KEI IMAZU ANGKAT TRAGEDI TENGGELAMNYA KAPAL BATAVIA DALAM PAMERAN THE SEA IS BARELY WRINKLED

22 May 2025   |   21:39 WIB

Seniman Kei Imazu (tengah) berbincang dengan pengunjung saat Pameran <em>The Sea is Barely Wrinkled</em> di Museum Macan, Jakarta, Kamis (22/5/2025).&nbsp;Pameran tunggal karya perupa Jepang tersebut digelar hingga Oktober 2025.<br />
&nbsp;
Seniman Kei Imazu (tengah) berbincang dengan pengunjung saat Pameran The Sea is Barely Wrinkled di Museum Macan, Jakarta, Kamis (22/5/2025). Pameran tunggal karya perupa Jepang tersebut digelar hingga Oktober 2025.
 
Kei Imazu menampilkan 15 karya yang terinspirasi dari tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1628 serta mengeksplorasi narasi sejarah masa lalu saat zaman kolonial, tantangan ekologi, dan mitologi lokal di Indonesia.
Kei Imazu menampilkan 15 karya yang terinspirasi dari tragedi tenggelamnya kapal Batavia pada 1628 serta mengeksplorasi narasi sejarah masa lalu saat zaman kolonial, tantangan ekologi, dan mitologi lokal di Indonesia.
Judul pameran ini diambil dari Mr. Palomar (1983), sebuah novel karya penulis Italia, Italo&nbsp;Calvino. Pada novel tersebut, laut menjadi metafora bagi kesinambungan dan kedalaman,&nbsp;tenang di permukaan namun penuh dengan arus yang tak terlihat di bawahnya. Hal ini selaras dengan eksplorasi artistik Imazu terhadap sejarah berlapis dan terus berubah di bawah permukaan yang terlihat.<br />
<br />
<br />
<br />
&nbsp;
Judul pameran ini diambil dari Mr. Palomar (1983), sebuah novel karya penulis Italia, Italo Calvino. Pada novel tersebut, laut menjadi metafora bagi kesinambungan dan kedalaman, tenang di permukaan namun penuh dengan arus yang tak terlihat di bawahnya. Hal ini selaras dengan eksplorasi artistik Imazu terhadap sejarah berlapis dan terus berubah di bawah permukaan yang terlihat.



 
Melalui karya-karyanya, Imazu menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kawasan pesisir Jakarta yang rentan terhadap masalah lingkungan seperti banjir dan penurunan tanah dengan menciptakan peta waktu yang menggabungkan teknik melukis tradisional dengan manipulasi digital, dan pemodelan tiga dimensi untuk mengeksplorasi keterkaitan antara kolonialisme, perubahan lingkungan, dan perkembangan kota.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Melalui karya-karyanya, Imazu menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kawasan pesisir Jakarta yang rentan terhadap masalah lingkungan seperti banjir dan penurunan tanah dengan menciptakan peta waktu yang menggabungkan teknik melukis tradisional dengan manipulasi digital, dan pemodelan tiga dimensi untuk mengeksplorasi keterkaitan antara kolonialisme, perubahan lingkungan, dan perkembangan kota.

Editor : Yayus Yuswoprihanto