Film Rangga & Cinta. (Sumber gambar: Miles Films)

Review Film Rangga & Cinta: Kisah Nostalgia Romansa Remaja dalam Balutan Musikal

03 October 2025   |   19:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Lebih dari sekadar nostalgia, Rangga & Cinta yang tengah tayang di bioskop-bioskop Indonesia menyuguhkan kisah manis dua remaja di bangku sekolah menengah atas. Meski menggunakan cerita dan tokoh dari Ada Apa Dengan Cinta?, film ini tetap menghadirkan sejumlah kebaruan yang cukup menyegarkan.

Bagi generasi yang tumbuh bersama Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?), kisah Rangga dan Cinta mungkin sulit dilupakan. Beberapa adegannya bahkan telah menjadi ikonik, sekaligus melambungkan nama para pemerannya di industri perfilman dalam negeri.

Kesuksesan film yang rilis pada 2002 itu seolah ingin diulang kembali oleh para sineas di balik Rangga & Cinta yang dikemas dalam format musikal.

Baca juga: Nicholas Saputra Cerita Proses Pencarian Para Pemain Film Rangga & Cinta

Para penonton AADC? akan dibawa kembali ke suasana 2002 ketika menyaksikan film ini. Bukan tanpa alasan, sebab narasi dan alur ceritanya secara garis besar memang masih serupa. Penonton yang sudah familiar dengan versi orisinal pun akan mudah menebak jalan cerita, bahkan menemukan adegan maupun sudut pengambilan gambar yang mirip.

Cinta yang gagal menjadi pemenang dalam lomba puisi. Rangga yang tidak ingin diwawancara karena merasa tidak pernah ikut wawancara sampai dialog di dalam ruang organisasi madding dan masuknya karakter Mamet yang mengganggu terasa begitu sama.

Karakter teman sekelas rangga yang pernah diperankan oleh Edi Brokoli dengan rambutnya yang kriting megar pun diadakan dalam film ini. Tidak hanya itu, karakter Pak Wardiman juga tetap dihadirkan dalam sosok yang sama meskipun pemerannya berbeda.

Tidak hanya itu, dialog-dialog yang ada juga begitu terasa mirip. Perbedaan-perbedaan yang tersaji dalam film Rangga & Cinta sangat minor jika dibandingkan dengan Ada Apa Dengan Cinta?. Hal ini terasa membuat proses penulisannya hanya menyesuaikan detail kecil tanpa memberikan eksplorasi baru yang lebih mendalam.

Perbedaan-perbedaan itu memang membuat kebaruan. Namun, rasa greget yang sudah terlanjur ada dan melekat terasa hilang begitu saja. Salah satu adegan dan dialog itu adalah ketika Rangga dan Cinta ribut di pinggir lapangan basket.

Suasana pertandingan yang begitu ramai berpadu dengan adu peran dengan dialog yang intensif antara Rangga dan Cinta membuatnya terasa hidup dan menegangkan, seakan penonton ikut larut dalam ketegangan emosional yang mereka bangun di tengah riuhnya arena.
 

Saat dalam Rangga & Cinta, adegan ini memang masih ada dan menjadi salah satu yang dipertahankan. Namun, tidak sekuat dalam Ada Apa Dengan Cinta?. Dialog yang tersaji juga jelas berbeda meskipun memiliki inti yang sama, yakni Rangga yang protes bahwa Cinta tidak mau menatap mata saat berbincang.

Tidak hanya itu, sineas di balik Rangga & Cinta juga menyajikan kebaruan dalam beberapa simbolisme. Buku berjudul Aku karya Sjuman Djaya yang hadir dalam film ini pun memiliki cover baru.

Keberadaannya seolah memberikan pernyataan terhadap film bahwa isi tetap sama, tetapi memiliki kemasan yang berbeda. Kemudian, ada juga set dan sekolah yang lebih modern jika dibandingkan dengan Ada Apa Dengan Cinta?.


Unsur Musikal Jadi Jiwa Rangga & Cinta

Unsur musikal menjadi daya tarik utama dan tersaji begitu efektif. Kehadirannya mendukung emosi cerita yang dihadirkan oleh para pemain. Dia ada tidak hanya hadir sebagai latar, melainkan benar-benar dibawakan langsung oleh para pemain.

Salah satu contohnya adalah saat adegan Cinta yang menulis surat untuk Rangga karena kesal tidak ingin diwawancara menjadi salah satu bagian yang diberikan perhatian dan tersaji dalam bentuk musikal. Cinta meluapkan emosinya lewat nyanyian, yang dipadukan dengan ekspresi wajah penuh kekesalan dan gerakan koreografi sederhana, tetapi namun efektif.

Perpaduan itu membuat momen tersebut lebih teatrikal sekaligus segar, tanpa menghilangkan esensi emosionalnya.

Teatrikal musikal lain yang juga tersaji adalah ketika karakter Borne hendak memberikan pelajaran kepada Rangga. Adegan sederhana Cinta yang bermimpi sang sahabat, yakni Alya meninggal dunia juga disajikan dengan koreografi yang penuh simbolisme, menghadirkan nuansa sendu sekaligus dramatis.

Di antara berbagai pertunjukan musikal, penampilan Rangga & Cinta saat memainkan musik menjadi salah satu yang paling menonjol. Momen tersebut tidak hanya menampilkan chemistry keduanya, tetapi juga memperkuat emosi cerita melalui harmoni nada dan lirik yang menyatu dengan perjalanan hubungan mereka.

Secara visual, film ini menonjolkan pencahayaan hangat. Meski menampilkan warna full colour, hasil akhirnya tetap lembut, natural, dan tidak berlebihan. Pendekatan ini berhasil menjaga suasana romantis khas remaja yang ingin ditonjolkan.

Sementara itu, para pemeran dalam film ini. meskipun memiliki karakter yang sama dengan film Ada Apa Dengan Cinta?, tetap ada ciri khasnya sendiri yang berbeda. Rangga yang diperankan oleh El Putra berbeda dengan Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra meskipun memiliki inti yang sama, misterius dan pendiam.

Meski demikian, Rangga & Cinta tetap menghadirkan kisah cinta remaja SMA yang manis dan relevan. Hubungan kasih di usia belia selalu memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi penonton muda yang mungkin sedang atau pernah merasakannya.

Bagi penonton lama, film ini terasa seperti undangan nostalgia yang dikombinasikan dengan format musikal yang lebih segar. Sementara itu, bagi generasi baru yang belum mengenal kisah klasiknya, Rangga & Cinta bisa menjadi pintu masuk untuk menikmati romansa ikonik yang pernah menjadi salah satu tonggak penting dalam perfilman Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Bali Jadi Pusat Wisata Gastronomi, Kemenpar Kenalkan Wonderful Indonesia Gourmet

BERIKUTNYA

Taylor Swift Hidupkan Era Baru Lewat Album The Life of a Showgirl

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga