PEMENTASAN TEATER BUNGA PENUTUP ABAD

01 September 2025   |   21:12 WIB

Aktor Reza Rahardian dan Chelsea Islan memerankan tokoh Minke dan Annelies pada pementasan teater bertajuk Bunga Penutup Abad di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Kamis (28/8/2025). 
Aktor Reza Rahardian dan Chelsea Islan memerankan tokoh Minke dan Annelies pada pementasan teater bertajuk Bunga Penutup Abad di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Kamis (28/8/2025). 
Pementasan teater yang diproduksi oleh Titimangsa ini dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, menjadi bagian dari rangkaian program satu tahun peringatan Seabad Pram yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation. Momentum ini menjadi pengingat bahwa karya-karya Pram tidak hanya abadi, tetapi juga terus relevan dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan hingga hari ini.<br />
&nbsp;
Pementasan teater yang diproduksi oleh Titimangsa ini dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, menjadi bagian dari rangkaian program satu tahun peringatan Seabad Pram yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation. Momentum ini menjadi pengingat bahwa karya-karya Pram tidak hanya abadi, tetapi juga terus relevan dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan hingga hari ini.
 
Bunga Penutup Abad sebagai produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.&nbsp;<br />
Pementasan tahun ini menjadi pementasan Bunga Penutup Abad keempat setelah sukses diselenggarakan pada 2016, 2017 dan 2018.
Bunga Penutup Abad sebagai produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. 
Pementasan tahun ini menjadi pementasan Bunga Penutup Abad keempat setelah sukses diselenggarakan pada 2016, 2017 dan 2018.
Pentas tahun ini hadir dengan berbagai kebaruan untuk memberikan kesegaran baru bagi penonton. Dari segi naskah cerita mengalami sedikit penyesuaian dan dipadatkan sehingga penonton akan mendapatkan sajian karya yang terasa segar.
Pentas tahun ini hadir dengan berbagai kebaruan untuk memberikan kesegaran baru bagi penonton. Dari segi naskah cerita mengalami sedikit penyesuaian dan dipadatkan sehingga penonton akan mendapatkan sajian karya yang terasa segar.
Skenografi panggung juga mengalami perkembangan yang lebih baik dengan menggunakan panggung putar yang belum pernah diaplikasikan pada tiga pementasan sebelumnya.&nbsp;Konsep ini memungkinkan perpindahan adegan yang lebih dinamis, menciptakan pengalaman menonton yang lebih imersif.
Skenografi panggung juga mengalami perkembangan yang lebih baik dengan menggunakan panggung putar yang belum pernah diaplikasikan pada tiga pementasan sebelumnya. Konsep ini memungkinkan perpindahan adegan yang lebih dinamis, menciptakan pengalaman menonton yang lebih imersif.
Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman untuk menemani ke mana pun Annelies pergi. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto<br />
&nbsp;
Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman untuk menemani ke mana pun Annelies pergi. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Editor : Yayus Yuswoprihanto