Panduan Thrifting di Jepang, Cara Cerdas Dapat Barang Branded Harga Miring
20 July 2025 |
13:00 WIB
Thrifting menjadi cara cerdas untuk mendapatkan produk fesyen berkualitas dengan harga terjangkau. Di kota-kota pusat mode Jepang, kita bisa menemukan streetwear kekinian sampai barang branded preloved dengan kondisi nyaris seperti baru.
Mengutip Japan Switch, toko barang bekas di Jepang sebenarnya mirip dengan yang ada di negara-negara Barat. Tapi toko-toko ini biasanya lebih bersih, rapi, dan koleksinya sangat beragam. Selain itu, perlu diketahui thrift store dan toko barang bekas (second-hand store) di Jepang memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Baca juga: 5 Kawasan Pusat Belanja Thrifting Berkualitas di Tokyo, Shimokitazawa sampai Shinjuku
Thrift store di Jepang mirip dengan Goodwill di Amerika, yaitu toko barang bekas yang umumnya dijalankan oleh organisasi nirlaba. Koleksi yang ditawarkan sangat beragam dan penyusunannya cenderung acak, sehingga perlu waktu dan ketelatenan untuk menemukan item yang sesuai selera.
Harga di thrift store bisa sangat terjangkau, mulai dari 100 yen (sekitar Rp10.000) dan biasanya tidak melebihi 5.000 yen (sekitar Rp500.000). Selain pakaian, tersedia juga barang non-fesyen seperti furnitur, buku, pernak-pernik, hingga bingkai foto dengan harga sangat murah.
Sementara itu, toko second-hand di Jepang beroperasi seperti toko vintage yang lebih terkurasi. Barang-barangnya dibeli langsung dari konsumen dan dipilih berdasarkan kualitas serta potensi nilai jual. Konsepnya serupa dengan toko Plato’s Closet di Amerika.
Harga di second-hand store jauh lebih tinggi dibanding thrift store, berkisar dari 4.000 yen (sekitar Rp400.000-Rp450.000) hingga 20.000 yen (sekitar Rp1,3 juta), terutama untuk produk bermerek yang dipajang dalam etalase kaca.
Jumlah barang di toko second-hand biasanya lebih sedikit, namun lebih tertata dan eksklusif. Selain pakaian, sering ditemukan pula barang seperti cangkir antik, mesin tik, buku klasik bersampul kulit, hingga perhiasan bernilai tinggi. Toko-toko ini mengusung pendekatan selektif dalam memilih koleksi, menjadikannya tempat yang ideal untuk mencari produk vintage berkualitas.
Dengan banyaknya pilihan dan kualitas yang terkurasi dengan baik, pengalaman berburu barang bekas di Jepang bisa jadi seru sekaligus memuaskan, asal tahu triknya. Yuk, simak tips thrifting di Jepang berikut ini.
Momen ini biasanya jadi waktu terbaik untuk menemukan item-item premium yang belum tersentuh, dari jaket vintage sampai tas branded dengan harga jauh lebih miring. Selain lebih leluasa memilih, kita juga bisa menikmati pengalaman belanja yang lebih tenang dan nyaman.
Selain itu, barang dengan kondisi Grade A biasanya tampak seperti baru karena toko-toko di Jepang memiliki standar seleksi yang sangat ketat di mana barang yang rusak atau kotor hampir tidak pernah dipajang. Jadi, meskipun bekas, kualitasnya tetap terjaga dan layak pakai.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Mengutip Japan Switch, toko barang bekas di Jepang sebenarnya mirip dengan yang ada di negara-negara Barat. Tapi toko-toko ini biasanya lebih bersih, rapi, dan koleksinya sangat beragam. Selain itu, perlu diketahui thrift store dan toko barang bekas (second-hand store) di Jepang memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Baca juga: 5 Kawasan Pusat Belanja Thrifting Berkualitas di Tokyo, Shimokitazawa sampai Shinjuku
Thrift store di Jepang mirip dengan Goodwill di Amerika, yaitu toko barang bekas yang umumnya dijalankan oleh organisasi nirlaba. Koleksi yang ditawarkan sangat beragam dan penyusunannya cenderung acak, sehingga perlu waktu dan ketelatenan untuk menemukan item yang sesuai selera.
Harga di thrift store bisa sangat terjangkau, mulai dari 100 yen (sekitar Rp10.000) dan biasanya tidak melebihi 5.000 yen (sekitar Rp500.000). Selain pakaian, tersedia juga barang non-fesyen seperti furnitur, buku, pernak-pernik, hingga bingkai foto dengan harga sangat murah.
Sementara itu, toko second-hand di Jepang beroperasi seperti toko vintage yang lebih terkurasi. Barang-barangnya dibeli langsung dari konsumen dan dipilih berdasarkan kualitas serta potensi nilai jual. Konsepnya serupa dengan toko Plato’s Closet di Amerika.
Harga di second-hand store jauh lebih tinggi dibanding thrift store, berkisar dari 4.000 yen (sekitar Rp400.000-Rp450.000) hingga 20.000 yen (sekitar Rp1,3 juta), terutama untuk produk bermerek yang dipajang dalam etalase kaca.
Jumlah barang di toko second-hand biasanya lebih sedikit, namun lebih tertata dan eksklusif. Selain pakaian, sering ditemukan pula barang seperti cangkir antik, mesin tik, buku klasik bersampul kulit, hingga perhiasan bernilai tinggi. Toko-toko ini mengusung pendekatan selektif dalam memilih koleksi, menjadikannya tempat yang ideal untuk mencari produk vintage berkualitas.
Dengan banyaknya pilihan dan kualitas yang terkurasi dengan baik, pengalaman berburu barang bekas di Jepang bisa jadi seru sekaligus memuaskan, asal tahu triknya. Yuk, simak tips thrifting di Jepang berikut ini.
1. Riset Toko Thrifting Populer
Kunjungi jaringan thrift besar seperti RAGTAG, 2nd Street, Mode Off, dan Bookoff Super Bazaar, yang tersebar luas di Tokyo. Mereka menyediakan produk preloved, mulai dari streetwear hingga label desainer, dengan harga jauh lebih terjangkau dibandingkan produk baru. Beberapa outlet bahkan memiliki rak khusus untuk luxury item dengan sertifikasi keaslian.2. Datang Lebih Awal dan Pilih Hari Kerja
Barang-barang terbaik sering terjual lebih cepat, jadi datanglah datanglah di pagi hari saat toko baru buka, atau pilih hari kerja ketika pengunjung tidak terlalu ramai.Momen ini biasanya jadi waktu terbaik untuk menemukan item-item premium yang belum tersentuh, dari jaket vintage sampai tas branded dengan harga jauh lebih miring. Selain lebih leluasa memilih, kita juga bisa menikmati pengalaman belanja yang lebih tenang dan nyaman.
3. Pahami Etiket Belanja Thrift di Jepang
Jepang terkenal dengan keteraturan. Saat melihat-lihat, kembalikan barang ke tempat semula dan jangan tawar menawar. Harga yang tertera adalah harga final. Upaya negosiasi bisa dianggap tidak sopan dan membuat suasana canggung. Jika merasa harga terlalu tinggi, solusi terbaik adalah mencari toko lain dengan harga lebih sesuai.4. Perhatikan Label Diskon & Kualitas
Saat berbelanja di toko barang bekas di Jepang, perhatikan apakah ada label diskon berwarna merah (red tag). Banyak toko menggunakan sistem penandaan warna pada tag harga untuk menandai barang yang mendapatkan diskon, biasanya karena telah berada di toko cukup lama atau sedang memasuki akhir musim.Selain itu, barang dengan kondisi Grade A biasanya tampak seperti baru karena toko-toko di Jepang memiliki standar seleksi yang sangat ketat di mana barang yang rusak atau kotor hampir tidak pernah dipajang. Jadi, meskipun bekas, kualitasnya tetap terjaga dan layak pakai.
5. Sesuaikan Ukuran Pakaian
Ukuran pakaian di Jepang cenderung lebih kecil dibanding standar internasional, jadi penting untuk membawa tabel konversi ukuran atau langsung mencobanya di ruang ganti jika tersedia. Jangan sungkan bertanya pada staf jika ragu soal ukuran.6. Siapkan Alat Pembayaran
Siapkan opsi pembayaran yang tepat. Meskipun toko-toko besar biasanya menerima kartu dan pembayaran digital seperti PayPay atau Suica, banyak toko kecil hanya menerima uang tunai. Untuk menghindari kerepotan saat transaksi, pastikan selalu membawa uang tunai saat thrifting, terutama jika menyusuri area-area lokal atau toko tersembunyi yang tidak terhubung dengan sistem pembayaran digital.(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.