Pencipta game edukasi Hompimpah, Tania Andria. (Sumber foto: Hypeabis.id/Dewi Andriani)

Hompipah, Inovasi Board Game Lokal yang Menyatukan Permainan Tradisional dalam Sentuhan Modern

14 October 2025   |   10:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah maraknya gim digital dan konten serba daring, Tania Andria, kreator muda asal Jakarta, justru menghadirkan sesuatu yang sederhana tapi sarat makna. Sebuah permainan papan bernama Hompipah, yang mengajak pemainnya bernostalgia pada masa kecil di era 1980-an.

Menggabungkan unsur edukasi, permainan tradisional, dan desain kreatif, Hompipah menjadi contoh nyata bagaimana proyek tugas akhir kuliah dapat bertransformasi menjadi bisnis kreatif yang menjanjikan.

“Awalnya Hompipah cuma tugas akhir kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual BINUS. Tapi karena antusiasme teman-teman di TikTok tinggi banget, akhirnya aku seriusin jadi brand,” ujar Tania saat ditemui di Jakarta Doodle Fest 2025, di Senayan City, Minggu (12/10/2025).

Baca juga: Seni Kanji dan Perjalanan Kreatif Yulius Iskandar Menjaga Legasi Sang Ayah

Hompipah sendiri mengusung konsep permainan papan (board game) bertema tradisional Indonesia. Secara mekanisme, permainan ini terinspirasi dari permainan ular tangga dan monopoli, tapi dengan sentuhan lokal yang unik.

Pemain berlomba mencapai petak ke-100 sambil menjalani berbagai tantangan dari kartu “Tahu” dan “Tempe” yang berisi aksi seperti bermain suit, berpindah pion, atau melakukan permainan tradisional seperti bola bekel, congklak, gasing, hingga ketapel.

Menariknya, permainan Hompipah ini menghadirkan enam karakter anak Indonesia yakni Ibnu, Anto, Agus, Susi, Ani, dan Ita. Dalam permainan tersebut, diceritakan bahwa keenam anak itu berlomba menuju gubuk di petak ke-100 yang menjadi base camp mereka. Sepanjang perjalanan, terdapat petak-petak pelangi yang menuntut pemain melakukan aksi tertentu sesuai dengan keterangan yang tertera di setiap petak.

Selain menyenangkan, permainan ini dirancang untuk menumbuhkan kembali semangat kebersamaan dan nostalgia masa kecil, terutama bagi generasi yang tumbuh di tengah dominasi gawai.

Tidak heran, meski ditujukan untuk anak-anak usia 8 tahun ke atas, Hompipah justru banyak menarik minat pemain dewasa yang rindu suasana bermain tanpa layar.
 

Popularitas Hompipah berawal dari unggahan Tania di TikTok yang menampilkan konsep permainan ini. Banyak warganet yang awalnya mengira produk itu sudah dijual, hingga akhirnya Tania memutuskan memproduksi versi komersialnya.

Hasilnya? Antusiasme luar biasa. Dalam ajang Jakarta Doodle Fest 2025, sepuluh unit Hompipah yang dibawa Tania habis terjual dalam waktu 15 menit saja.

“Mungkin karena ide permainannya sederhana tapi bisa dimainkan bareng teman atau keluarga. Orang juga nostalgia dengan permainan tradisionalnya,” ujarTania.

Saat ini, Tania masih memproduksi Hompipah secara handmade dalam skala kecil, sekitar 50 unit per batch. Meski demikian, dia mulai menyiapkan penjualan online store agar bisa menjangkau lebih banyak pembeli.

Tak berhenti di sana, Hompipah juga berkembang menjadi brand merchandise bertema tradisional. Tania menghadirkan produk seperti stiker, pouch, hairpin, gantungan kunci, hingga blind box yang mengikuti tren koleksi anak muda masa kini. Desainnya yang imut dan khas Indonesia membuat merchandise ini cepat disukai pengunjung pameran.

Semua ilustrasi dan karakter digambar langsung oleh Tania, memperkuat nilai personal dan orisinalitas produk.
Melalui Hompipah, Tania tidak hanya menghidupkan kembali permainan tradisional, tetapi juga menemukan celah bisnis yang memadukan edukasi, nostalgia, dan desain lokal.

Dia membuktikan bahwa ide sederhana yang dikemas dengan kreativitas dapat menjelma menjadi peluang bisnis bernilai. “Tujuanku sederhana yaitu mengingatkan orang bahwa bermain itu enggak harus pakai gadget. Lewat Hompipah, aku ingin orang bisa main bareng lagi, ketawa bareng lagi,” tutur Tania.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
 

SEBELUMNYA

Kenali Jenis-Jenis Raket Padel, Panduan Memilih Sesuai Level Kemahiran

BERIKUTNYA

Tiga Cara Bikin Perjalanan Wisata Lebih Bermakna dan Bertanggung Jawab

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga