Dunia Bakal Memasuki Era Post-Quantum Cryptography, Apa Itu?
07 October 2025 |
21:00 WIB
Dinamika bisnis dan ekonomi global ke depan diprediksi akan makin dinamis. Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, menyebut dunia saat ini tengah menuju ke era disrupsi baru bernama Post-Quantum Cryptography.
Gelombang disrupsi baru, menurut Rhenald, diprediksi akan menghadirkan teknologi-teknologi yang lebih maju dibandingkan era saat ini. Perubahan ini dipastikan akan merombak lanskap bisnis secara signifikan, sehingga generasi muda dituntut untuk memahami serta bersikap terbuka terhadap peluang dan tantangan yang muncul pada era tersebut.
Namun, menurutnya, persiapan menghadapi teknologi saja tidak cukup. Sebab, kesiapan mental juga menjadi kunci penting. Sebab, keduanya saling terkait karena kemampuan beradaptasi secara psikologis akan menentukan sejauh mana teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: Pakar Peringatkan, Risiko AI Sudah Memasuki Level Tinggi
Rhenald menyoroti perilaku generasi muda saat ini yang cenderung ingin segala sesuatu berlangsung cepat. Dia pun mencontohkan fenomena sederhana seperti menonton film di Netflix. Saat ini, katanya, sebagian orang bahkan mempercepat laju tayangan agar lebih cepat mengetahui akhir ceritanya.
Meski teknologi memungkinkan berbagai hal dilakukan cepat, Rhenald menekankan bahwa proses tetap memiliki nilai esensial. Proses inilah yang menjadi fondasi dalam membangun strategi dan merumuskan konsep, sehingga langkah-langkah bisnis ke depan dapat dijalankan dengan kokoh dan terencana.
"Ironinya, nyanyian-nyanyian di media sosial juga banyak sekali mengutarakan hal sebaliknya. Dari tidak perlu bekerja keras, yang penting cuan dan sebagainya. Sesekali boleh mengambil kesempatan, tetapi jangka panjang konsep tetap jadi yang penting dalam bisnis," ungkapnya dalam diskusi Next Gen Class dalam acara Wealth Wisdom 2025, Selasa, (7/10/2025).
Sebab, Rhenald menduga tantangan di masa depan diprediksi akan semakin kompleks dengan hadirnya Post-Quantum Cryptography (PQC) dalam dunia IT. Rhenald menyebut saat ini dunia masih berada pada era digital. Akan tetapi, tak lama lagi akan memasuki quantum dan post-quantum.
Quantum Computing akan mengubah cara menghitung karena berbeda dengan komputer biasa yang hanya mengenal 0 atau 1. Quantum Computer bisa menggunakan kedua kondisi itu sekaligus dalam satu waktu. Fenomena ini disebut superposisi (superposition), yang mana qubit atau quantum bit dapat berada di status 0 dan 1 sekaligus.
Dengan kapasitas untuk menghitung banyak kemungkinan secara paralel, Quantum Computer mampu menyelesaikan persoalan matematika besar dengan kecepatan yang jauh melampaui CPU konvensional. Sebagai ilustrasi, komputer klasik menghitung satu persamaan demi satu persamaan, sementara Quantum Computer memproses beberapa persamaan secara bersamaan sekaligus.
Hingga kini, penggunaan Quantum Computer masih terbatas, terutama untuk masalah matematika yang sangat rumit. Akan tetapi, potensinya telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar keamanan siber. Sebab, jika jumlah itu digunakan sepenuhnya, standar enkripsi saat ini bisa ditembus dalam waktu singkat.
Jika enkripsi berhasil ditembus, dampaknya bisa luas. Transaksi perbankan online menjadi rawan, percakapan pribadi di aplikasi pesan instan dapat bocor, dan data sensitif perusahaan berisiko diakses pihak yang tidak berwenang.
Di sinilah peran Post-Quantum Cryptography menjadi penting. PQC dirancang untuk melindungi informasi dari ancaman Quantum Computer, memastikan data tetap aman meski teknologi perhitungan ini semakin canggih.
"Esensinya adalah kecepatan. Ini disrupsinya akan besar. Namun, PQC juga diciptakan dengan janji bahwa ini akan membuat sistem cyber security lebih aman," jelasnya.
Rhenald mengatakan bahwa menyambut era baru ini tentu memerlukan investasi-investasi baru. Dia menekankan pentingnya kesiapan untuk menghadapi gelombang disrupsi berikutnya, baik gelombang kedua maupun ketiga.
Dalam pandangannya, gelombang disrupsi pertama ialah terjadi ketika kita mulai memasuki era smart machine dan Internet of Things (IoT). Saat ini, masyarakat sudah mulai memasuki tahap otomatisasi, yang menjadi bagian dari gelombang kedua. Gelombang ketiga, kata Rhenald, adalah era baru yang serba cepat dan dinamis yang disebut Post-Quantum Cryptography tersebut.
Saat era itu tiba, katanya, akan muncul berbagai produk, gagasan, dan ekosistem baru. Kedinamisan adalah napas bagi semua orang. Sebab, dunia akan bergerak makin cepat dari apa yang dibayangkan.
Dalam kondisi ini, dirinya juga menyoroti tantangan bagi negara untuk juga dinamis dalam menyesuaikan aturan hukum. Sebab, pada era semua hal bisa terjadi, negara perlu hadir membawa payung hukum yang jelas mengatur pasar. Meskipun, katanya, dalam sejarahnya negara kerap kali berjalan lebih lambat dibanding perkembangan teknologi dalam hal penyusunan aturan main.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Gelombang disrupsi baru, menurut Rhenald, diprediksi akan menghadirkan teknologi-teknologi yang lebih maju dibandingkan era saat ini. Perubahan ini dipastikan akan merombak lanskap bisnis secara signifikan, sehingga generasi muda dituntut untuk memahami serta bersikap terbuka terhadap peluang dan tantangan yang muncul pada era tersebut.
Namun, menurutnya, persiapan menghadapi teknologi saja tidak cukup. Sebab, kesiapan mental juga menjadi kunci penting. Sebab, keduanya saling terkait karena kemampuan beradaptasi secara psikologis akan menentukan sejauh mana teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: Pakar Peringatkan, Risiko AI Sudah Memasuki Level Tinggi
Rhenald menyoroti perilaku generasi muda saat ini yang cenderung ingin segala sesuatu berlangsung cepat. Dia pun mencontohkan fenomena sederhana seperti menonton film di Netflix. Saat ini, katanya, sebagian orang bahkan mempercepat laju tayangan agar lebih cepat mengetahui akhir ceritanya.
Meski teknologi memungkinkan berbagai hal dilakukan cepat, Rhenald menekankan bahwa proses tetap memiliki nilai esensial. Proses inilah yang menjadi fondasi dalam membangun strategi dan merumuskan konsep, sehingga langkah-langkah bisnis ke depan dapat dijalankan dengan kokoh dan terencana.
"Ironinya, nyanyian-nyanyian di media sosial juga banyak sekali mengutarakan hal sebaliknya. Dari tidak perlu bekerja keras, yang penting cuan dan sebagainya. Sesekali boleh mengambil kesempatan, tetapi jangka panjang konsep tetap jadi yang penting dalam bisnis," ungkapnya dalam diskusi Next Gen Class dalam acara Wealth Wisdom 2025, Selasa, (7/10/2025).

Division Head of Corporate Communications Permata Bank Gleen Ranti, Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Quantum Computing akan mengubah cara menghitung karena berbeda dengan komputer biasa yang hanya mengenal 0 atau 1. Quantum Computer bisa menggunakan kedua kondisi itu sekaligus dalam satu waktu. Fenomena ini disebut superposisi (superposition), yang mana qubit atau quantum bit dapat berada di status 0 dan 1 sekaligus.
Dengan kapasitas untuk menghitung banyak kemungkinan secara paralel, Quantum Computer mampu menyelesaikan persoalan matematika besar dengan kecepatan yang jauh melampaui CPU konvensional. Sebagai ilustrasi, komputer klasik menghitung satu persamaan demi satu persamaan, sementara Quantum Computer memproses beberapa persamaan secara bersamaan sekaligus.
Hingga kini, penggunaan Quantum Computer masih terbatas, terutama untuk masalah matematika yang sangat rumit. Akan tetapi, potensinya telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar keamanan siber. Sebab, jika jumlah itu digunakan sepenuhnya, standar enkripsi saat ini bisa ditembus dalam waktu singkat.
Jika enkripsi berhasil ditembus, dampaknya bisa luas. Transaksi perbankan online menjadi rawan, percakapan pribadi di aplikasi pesan instan dapat bocor, dan data sensitif perusahaan berisiko diakses pihak yang tidak berwenang.
Di sinilah peran Post-Quantum Cryptography menjadi penting. PQC dirancang untuk melindungi informasi dari ancaman Quantum Computer, memastikan data tetap aman meski teknologi perhitungan ini semakin canggih.
"Esensinya adalah kecepatan. Ini disrupsinya akan besar. Namun, PQC juga diciptakan dengan janji bahwa ini akan membuat sistem cyber security lebih aman," jelasnya.
Rhenald mengatakan bahwa menyambut era baru ini tentu memerlukan investasi-investasi baru. Dia menekankan pentingnya kesiapan untuk menghadapi gelombang disrupsi berikutnya, baik gelombang kedua maupun ketiga.
Dalam pandangannya, gelombang disrupsi pertama ialah terjadi ketika kita mulai memasuki era smart machine dan Internet of Things (IoT). Saat ini, masyarakat sudah mulai memasuki tahap otomatisasi, yang menjadi bagian dari gelombang kedua. Gelombang ketiga, kata Rhenald, adalah era baru yang serba cepat dan dinamis yang disebut Post-Quantum Cryptography tersebut.
Saat era itu tiba, katanya, akan muncul berbagai produk, gagasan, dan ekosistem baru. Kedinamisan adalah napas bagi semua orang. Sebab, dunia akan bergerak makin cepat dari apa yang dibayangkan.
Dalam kondisi ini, dirinya juga menyoroti tantangan bagi negara untuk juga dinamis dalam menyesuaikan aturan hukum. Sebab, pada era semua hal bisa terjadi, negara perlu hadir membawa payung hukum yang jelas mengatur pasar. Meskipun, katanya, dalam sejarahnya negara kerap kali berjalan lebih lambat dibanding perkembangan teknologi dalam hal penyusunan aturan main.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.