TUBUH DAN KOTA

07 May 2021   |   00:08 WIB
Image
Suselo Jati
Hypeabis.id

Sampah selalu menjadi permasalahan utama di kota-kota besar. Volume sampah yang terus meningkat kian tahun semakin diperparah dengan tidak adanya kesadaran pemerintah untuk menambah jumlah Tempat Pembuangan Umum (TPU) atau memaksa masyarakat untuk menekan jumlah sampah. Di sisi lain, meningkatnya volume sampah ini seringkali menimbulkan berbagai masalah, seperti banjir, polusi air, penyakit, dan hal-hal lain yang menggerogoti masyarakat, terutama mereka yang berada di lingkungan kelas menengah ke bawah.
Dalam karya ini, bagian wajah secara utuh menjadi representasi dari kesedihan masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling sering menerima dampak dari meningkatnya volume sampah yang tidak terolah dengan baik. Di satu sisi, kesadaran masyarakat sendiri dalam mengolah sampah untuk menghindari dampak buruk dari tingginya volume sampah masih rendah, misalnya dalam hal membuang sampah di tempatnya atau memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak.
Sampah selalu menjadi permasalahan utama di kota-kota besar. Volume sampah yang terus meningkat kian tahun semakin diperparah dengan tidak adanya kesadaran pemerintah untuk menambah jumlah Tempat Pembuangan Umum (TPU) atau memaksa masyarakat untuk menekan jumlah sampah. Di sisi lain, meningkatnya volume sampah ini seringkali menimbulkan berbagai masalah, seperti banjir, polusi air, penyakit, dan hal-hal lain yang menggerogoti masyarakat, terutama mereka yang berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Dalam karya ini, bagian wajah secara utuh menjadi representasi dari kesedihan masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling sering menerima dampak dari meningkatnya volume sampah yang tidak terolah dengan baik. Di satu sisi, kesadaran masyarakat sendiri dalam mengolah sampah untuk menghindari dampak buruk dari tingginya volume sampah masih rendah, misalnya dalam hal membuang sampah di tempatnya atau memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak.
Kepemilikan rumah di perkotaan adalah masalah tertentu bagi masyarakat yang berada di kelas menengah ke bawah. Pemasukan atau gaji yang tidak sebanding dengan pengeluaran seringkali menjadi penyebab ketidakmampuan dalam membeli rumah, apalagi harga properti di perkotaan semakin hari semakin melambung tajam dan tidak terkendali. Jangankan membeli atau mencicil, mengontrak pun seringkali tidak mampu. Padahal, rumah merupakan kebutuhan primer yang tidak mungkin tidak dipenuhi untuk bisa bertahan hidup. Walau demikian, pengembang properti terus menerus membuat perumahan yang tidak terbeli ini. Akibatnya kepadatan perumahan terjadi tapi daya beli tidak ada. Solusi bagi masyarakat kelas bawah terutama adalah tinggal di tempat-tempat kumuh dan membuat bedeng di lahan tak berizin, yang seringkali mengantarkan pada penggusuran.
Bagi mereka yang tidak bisa memiliki rumah, hal ini menjadi persoalan tersendiri yang sangat membebani pikiran. Itu sebabnya dalam karya ini, kepala menjadi representas
Kepemilikan rumah di perkotaan adalah masalah tertentu bagi masyarakat yang berada di kelas menengah ke bawah. Pemasukan atau gaji yang tidak sebanding dengan pengeluaran seringkali menjadi penyebab ketidakmampuan dalam membeli rumah, apalagi harga properti di perkotaan semakin hari semakin melambung tajam dan tidak terkendali. Jangankan membeli atau mencicil, mengontrak pun seringkali tidak mampu. Padahal, rumah merupakan kebutuhan primer yang tidak mungkin tidak dipenuhi untuk bisa bertahan hidup. Walau demikian, pengembang properti terus menerus membuat perumahan yang tidak terbeli ini. Akibatnya kepadatan perumahan terjadi tapi daya beli tidak ada. Solusi bagi masyarakat kelas bawah terutama adalah tinggal di tempat-tempat kumuh dan membuat bedeng di lahan tak berizin, yang seringkali mengantarkan pada penggusuran. Bagi mereka yang tidak bisa memiliki rumah, hal ini menjadi persoalan tersendiri yang sangat membebani pikiran. Itu sebabnya dalam karya ini, kepala menjadi representas
Remaja cenderung akrab dengan teknologi digital dan sosial media. Melalui sosial media, seseorang cenderung lebih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain yang ia lihat di sosial media. Akibatnya, hal ini mendorong sifat konsumtif alias gemar membelanjakan uang untuk sesuatu yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan. Konsumerisme semacam ini dilakukan untuk mengejar gaya hidup yang sering kali tidak terbeli dengan uang sendiri.
Di sisi lain, kehadiran mall di kota-kota besar selalu mendorong seseorang untuk menggapai gaya hidup tersebut. Adanya program diskon, cicilan, dan lain-lain membuat orang tergiur untuk menghabiskan uang yang secara terbatas ia miliki. Akibatnya, banyak remaja terlilit utang dan cara hidup “gali lubang tutup lubang” sekadar untuk tampil cantik dan mewah di sosial media.
Remaja cenderung akrab dengan teknologi digital dan sosial media. Melalui sosial media, seseorang cenderung lebih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain yang ia lihat di sosial media. Akibatnya, hal ini mendorong sifat konsumtif alias gemar membelanjakan uang untuk sesuatu yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan. Konsumerisme semacam ini dilakukan untuk mengejar gaya hidup yang sering kali tidak terbeli dengan uang sendiri. Di sisi lain, kehadiran mall di kota-kota besar selalu mendorong seseorang untuk menggapai gaya hidup tersebut. Adanya program diskon, cicilan, dan lain-lain membuat orang tergiur untuk menghabiskan uang yang secara terbatas ia miliki. Akibatnya, banyak remaja terlilit utang dan cara hidup “gali lubang tutup lubang” sekadar untuk tampil cantik dan mewah di sosial media.
Kota besar identik dengan pembangunan infrastruktur yang tak selesai-selesai. Banyaknya proyek pembangunan infrastruktur ini di satu sisi membuka lapangan pekerjaan kasar yang cukup banyak untuk para remaja yang masih memiliki kemampuan fisik yang mumpuni. Di sisi lain, banyaknya proyek ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima oleh para pekerjanya. Belum lagi persoalan keselamatan kerja yang seringkali kurang memadai, dengan tidak adanya asuransi yang menjamin keselamatan. Dapat dibilang, tubuh ditukar begitu saja untuk mendapatkan pekerjaan kasar yang tidak layak.
Kota besar identik dengan pembangunan infrastruktur yang tak selesai-selesai. Banyaknya proyek pembangunan infrastruktur ini di satu sisi membuka lapangan pekerjaan kasar yang cukup banyak untuk para remaja yang masih memiliki kemampuan fisik yang mumpuni. Di sisi lain, banyaknya proyek ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima oleh para pekerjanya. Belum lagi persoalan keselamatan kerja yang seringkali kurang memadai, dengan tidak adanya asuransi yang menjamin keselamatan. Dapat dibilang, tubuh ditukar begitu saja untuk mendapatkan pekerjaan kasar yang tidak layak.
Semenjak reformasi di tahun 1998, remaja menjadi bagian masyarakat yang dianggap paling mewakili untuk menyuarakan aspirasi masyarakat jika terjadi ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Suara remaja, khususnya mereka yang merupakan mahasiswa, masih dianggap lebih didengar oleh pemerintah.
Di kota besar, banyak aktivis yang tampil di masyarakat diwakili oleh anak muda alias remaja. Mulut menjadi alat yang paling mewakili untuk bersuara atau dalam hal ini beraspirasi dalam bentuk demonstrasi.
Semenjak reformasi di tahun 1998, remaja menjadi bagian masyarakat yang dianggap paling mewakili untuk menyuarakan aspirasi masyarakat jika terjadi ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Suara remaja, khususnya mereka yang merupakan mahasiswa, masih dianggap lebih didengar oleh pemerintah. Di kota besar, banyak aktivis yang tampil di masyarakat diwakili oleh anak muda alias remaja. Mulut menjadi alat yang paling mewakili untuk bersuara atau dalam hal ini beraspirasi dalam bentuk demonstrasi.
Di balik gemerlap mall dan segala isinya, pasar tradisional yang dianggap jorok dan kotor masih hadir di kota-kota besar. Biasanya pasar tradisional ini buka dan ramai di waktu subuh, lalu menjadi sepi menjelang siang. Meski bukan tempat untuk bersosialisasi, pasar masih bertahan karena banyak barang murah dan serba ada di pasar tradisional. Pada tataran ekonomi kelas menengah ke bawah, berbelanja di pasar tradisional masih menjadi pilihan utama.
Di balik gemerlap mall dan segala isinya, pasar tradisional yang dianggap jorok dan kotor masih hadir di kota-kota besar. Biasanya pasar tradisional ini buka dan ramai di waktu subuh, lalu menjadi sepi menjelang siang. Meski bukan tempat untuk bersosialisasi, pasar masih bertahan karena banyak barang murah dan serba ada di pasar tradisional. Pada tataran ekonomi kelas menengah ke bawah, berbelanja di pasar tradisional masih menjadi pilihan utama.