MAJELIS NYALA PURNAMA TAMPILKAN HUMANISME KULTURAL GUS DUR

11 September 2025   |   20:12 WIB

Putri bungsu Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Inayah Wahid, membawakan orasi budaya pada Majelis Nyala Purnama di Selasar Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/9/2025). Makara Art Center Ul bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar acara rutin bulanan yang diberi nama Majelis Nyala Purnama, sebuah ruang teduh untuk merayakan keberagaman, serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan Indonesia.
Putri bungsu Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Inayah Wahid, membawakan orasi budaya pada Majelis Nyala Purnama di Selasar Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/9/2025). Makara Art Center Ul bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar acara rutin bulanan yang diberi nama Majelis Nyala Purnama, sebuah ruang teduh untuk merayakan keberagaman, serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan Indonesia.
Majelis Nyala Purnama kali ini mengangkat tema <em>Humanisme Kultural Gus Dur</em>. Menghadirkan perjumpaan hangat antara ngaji budaya, musik, puisi, tari, dan meditasi-sebuah harmoni lintas ekspresi yang mencerminkan semangat Gus Dur dalam merawat keberagaman.
Majelis Nyala Purnama kali ini mengangkat tema Humanisme Kultural Gus Dur. Menghadirkan perjumpaan hangat antara ngaji budaya, musik, puisi, tari, dan meditasi-sebuah harmoni lintas ekspresi yang mencerminkan semangat Gus Dur dalam merawat keberagaman.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menuturkan bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki perhatian yang tinggi terhadap kebudayaan. Sebab bagi Gus Dur, kebudayaan menjadi ciri untuk membedakan antara manusia dan makhluk lainnya, seperti hewan, malaikat, dan jin.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menuturkan bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki perhatian yang tinggi terhadap kebudayaan. Sebab bagi Gus Dur, kebudayaan menjadi ciri untuk membedakan antara manusia dan makhluk lainnya, seperti hewan, malaikat, dan jin.
Konsep kemanusiaan Gus Dur dalam konteks kebudayaan adalah menggali nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu, Gus Dur tidak mengkonfrontasi antara tradisionalitas dan modernitas. Misalnya dengan menempatkan tradisionalitas sebagai subordinat dan modernitas sebagai dominan. Sebab jika keduanya dikonfrontasi, maka dapat mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Menempatkan posisi keduanya secara seimbang atau sejajar, menyebabkan Gus Dur berpikir secara rasional, positivistik, dan modern.
Konsep kemanusiaan Gus Dur dalam konteks kebudayaan adalah menggali nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu, Gus Dur tidak mengkonfrontasi antara tradisionalitas dan modernitas. Misalnya dengan menempatkan tradisionalitas sebagai subordinat dan modernitas sebagai dominan. Sebab jika keduanya dikonfrontasi, maka dapat mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Menempatkan posisi keduanya secara seimbang atau sejajar, menyebabkan Gus Dur berpikir secara rasional, positivistik, dan modern.
Namun di sisi lain, Gus Dur juga memasukkan atau mengeksplorasi&nbsp;nilai-nilai spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Menurutnya, Gus Dur ingin mengembalikan bahwa konstruksi kebudayaan Nusantara itu pertautan antara rasionalitas dan spiritualitas. Sementara selama ini, kaum modern tidak mengakui spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Bagi mereka, kebudayaan adalah segala cipta, rasa, dan karsa yang bersumber dari rasionalitas.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Namun di sisi lain, Gus Dur juga memasukkan atau mengeksplorasi nilai-nilai spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Menurutnya, Gus Dur ingin mengembalikan bahwa konstruksi kebudayaan Nusantara itu pertautan antara rasionalitas dan spiritualitas. Sementara selama ini, kaum modern tidak mengakui spiritualitas sebagai bagian dari kebudayaan. Bagi mereka, kebudayaan adalah segala cipta, rasa, dan karsa yang bersumber dari rasionalitas.

Editor : Yayus Yuswoprihanto