benak Luo Pin Wen yang sebetulnya sudah carut-marut akibat persoalan pekerjaan dan krisis finansial. Karena tidak rutin bekerja seperti sebelumnya, kini Luo Pin Wen bahkan tidak bisa lagi melarikan diri dari luka hati akibat perceraian dengan (mantan) suaminya. Orang lain tidak mengetahui, sekalipun cuaca cerah, dalam batin Pin Wen berkecamuk hujan badai.

The Falls memperlihatkan bagaimana penggunaan masker dan sikap menjaga jarak fisik bisa jadi hanya mengeksplisitkan, atau bahkan sekadar dalih atas jarak dan keterasingan manusia yang sudah sejak lama dipelihara, jauh sebelum pandemi terjadi. Sosok ayah Xiao Jing misalnya. Sekalipun secara fisik mereka baru berpisah selama tiga tahun, sebetulnya sudah belasan tahun ia tidak benar-benar “hadir” dalam keluarga ini. Seperti yang dikatakan Xiao Jing, ayahnya hanya laki-laki yang memberikan sperma.
Seperti gambaran sosok Luo Pin Wen, keterasingan itu tidak hanya terjadi antarmanusia, melainkan juga dengan diri sendiri. Tempat tinggal yang nyaman dan berada di lingkungan komersial-strategis tidak serta merta dapat menjadi “rumah” ideal bagi para penghuninya: tempat seseorang sungguh-sungguh diterima, dipercaya, dipahami, dan dicintai. Hunian bisa jadi adalah tempat yang tidak hanya menambah sesak dari pemakaian masker, tetapi juga muram temaram, sebagaimana suasana kebiruan dari terpal yang membebat bangunan.

Situasi pandemi, serta psikosis yang diderita oleh Luo Pin Wen membuat Xiao Jing berubah drastis. Kendati masih berusia di bawah umur, ia bergegas mengambil tanggung jawab untuk melindungi keluarga, termasuk dengan menjadi wali pasien dan mengatur keuangan rumah tangga. Xiao Jing dan Luo Pin Wen seperti berkenalan ulang satu sama lain, belajar untuk saling bicara dan memahami. Termasuk ketika Xiao Jing memilih untuk mempercayai sang Ibu bahwa ada ular di balik televisi, dan segera memanggil petugas pemadam kebakaran. Xiao Jing juga tidak menegasi rasa takut yang dialami Pin Wen ketika ia berhalusinasi bahwa ada penjaga yang mengawasi kediaman mereka dari balik pintu. Perlahan kedua perempuan ini membenahi berbagai persoalan yang sebelumnya telah terakumulasi.

Baik psikosis maupun pandemi sama-sama memperlihatkan betapa rentannya manusia. Bahwasanya kita sebagai manusia—berikut berbagai perangkat konseptual dan rasionalitasnya—tidak digdaya dan tidak senantiasa baik-baik saja. Mengubur luka dan aneka permasalahan, serta menimbunnya dengan “profesionalitas kerja” adalah kebiasaan yang destruktif. Agar dapat sembuh, rasa sakit akibat luka dan proses pengobatannya adalah fase yang harus dilalui. Sementara pandemi yang telah berlangsung lebih dari dua tahun menunjukkan kekeliruan manusia selama ini dalam memandang dan memperlakukan alam. Alam dan batin bukanlah sesuatu yang mestinya kita abaikan, juga singkirkan. Seperti pertanyaan retoris yang disinggung The Falls dalam salah satu adegan: benarkah tragedi dan bencana adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, atau sebetulnya adalah kesalahan manusia sendiri?

The Falls turut pula memotret berbagai sikap manusia di hadapan kemalangan manusia lain. Ada sosok seperti ayah Xiao Jing yang sengaja mengambil jarak demi mempertahankan kenyamanannya. Pihak yang memanfaatkan kemalangan orang lain, sambil diam-diam mengambil keuntungan secara kotor seperti sosok agen properti. Ada pula orang-orang yang suportif dan membantu meringankan penderitaan seperti teman-teman Xiao Jing, Bibi Cai, dan Chen manajer pasaraya. Sebagian orang melukai dan meninggalkan, tetapi sebagian lainnya benar-benar hadir mendampingi.

Dalam film berdurasi 129 menit ini, Chung Mong Hong mengisyaratkan optimismenya di tengah pandemi. Sebagaimana proses penyembuhan Pin Wen yang beriringan dengan dimulai kembali geliat aktivitas masyarakat, serta masuknya cahaya matahari setelah dilepasnya terpal biru yang menutupi bangunan, diikuti dengan kepindahannya ke hunian baru. Hidup senantiasa mengalir seperti sungai. Dan tanpa terhindarkan, ada kalanya manusia terjatuh dari ketinggian air terjun, atau tersapu arus deras yang menerjang tiba-tiba. Kita terseret, tenggelam, tidak bisa bernafas, terluka parah, tetapi kita harus berusaha bertahan. Saat kita mengira ini adalah akhir dari segalanya, mungkin akan ada sesama manusia yang datang berjibaku untuk membantu menyelamatkan kita. Di tengah dunia yang tidak sedang baik-baik saja dan harus bersama-sama dibenahi, The Falls meyakini bahwa sikap saling peduli antarmanusia akan menyelamatkan kita.