Sampah adalah salah satu permasalahan yang tidak ada habisnya di Indonesia. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan manusia, maka produksi sampah akan semakin meningkat. Kira-kira begitulah rumusnya.
Pengelolaan sampah membutuhkan perhatian khusus, baik dari pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat.
Seiring dengan terus meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat, saat ini berbagai pihak terus berinovasi untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah. Mulai dari penyediaan infrastruktur penampungan, mendaur ulang sampah plastik agar menjadi nilai tambah, hingga menciptakan teknologi untuk mengkonversikan sampah organik menjadi sumber energi terbarukan.
Salah satunya adalah yang diterapkan pada Program Waste to Energy di Taman Margasatwa Ragunan (TMR), sebuah inisiasi dari PT Paiton Energy. Program ini merupakan pengoperasian sistem konversi limbah menjadi energi di lingkungan TMR, sebagai solusi pengelolaan limbah yang terintegrasi dengan pengembangan energi terbarukan.
Sistem tersebut ditopang oleh delapan unit mesin biodigester yang berfungsi untuk mengolah kotoran hewan hingga sampah organik untuk menghasilkan biogas. Biogas inilah yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan mesin pembangkit listrik.
Dengan banyaknya jumlah kotoran hewan yang dihasilkan di lokasi tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tersebut dapat menghasilkan listrik sebesar 234 kWh.
Selain pembangkit listrik, biogas juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak bagi para petugas di lingkungan TMR, sehingga lebih efisien dan aman dan ramah lingkungan.
Tidak hanya energi terbarukan, sistem pengolahan limbah organik di lokasi ini turut menghasilkan nilai tambah lain. Pada prosesnya, sampah dan kotoran hewan yang diubah menjadi biogas menghasilkan ampas. Ampas tersebut yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk kompos bagi tanaman di sekitar lokasi. Artinya seluruh sampah organik yang dikumpulkan memiliki manfaat dan tidak ada yang terbuang.
Taman Margasatwa Ragunan menjadi taman konservasi pertama yang mampu mengubah limbah organik terutama kotoran hewan, menjadi gas dan tenaga listrik. Melalui program Waste to Energy, setidaknya satu masalah pengelolaan dan penampungan limba organik dapat diatasi.
Dengan adanya efisiensi yang dihasilkan, bukan tidak mungkin teknologi serupa untuk diterapkan dalam lingkup RT/RW, sehingga diharapkan dapat mengurangi sampah rumah tangga sekaligus jadi sumber energi alternatif.
Bahkan saat ini pemerintah melalui sejumlah program terus mendorong pemanfaatan sampah perkotaan sebagai sumber energi terbarukan. Selain untuk mendukung transisi energi, langkah ini dilakukan guna membantu mengatasi permasalahan sampah di berbagai daerah di Indonesia.
Filter: Foto Cerita
| Jenis Harga | Ukuran/Format | Harga |
|
|
|
Rp 475.000Diskon 5% dari Rp |