MEMBACA SEBAGAI PERLAWANAN DI JILF 2025
15 November 2025 |
22:04 WIB
Konflik di Palestina bukan hanya perihal agama, tetapi juga ketidakadilan yang mengakar sejak peristiwa Nakba pada 1948. Hal ini disampaikan Goenawan Mohamad (GM) dalam diskusi buku Wajah di Palestina di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025. GM menyoroti bagaimana kolonialisme modern bekerja melalui dukungan kekuatan global, serta bagaimana nasionalisme Zionisme, kolonialisme Inggris, dan praktik ethnic cleansing mengubah konflik yang dulu bersifat sosial menjadi absolut dan mematikan. Menurut GM, meskipun dunia kini dibanjiri dokumentasi, pemahaman tetap memerlukan kedalaman moral yang disediakan oleh sastra.
Sejalan dengan itu, Hikmat Darmawan menilai esai-esai GM dalam buku tersebut sebagai perjalanan empati seorang intelektual yang beralih dari pandangan politik dingin ke kesadaran kemanusiaan. Generasi muda kini lebih mengenal Palestina lewat dokumentasi warga dan media sosial, bukan pembacaan geopolitik seperti dulu. Namun, aksi solidaritas dan boikot tetap menjadi langkah penting dalam menolak normalisasi kekerasan. Di tengah tragedi, harapan tetap harus dijaga, ujar GM, karena sejarah selalu membuka ruang perubahan tak terduga.
Pada sesi lain, JILF 2025 juga menyoroti relevansi karya Pramoedya Ananta Toer dalam diskusi “Pram, Journey, and the Future”. Pram dipandang sebagai suara kritis yang tak lekang waktu, terutama dalam konteks negara yang terus mencoba mengendalikan narasi sejarah. Penulis dan peneliti seperti Karunia Haganta dan Martin Suryajaya menegaskan bahwa karya Pram tidak hanya mengisahkan sejarah perlawanan, tetapi juga menunjukkan bagaimana pengetahuan bisa dibatasi lewat represi politik, baik di masa kolonial, Orde Baru, maupun era digital yang dikendalikan algoritma.
Dari pengalaman pemenjaraan hingga pelarangan buku, Pram menjadi simbol perlawanan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi baru penulis dan aktivis. Tetralogi Bumi Manusia, misalnya, sempat menjadi ikon pergerakan mahasiswa di akhir Orde Baru, dan kini kembali dibaca dalam konteks krisis sosial dan politik global. Generasi muda menemukan kembali pentingnya karya Pram sebagai panduan dalam mengurai kekuasaan dan menjaga martabat manusia.
Refleksi mendalam tentang peran membaca juga muncul dalam diskusi “Apa Arti Membaca Setelah Soeharto Menjadi Pahlawan?” yang diinisiasi kelompok Turah Sekam, Perpustakaan Jalanan, dan Membaca Melawan. Membaca diposisikan bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi sebagai tindakan politik yang mempertanyakan siapa yang berhak menentukan kebenaran. Melalui lapakan buku di trotoar dan ruang-ruang inklusif untuk perempuan serta kelompok rentan, komunitas ini memperluas akses dan ruang aman bagi warga untuk berpikir dan berbagi.
Dalam dunia yang diramaikan banjir informasi dan sensor terselubung, membaca buku fisik atau zine adalah tindakan perlawanan yang menolak narasi tunggal. Seperti ditegaskan para panelis, ruang-ruang literasi yang digerakkan komunitas adalah cara mengikat masyarakat dalam solidaritas dan keberanian. Di JILF 2025, membaca bukan hanya jendela dunia melainkan fondasi kebebasan.
Editor : Nurul Hidayat
Editor : Nurul Hidayat
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.