The French Dispatch: Sebuah Majalah yang Bersembunyi di Balik Film Panjang

22 March 2022   |   12:56 WIB

Like

I. INTRODUKSI

Arthur Howitzer Jr, seorang pendiri sekaligus editor majalah The French Dispatch of the Liberty, Kansas Evening Sun terkena serangan jantung dan meninggal dunia secara mendadak. Ia meninggalkan surat wasiat yang menjadi penanda bahwa perjalanan majalah ini harus berakhir. Menggetahui itu, para jurnalis membuka film ini dengan berkumpul di sebuah ruangan untuk membahas edisi terakhir majalah ini.
 

II. WES ANDERSON

Unik. 

Satu kata di atas merupakan mesin penggerak yang mampu mendorong film ini untuk berjalan selama lebih dari sembilan puluh menit. Wes Anderson merupakan nama yang ada di baliknya.

Rasanya sangat berdosa bila kita berani mengomentari kemampuan Wes Anderson dalam menyutradarai sebuah film. Bayangkan saja, dengan segala citra yang selama ini telah ia bangun; rentetan gambar artistik yang ditangkap dengan komposisi simetris; pergerakan kamera yang begitu kompleks; palet warna-warna pastel yang melukis layar; hingga musik-musik indah yang mengalun lembut menemani tokoh-tokoh eksentrik. Tak cukup sampai di situ, kini melalui film terbarunya, Wes Anderson mencoba ramuan baru dengan mengutak-atik strukturnya dalam bercerita.
 

III. ISI

Layaknya majalah, film ini terbagi menjadi lima bagian yang masing-masing bagiannya diibaratkan sebagai rubrik majalah yang menceritakan berbagai kisah berbeda. Dan di masing-masing rubrik tersebut, sang jurnalis menarasikan tulisannya kepada penonton.
 
  • The Cycling Reporter
Bersama sepeda oranyenya, Herbsaint Sazerac, salah satu jurnalis majalah The French Dispatch mengajak penonton untuk menyusuri kota Ennui-sur-Blasé, membandingkan perubahan-perubahan yang terjadi di setiap sudut kota sejak pertama kali majalah itu terbit hingga edisi terakhirnya.

Bagian ini seolah memang dirancang sebagai pembuka sekaligus menjadi momen berkenalannya penonton terhadap dunia The French Dispatch. Sehingga tak heran bila bagian ini menjadi bagian yang paling singkat dengan pembawaan yang tak terlalu berat serta lebih menonjolkan segi artistik ketimbang cerita.
 
  • The Concrete Masterpiece
Bagian ini dibuka dengan potret seorang wanita yang sedang berpose telanjang di tengah ruangan. Berjarak beberapa meter, pria paruh baya sedang mengeker, memandangi, dan mengamati seluk-beluk tubuh wanita itu, kemudian menuangkannya ke atas kanvas putih. 

Ia adalah Moses Rosenthaler, seorang narapidana yang kisahnya diangkat oleh jurnalis sekaligus kurator seni, J.K.L. Berensen. Dalam kisah tersebut, secara tiba-tiba Moses memiliki karier sebagai seorang seniman meski ia sedang terkurung di dalam penjara, setelah karyanya ditemukan oleh teman satu selnya yang kebetulan adalah seorang distributor seni.

Rasanya bagian ini menjadi yang paling personal bagi Wes Anderson bila melihat dirinya sebagai seorang seniman. Tak hanya menyinggung rintihan hati seniman yang merasa tertekan akibat tekanan dari pihak-pihak tertentu, tetapi juga membahas mengenai keuntungan besar yang diperoleh pihak-pihak tersebut tanpa memikirkan nasib sang seniman itu sendiri.
 
  • Revisions to a Manifesto
Rasanya semua media sepakat bahwa politik adalah bagian yang paling mudah untuk menarik minat pembaca, begitu pula dengan majalah The French Dispatch.

Mengusung tema politik dengan mengangkat peristiwa Mei 68 sebagai inti permasalahan. Terkesan berat? Kedengarannya iya, tetapi kenyataannya tidak. Lagi-lagi kredit harus diberikan kepada Wes Anderson yang cerdik menilik sisi lain dari sebuah tragedi dan mengangkatnya menjadi sebuah cerita yang menarik.

Mengisahkan mengenai Zeffirelli, perwakilan dari pihak mahasiswa yang menuntut perubahan. Tak muluk-muluk, mereka mendesak pihak kampus untuk mengijinkan setiap siswa laki-laki yang ingin berkunjung ke asrama perempuan.
 
  • The Private Dining Room of the Police Commissioner
Menyuguhkan kisah Roebuck Wright, seorang jurnalis kuliner yang sedang menghadiri undangan makan malam dari seorang komisaris kepolisian. Namun makan malam mereka harus terganggu oleh sebuah panggilan telepon dari orang tak dikenal yang menyatakan bahwa mereka akan menculik Gigi, anak komisaris polisi.

Terdengar meyakinkan dan dengan mudah dapat ditebak siapa yang akan menjadi pahlawan. Namun lapisan cerita film ini tak setipis itu. Di sana Wright hanya berperan sebagai pengamat kejadian yang kemudian menceritakan kisahnya kepada kita. Ia tak terlibat sama sekali dalam peperangan antara polisi dan penjahat.
 
  • End Note
Sama seperti bagian pertama, bagian ini juga dirancang untuk menjadi pelengkap sekaligus penutup dari antologi cerita ini. Meski dengan durasi yang lebih singkat dibanding cerita-cerita sebelumnya, namun kehangatan begitu terasa ketika seluruh jurnalis berkumpul dalam satu ruangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada pendiri majalah ini dengan bersama-sama menuliskan berita kematiannya.
 

IV. KOREKSI & APRESIASI

Kesan klasik berhasil dibangun melalui set lokasi, properti, dan juga kostum yang dipakai oleh pemain. Belum lagi jika berbicara mengenai rasio 3:4 dan visual film yang sebagian besarnya hitam-putih. 

Film ini memiliki cara unik untuk memvisualisasikan narasi yang dipaparkan oleh masing-masing jurnalis, seperti menggunakan media komik strip, narator yang menjadi narasumber pada sebuah wawancara, dan menjadikan cerita sebagai objek presentasi. Semua cara itu semata-mata dilakukan untuk menjaga agar penonton tidak merasa bosan. Dan tanpa disadari, cara-cara itulah yang membuat film ini seolah memiliki nyawa.

Namun sayangnya dialog-dialog yang bergulir begitu cepat dengan pengenalan karakter di waktu yang hampir bersamaan, memaksa penonton untuk memberikan perhatian lebih di setiap adegannya demi tetap bisa menikmati alur film ini.
 

V. KONKLUSI

Walau dengan deretan pemain bintang, sebuah film masih bisa terasa kosong bila tidak didukung oleh aspek-aspek yang lain. Dan sepertinya Wes Anderson paham akan hal itu. Melalui penceritaan yang menarik dengan berbagai aspek lain yang ditunaikan dengan cukup baik, ia berhasil menciptakan sebuah film yang layak tonton tanpa menggantungkan nasibnya pada nama besar pemain.