TRADISI TUTUP TAHUN SUNDA DI KAMPUNG ADAT CIRENDEU

23 July 2025   |   22:34 WIB

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, menggelar peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda pada 10–12 Juli 2025. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk refleksi dan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani.
Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, menggelar peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda pada 10–12 Juli 2025. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk refleksi dan evaluasi terhadap kehidupan yang telah dijalani.
Kampung Adat Cireundeu adalah sebuah kampung adat yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Kampung ini terkenal karena masyarakatnya yang masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan Sunda Wiwitan. Meskipun begitu, masyarakatnya bersifat terbuka terhadap agama atau kepercayaan selain yang mereka anut, karena mereka memandang perbedaan terutama dalam hal kepercayaan adalah sesuatu keindahan.
Kampung Adat Cireundeu adalah sebuah kampung adat yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Kampung ini terkenal karena masyarakatnya yang masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan Sunda Wiwitan. Meskipun begitu, masyarakatnya bersifat terbuka terhadap agama atau kepercayaan selain yang mereka anut, karena mereka memandang perbedaan terutama dalam hal kepercayaan adalah sesuatu keindahan.
Tradisi pergantian Tahun Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu diisi dengan upacara adat, dengan menampilkan berbagai kesenian seperti wayang golek, angklung buncis, tarawangsa, gondang kreasi dan tarian lainnya, serta doa bersama lintas iman dan masyarakat sekitar. Pada kegiatan tradisi leluhur tersebut, warga adat Cireundeu berdoa atas perjalanan setahun terakhir dan mengucap harapan untuk kehidupan di tahun mendatang.
Tradisi pergantian Tahun Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu diisi dengan upacara adat, dengan menampilkan berbagai kesenian seperti wayang golek, angklung buncis, tarawangsa, gondang kreasi dan tarian lainnya, serta doa bersama lintas iman dan masyarakat sekitar. Pada kegiatan tradisi leluhur tersebut, warga adat Cireundeu berdoa atas perjalanan setahun terakhir dan mengucap harapan untuk kehidupan di tahun mendatang.
Salah satu tradisi yang juga menjadi keunggulan Kampung Adat Cireundeu adalah tidak memilih nasi sebagai bahan makanan pokok. Warga di sana lebih memilih olahan singkong sebagai karbohidrat dan hal tersebut telah diterapkan secara turun temurun, yang disebut rasi atau beras singkong.
Salah satu tradisi yang juga menjadi keunggulan Kampung Adat Cireundeu adalah tidak memilih nasi sebagai bahan makanan pokok. Warga di sana lebih memilih olahan singkong sebagai karbohidrat dan hal tersebut telah diterapkan secara turun temurun, yang disebut rasi atau beras singkong.
Ritual tahunan ini menjadi gambaran dari kerukunan berbagai umat beragama dan keyakinan yang ada di Kampung Adat Cireundeu. Kondisi tersebut menjadi magnet tersendiri yang mampu menyedot perhatian wisatawan. Nilai-nilai toleransi tinggi tetap mampu dipertahankan selama bertahun-tahun.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Ritual tahunan ini menjadi gambaran dari kerukunan berbagai umat beragama dan keyakinan yang ada di Kampung Adat Cireundeu. Kondisi tersebut menjadi magnet tersendiri yang mampu menyedot perhatian wisatawan. Nilai-nilai toleransi tinggi tetap mampu dipertahankan selama bertahun-tahun.

Editor : Yayus Yuswoprihanto