The French Dispatch: Sebuah Majalah yang Bersembunyi di Balik Film Panjang
Likes
I. INTRODUKSI
II. WES ANDERSON
Satu kata di atas merupakan mesin penggerak yang mampu mendorong film ini untuk berjalan selama lebih dari sembilan puluh menit. Wes Anderson merupakan nama yang ada di baliknya.
Rasanya sangat berdosa bila kita berani mengomentari kemampuan Wes Anderson dalam menyutradarai sebuah film. Bayangkan saja, dengan segala citra yang selama ini telah ia bangun; rentetan gambar artistik yang ditangkap dengan komposisi simetris; pergerakan kamera yang begitu kompleks; palet warna-warna pastel yang melukis layar; hingga musik-musik indah yang mengalun lembut menemani tokoh-tokoh eksentrik. Tak cukup sampai di situ, kini melalui film terbarunya, Wes Anderson mencoba ramuan baru dengan mengutak-atik strukturnya dalam bercerita.
III. ISI
- The Cycling Reporter
Bagian ini seolah memang dirancang sebagai pembuka sekaligus menjadi momen berkenalannya penonton terhadap dunia The French Dispatch. Sehingga tak heran bila bagian ini menjadi bagian yang paling singkat dengan pembawaan yang tak terlalu berat serta lebih menonjolkan segi artistik ketimbang cerita.
- The Concrete Masterpiece
Ia adalah Moses Rosenthaler, seorang narapidana yang kisahnya diangkat oleh jurnalis sekaligus kurator seni, J.K.L. Berensen. Dalam kisah tersebut, secara tiba-tiba Moses memiliki karier sebagai seorang seniman meski ia sedang terkurung di dalam penjara, setelah karyanya ditemukan oleh teman satu selnya yang kebetulan adalah seorang distributor seni.
Rasanya bagian ini menjadi yang paling personal bagi Wes Anderson bila melihat dirinya sebagai seorang seniman. Tak hanya menyinggung rintihan hati seniman yang merasa tertekan akibat tekanan dari pihak-pihak tertentu, tetapi juga membahas mengenai keuntungan besar yang diperoleh pihak-pihak tersebut tanpa memikirkan nasib sang seniman itu sendiri.
- Revisions to a Manifesto
Mengusung tema politik dengan mengangkat peristiwa Mei 68 sebagai inti permasalahan. Terkesan berat? Kedengarannya iya, tetapi kenyataannya tidak. Lagi-lagi kredit harus diberikan kepada Wes Anderson yang cerdik menilik sisi lain dari sebuah tragedi dan mengangkatnya menjadi sebuah cerita yang menarik.
Mengisahkan mengenai Zeffirelli, perwakilan dari pihak mahasiswa yang menuntut perubahan. Tak muluk-muluk, mereka mendesak pihak kampus untuk mengijinkan setiap siswa laki-laki yang ingin berkunjung ke asrama perempuan.
- The Private Dining Room of the Police Commissioner
Terdengar meyakinkan dan dengan mudah dapat ditebak siapa yang akan menjadi pahlawan. Namun lapisan cerita film ini tak setipis itu. Di sana Wright hanya berperan sebagai pengamat kejadian yang kemudian menceritakan kisahnya kepada kita. Ia tak terlibat sama sekali dalam peperangan antara polisi dan penjahat.
- End Note
IV. KOREKSI & APRESIASI
Film ini memiliki cara unik untuk memvisualisasikan narasi yang dipaparkan oleh masing-masing jurnalis, seperti menggunakan media komik strip, narator yang menjadi narasumber pada sebuah wawancara, dan menjadikan cerita sebagai objek presentasi. Semua cara itu semata-mata dilakukan untuk menjaga agar penonton tidak merasa bosan. Dan tanpa disadari, cara-cara itulah yang membuat film ini seolah memiliki nyawa.
Namun sayangnya dialog-dialog yang bergulir begitu cepat dengan pengenalan karakter di waktu yang hampir bersamaan, memaksa penonton untuk memberikan perhatian lebih di setiap adegannya demi tetap bisa menikmati alur film ini.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.