ARTMOMENTS JAKARTA 2025 TAMPILKAN KOLEKSI 60 GALERI SENI BERBAGAI NEGARA

08 August 2025   |   23:56 WIB

Pantulan pengunjung terlihat dari salah satu karya yang ditampilkan pada ArtMoments Jakarta 2025 di Jakarta, Kamis (7/8/2025). Pada penyelenggaran tahun ini, bursa seni kontemporer ArtMoments Jakarta 2025 menyapa publik dengan nuansa yang segar dan lokasi anyar yakni di AGORA Exhibition Hall, pada 7–10 Agustus 2025. Mengangkat tema Restoration, ajang ini menjadi ruang pulih dan temu untuk dunia seni yang haus akan koneksi, kebersamaan, dan cahaya baru pasca jeda panjang. Sebanyak 60 galeri seni dari berbagai penjuru dunia bergabung, membawa serta karya lebih dari 600 seniman yang siap menggugah rasa.
Pantulan pengunjung terlihat dari salah satu karya yang ditampilkan pada ArtMoments Jakarta 2025 di Jakarta, Kamis (7/8/2025). Pada penyelenggaran tahun ini, bursa seni kontemporer ArtMoments Jakarta 2025 menyapa publik dengan nuansa yang segar dan lokasi anyar yakni di AGORA Exhibition Hall, pada 7–10 Agustus 2025. Mengangkat tema Restoration, ajang ini menjadi ruang pulih dan temu untuk dunia seni yang haus akan koneksi, kebersamaan, dan cahaya baru pasca jeda panjang. Sebanyak 60 galeri seni dari berbagai penjuru dunia bergabung, membawa serta karya lebih dari 600 seniman yang siap menggugah rasa.
Tahun ini, ArtMoments Jakarta menorehkan penghormatan mendalam pada empat pilar seni rupa modern Indonesia yakni, Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, S. Sudjojono, dan Fadjar Sidik. Lewat karya-karya mereka yang ikonis, pengunjung diajak menyelami sejarah panjang pencarian identitas visual Nusantara, sebuah refleksi tentang dari mana kita datang dan ke mana arah kita melangkah.
Tahun ini, ArtMoments Jakarta menorehkan penghormatan mendalam pada empat pilar seni rupa modern Indonesia yakni, Sudjana Kerton, Ahmad Sadali, S. Sudjojono, dan Fadjar Sidik. Lewat karya-karya mereka yang ikonis, pengunjung diajak menyelami sejarah panjang pencarian identitas visual Nusantara, sebuah refleksi tentang dari mana kita datang dan ke mana arah kita melangkah.
Tak hanya berpijak pada masa lalu, pameran ini juga menyentuh ranah-ranah yang selama ini dianggap tabu. <em>NUDE: Sex, Gender &amp; Eroticism in Indonesian Art</em>, hadir sebagai suara yang berani menyingkap tubuh dalam rupa dan makna. Dikuratori oleh Natasha Doroshenko Murray, pameran ini melintasi generasi dan disiplin, membuka ruang untuk percakapan yang jujur tentang seksualitas, identitas, dan hasrat dalam lanskap budaya visual Indonesia.
<div>&nbsp;</div>
Tak hanya berpijak pada masa lalu, pameran ini juga menyentuh ranah-ranah yang selama ini dianggap tabu. NUDE: Sex, Gender & Eroticism in Indonesian Art, hadir sebagai suara yang berani menyingkap tubuh dalam rupa dan makna. Dikuratori oleh Natasha Doroshenko Murray, pameran ini melintasi generasi dan disiplin, membuka ruang untuk percakapan yang jujur tentang seksualitas, identitas, dan hasrat dalam lanskap budaya visual Indonesia.
 
Untuk memperdalam pengalaman artistik, ArtMoments Jakarta menghadirkan Converse Moments dan Makers Moments, forum-forum dialog intim antara seniman, kurator, kolektor, dan publik. Di ruang-ruang ini, wacana tumbuh bebas dan gagasan bertukar, menghadirkan atmosfer kreatif yang tak hanya menyentuh estetika, tetapi juga menghidupkan empati dan pemahaman.
Untuk memperdalam pengalaman artistik, ArtMoments Jakarta menghadirkan Converse Moments dan Makers Moments, forum-forum dialog intim antara seniman, kurator, kolektor, dan publik. Di ruang-ruang ini, wacana tumbuh bebas dan gagasan bertukar, menghadirkan atmosfer kreatif yang tak hanya menyentuh estetika, tetapi juga menghidupkan empati dan pemahaman.
ArtMoments Jakarta 2025 bukan sekadar pameran. Ini adalah perayaan, ruang pulih, dan titik temu lintas generasi. Sebuah momentum di mana seni menjelma sebagai bahasa universal untuk menyapa masa kini dan merayakan kemungkinan-kemungkinan esok hari.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto&nbsp;
ArtMoments Jakarta 2025 bukan sekadar pameran. Ini adalah perayaan, ruang pulih, dan titik temu lintas generasi. Sebuah momentum di mana seni menjelma sebagai bahasa universal untuk menyapa masa kini dan merayakan kemungkinan-kemungkinan esok hari.

Editor : Yayus Yuswoprihanto