Peserta acara Jalan bareng Genhype melihat sejumlah karya dalam bursa seni rupa Art Jakarta 205, Sabtu (4/10/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Menilik Arus Baru Generasi Seni Rupa Muda Indonesia di Art Jakarta 2025

05 October 2025   |   15:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Bursa seni kontemporer Art Jakarta 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran kembali menjadi magnet penting dunia seni rupa Indonesia dan Asia. Dari 75 galeri yang hadir dari 16 negara, sorotan besar tertuju pada keikutsertaan MTN (Manajemen Talenta Nasional) Seni Budaya melalui pameran bertajuk Arus Baru (Rising Current).

Booth yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan ini menampilkan enam seniman muda dengan pendekatan berbasis riset dan eksperimen. Mereka adalah Dzikra Afifah, Iwan Yusuf, Mariam Sofrina, Natasha Tontey, Syaiful Garibaldi, dan Uji Hahan Handoko, yang dipilih serta dikurasi oleh Agung Hujatnika.

Arus Baru memperlihatkan sebagian wajah generasi anyar seni rupa kontemporer Indonesia sekarang. Sebagian besar seniman yang tampil merupakan mereka yang memulai kiprah pada pertengahan hingga akhir 2010-an, saat ekosistem seni rupa Indonesia berkembang dinamis. 

Keragaman latar belakang dan sensibilitas artistik para seniman menjadi kekuatan utama pameran ini. Mereka hadir dengan cara pandang yang segar untuk menafsirkan ulang sejarah, mitologi, hingga ekologi dengan bahasa visual yang relevan terhadap konteks masa kini. 

"Karya mereka berangkat dari riset, pengamatan, pemikiran yang sangat khas dipengaruhi Indonesia," ucap Agung. 

Baca juga: Dzikra Afifah dan Ingatan Purba tentang Pengorbanan di Art Jakarta 2025

Melalui Arus Baru, kurator ingin menampilkan keberagaman pendekatan artistik yang tetap terhubung oleh satu semangat, yakni menghadirkan narasi lokal. Menurutnya, karya-karya ini menjadi bukti bahwa seni rupa Indonesia tidak kehilangan akar meski terus bereksperimen.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan implementasi MTN Seni Budaya menjadi bagian penting dalam mendukung regenerasi seni. Pihaknya memposisikan MTN sebagai program prioritas sekarang untuk untuk menemukan, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara sistematis serta berkelanjutan.

Lebih jauh, program ini juga akan memberikan akses bagi seniman muda terhadap pengembangan kapasitas dan peluang pasar, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dengan demikian, talenta seni Indonesia dapat bersaing sekaligus berkontribusi dalam peta seni global.

"Kita mendorong talenta-talenta muda ini untuk berkarya, bekerja sama, dan juga berpartisipasi di dalam berbagai ekshibisi, kompetisi. Memang itulah tujuannya Manajemen Talenta tersebut," kata Fadli Zon.

Melihat keseluruhan pameran, Arus Baru menjadi representasi nyata bagaimana generasi muda membawa energi segar bagi seni rupa Indonesia. Lebih dari sekadar karya, mereka menghadirkan imajinasi baru yang mampu menyambungkan tradisi, realitas hari ini, dan masa depan.

Karya-karya yang dihadirkan enam seniman muda ini mencerminkan energi baru dalam seni rupa Indonesia. Dari instalasi berbasis riset hingga visual yang sarat narasi lokal, berikut adalah karya-karya para seniman generasi baru Indonesia:


1. Dzikra Afifah  

Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manjemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025 (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Karya Dzikra berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series dapat ditemui booth Manajemen Talenta Nasional (MTN) di Art Jakarta 2025 (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Karya Dzikra Afifah berjudul Dismembered: The Opposite of Fear dan Muscle, Mud, and Blood Series menghadirkan pengalaman visual yang mendalam tentang tubuh, ingatan, dan ketakutan purba manusia. Tubuh yang terfragmentasi pada instalasi ini tidak hanya berbicara tentang disintegrasi fisik, tetapi juga tentang ingatan kolektif yang tercerai-berai, seolah menyimpan jejak trauma

Karya Dzikra mengeksplorasi ingatan purba tentang “pengorbanan” sebagai respons manusia terhadap rasa takut akan kekacauan dan ketidakpastian alam. Sosok dewi yang berdiri di tengah lingkaran putih bukan sekadar figur estetis, melainkan representasi ambivalen, seorang pengasuh sekaligus predator, manifestasi dari memori kuno tentang kekuatan supranatural yang merawat sambil meminta pengorbanan.

Melalui pendekatan material yang kuat, Dzikra membangun dialektika antara kekerasan dan kelembutan, antara kerentanan tubuh dan daya hidup yang terus bertahan. 
 

2. Iwan Yusuf 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berdiri di samping karya Iwan Yusuf berjudul Bayi Perahu, dan menikmati senarai karya seni di Art Jakarta 2025. (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berdiri di samping karya Iwan Yusuf berjudul Bayi Perahu, dan menikmati senarai karya seni di Art Jakarta 2025. (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Karya Bayi Perahu dari Iwan Yusuf menghadirkan perpaduan antara keindahan visual dan kedalaman narasi sejarah. Dengan ukuran 200 x 160 cm, perahu ini dibangun dari kayu dan pelat baja sebagai rangka utama.

Namun, yang paling memikat adalah jaring yang direnda dengan detail hingga membentuk wajah anak-anak yang seolah tengah bermain di tepian pantai. Elemen itu membuat perahu tidak hanya menjadi objek fisik, tetapi juga ruang imajinasi yang merekam masa kecil, ingatan kolektif, serta relasi manusia dengan laut.

Melalui Bayi Perahu, Iwan menunjukkan bahwa laut bukan sekadar bentang geografis, melainkan lanskap kultural yang membentuk cara masyarakat Indonesia membayangkan masa kini sekaligus menavigasi masa depan. Bentuknya pun mengingatkan publik pada kapal Pinisi yang legendaris.


3. Natasha Tontey  

(Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Karya Natasha Tontey berjudul Of Other Tomorrows Never Known (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Karya Natasha Tontey berjudul Of Other Tomorrows Never Known tampil dalam medium film menarik yang menembus batas antara mitos, fiksi, dan imajinasi. Berangkat dari warisan Minahasa di Sulawesi Utara, Natasha merangkai cerita rakyat, kosmologi, serta ketakutan yang direkayasa untuk membayangkan kemungkinan masa depan alternatif.

Visualnya memperlihatkan simbol-simbol kosmologis Minahasa yang dipersonifikasi lewat properti kitsch, pencahayaan panggung amatir, dan lanskap suara futuristik. Melalui karya ini, Natasha mengajukan pertanyaan tentang bagaimana teknologi dapat dibingkai ulang sebagai sesuatu membicarakan kelokalan yang lebih dekat.

Dengan pendekatan tersebut, Of Other Tomorrows Never Known menawarkan pandangan segar tentang hubungan kita dengan masa depan, yang tidak sekadar ditentukan oleh modernitas, melainkan juga oleh jejak leluhur yang masih hidup dalam ingatan kolektif.


4. Mariam Sofrina  

Karya Natasha Tontey berjudul Of Other Tomorrows Never Known

Seri Non-Place, Mariam Sofrina (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Dalam seri Non-Place, Mariam Sofrina menghadirkan bangunan-bangunan kolonial dari berbagai kota di Indonesia yang disandingkan dengan lanskap perkebunan khas Hindia Belanda. Disusun di atas kanvas horizontal, tampilan ini membentuk panorama imajiner. 

Ilusi muncul dari kemahiran teknisnya. Kabut yang menyelimuti karya ini bukan sekadar efek visual, tetapi simbol tentang ingatan kolonial: samar, berlapis, sekaligus terus menghantui. Dengan begitu, karya Marian seolah mengajak kita menafsirkan ulang ruang kolonial bukan sebagai potret masa lalu yang utuh, melainkan fragmen yang penuh teka-teki. 


5. Uji Handoko 

seri Non-Place, Marian Sofrina

Karya Uji Handoko Memoji Series (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Uji Handoko, yang akrab dengan nama Hahan, menghadirkan tafsir ulang atas salah satu karya monumental Raden Saleh. Jika lukisan aslinya merekam drama heroik dan penuh ketegangan, Hahan mengganti wajah figur di dalamnya dengan Memoji, ikon digital yang selama ini akrab dalam percakapan layar sehari-hari. 

Di satu sisi, Hahan menempatkan dirinya ke dalam panggung sejarah seni Indonesia, seolah bercanda dengan Raden Saleh. Akan tetapi di sisi lain, ia membuka percakapan serius tentang bagaimana identitas, representasi, dan seni selalu dinegosiasikan ulang melalui bahasa visual pada zamannya.

Raden Saleh pernah dianggap kosmopolitan di abad ke-19, melintasi batas-batas kolonial dan budaya lokal. Hahan melanjutkan spirit itu dengan medium baru, menghadirkan Memoji sebagai simbol globalisasi kontemporer yang juga menerabas batas geografis.


6. Syaiful Garibaldi  

 instalasi Di Antara Muara #3, Syaiful Garibald (Sumber gambar: Himawan Nugraha/Hypeabis.id)

instalasi Di Antara Muara #3, Syaiful Garibaldi (Sumber gambar: Himawan Nugraha/Hypeabis.id)

Dalam instalasi Di Antara Muara #3, Syaiful Garibaldi menghadirkan instalasi berdasarkan risetnya di Muara Gembong, Bekasi. Kawasan muara ini dikenal sebagai penghasil kerang, tetapi pada perkembangannya kawasan ini juga menyimpan cerita tentang ekosistem yang terus berubah akibat polusi dan degradasi lingkungan.

Syaiful menyoroti bagaimana siklus pembusukan dan pembaruan di muara justru membuka ruang bagi munculnya bentuk-bentuk kehidupan baru. Material jamur yang ia gunakan menjadi metafora bagi daya lentur kehidupan untuk beradaptasi. Karyanya menampilkan kakus helikopter imajiner, yang seperti tumbuh dari batang dan cabang, menyiratkan keterikatan manusia dengan lanskap alam. 

Baca juga: Peserta Jalan Bareng Genhype Antusias Nikmati Karya Seni di Art Jakarta 2025

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Naik TJ, MRT & LRT Jakarta Cuma Rp80 Minggu 5 Oktober 2025 Spesial HUT TNI

BERIKUTNYA

Deretan Penampilan yang Wajib Ditonton di Synchronize Fest 2025 Hari Ketiga

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga