REFLEKSI SEMANGAT KEBANGKITAN MELALUI PAMERAN BANGKIT DAN BERDAYA

20 May 2025   |   22:05 WIB

Pengunjung mengamati lukisan karya seniman disabilitas yang dipajang pada pameran Bangkit dan Berdaya di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Pameran yang menampilkan 85 lukisan karya 60 seniman penyandang disabilitas dari komunitas Outsider Art dan siswa dari Sekolah Darurat Kartini tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2025.
Pengunjung mengamati lukisan karya seniman disabilitas yang dipajang pada pameran Bangkit dan Berdaya di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Pameran yang menampilkan 85 lukisan karya 60 seniman penyandang disabilitas dari komunitas Outsider Art dan siswa dari Sekolah Darurat Kartini tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2025.
Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 31 Mei 2025 tersebut untuk menggaungkan perayaan Hari Kebangkitan Nasional. Pameran ini juga merefleksikan semangat kebangkitan dengan cara yang sangat konkret. Di balik setiap karya yang dipajang, tersimpan kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang daya juang, juga tentang harapan yang tak pernah padam.&nbsp;<br />
&nbsp;
Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 31 Mei 2025 tersebut untuk menggaungkan perayaan Hari Kebangkitan Nasional. Pameran ini juga merefleksikan semangat kebangkitan dengan cara yang sangat konkret. Di balik setiap karya yang dipajang, tersimpan kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang daya juang, juga tentang harapan yang tak pernah padam. 
 
Tak pelak, pameran ini menjadi semacam ruang alternatif yang memberi tempat pada mereka yang jarang mendapat panggung. Misalnya, Outsider Art Jakarta menampilkan karya dari para penyandang disabilitas yang selama ini lebih sering dianggap objek terapi daripada subjek kreatif.&nbsp;
Tak pelak, pameran ini menjadi semacam ruang alternatif yang memberi tempat pada mereka yang jarang mendapat panggung. Misalnya, Outsider Art Jakarta menampilkan karya dari para penyandang disabilitas yang selama ini lebih sering dianggap objek terapi daripada subjek kreatif. 
Pameran Bangkit dan Berdaya merefleksikan semangat itu dengan cara yang sangat konkret. Di balik setiap karya yang dipajang di pameran ini, tersimpan kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang daya juang, juga tentang harapan yang tak pernah padam.&nbsp;
Pameran Bangkit dan Berdaya merefleksikan semangat itu dengan cara yang sangat konkret. Di balik setiap karya yang dipajang di pameran ini, tersimpan kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang daya juang, juga tentang harapan yang tak pernah padam. 
Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap 20 Mei, awalnya merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, sebuah organisasi modern pertama di Hindia Belanda yang memelopori kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan persatuan.<br />
Kebangkitan saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajah, namun menjadi milik siapa saja yang berani bangun dari keterpurukan personal dan terus menghasilkan karya.&nbsp;<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto<br />
&nbsp;
Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap 20 Mei, awalnya merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, sebuah organisasi modern pertama di Hindia Belanda yang memelopori kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan persatuan.
Kebangkitan saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajah, namun menjadi milik siapa saja yang berani bangun dari keterpurukan personal dan terus menghasilkan karya. 

Editor : Yayus Yuswoprihanto