KITA BERKEBAYA HADIRKAN RUANG DIALOG TENTANG IDENTITAS, BUDAYA, DAN KEBERDAYAAN PEREMPUAN

28 July 2025   |   16:55 WIB

Ketua Komunitas Kebaya Menari Yanti Moeljono (<em>kanan</em>) dan Penyanyi Andien (<em>kedua kanan</em>) menyampaikan pemaparan saat sesi bincang santai <em>Berdaya Lewat Kebaya: Perempuan, Identitas, dan Inspirasi Generasi </em>dalam rangkaian acara program Kita Berkebaya di Posco Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/7/2025). Dalam rangka Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli, Bakti Budaya Djarum Foundation menginisiasi gerakan Kita Berkebaya, yang kembali mengingatkan bahwa kebaya bukan sekadar busana tradisional atau simbol nostalgia, tetapi juga wujud sikap, perlawanan, dan kebanggaan perempuan Indonesia.<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250728_085956_129.sdocx-->
Ketua Komunitas Kebaya Menari Yanti Moeljono (kanan) dan Penyanyi Andien (kedua kanan) menyampaikan pemaparan saat sesi bincang santai Berdaya Lewat Kebaya: Perempuan, Identitas, dan Inspirasi Generasi dalam rangkaian acara program Kita Berkebaya di Posco Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/7/2025). Dalam rangka Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli, Bakti Budaya Djarum Foundation menginisiasi gerakan Kita Berkebaya, yang kembali mengingatkan bahwa kebaya bukan sekadar busana tradisional atau simbol nostalgia, tetapi juga wujud sikap, perlawanan, dan kebanggaan perempuan Indonesia.
Gerakan Kita Berkebaya menghadirkan sesi perbincangan yang membahas pemberdayaan perempuan lewat kebaya, dan dimeriahkan juga dengan pameran dan basar kebaya, hingga penampilan hiburan dari&nbsp;DJ Skeletale&nbsp;dan suara merdu&nbsp;Rahmania Astrini.<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250728_090017_472.sdocx-->
Gerakan Kita Berkebaya menghadirkan sesi perbincangan yang membahas pemberdayaan perempuan lewat kebaya, dan dimeriahkan juga dengan pameran dan basar kebaya, hingga penampilan hiburan dari DJ Skeletale dan suara merdu Rahmania Astrini.
Dengan menghadirkan suara-suara perempuan yang berani, reflektif, dan otentik, gerakan Kita Berkebaya ini membuka ruang baru bagi kebaya untuk terus hidup dalam berbagai bentuk. Kebaya bukan sebagai sesuatu yang kaku atau eksklusif, tapi wadah ekspresi diri. <!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250728_090118_348.sdocx-->
Dengan menghadirkan suara-suara perempuan yang berani, reflektif, dan otentik, gerakan Kita Berkebaya ini membuka ruang baru bagi kebaya untuk terus hidup dalam berbagai bentuk. Kebaya bukan sebagai sesuatu yang kaku atau eksklusif, tapi wadah ekspresi diri.
Melalui gerakan ini, harapannya untuk masa depan kebaya bisa menjadi bagian dari identitas sehari-hari perempuan Indonesia. Kebaya dikenakan bukan hanya di acara formal, tapi juga dalam kehidupan yang dinamis, penuh warna, dan autentik, seperti perempuan-perempuan hebat yang mengenakannya.<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250728_090204_373.sdocx-->
Melalui gerakan ini, harapannya untuk masa depan kebaya bisa menjadi bagian dari identitas sehari-hari perempuan Indonesia. Kebaya dikenakan bukan hanya di acara formal, tapi juga dalam kehidupan yang dinamis, penuh warna, dan autentik, seperti perempuan-perempuan hebat yang mengenakannya.
Kebaya bisa terus hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang memberdayakan, baik dari penjual kain, penjahit, pembatik, perancang busana, hingga pelaku industri kreatif lainnya di seluruh Indonesia. Kebaya tidak hanya hidup, tapi juga menghidupi.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_250728_090255_898.sdocx-->
Kebaya bisa terus hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang memberdayakan, baik dari penjual kain, penjahit, pembatik, perancang busana, hingga pelaku industri kreatif lainnya di seluruh Indonesia. Kebaya tidak hanya hidup, tapi juga menghidupi.

Editor : Yayus Yuswoprihanto