PAMERAN KOMIK TELEKOMUNIKASI MENGUBAH PERADABAN

22 May 2025   |   21:24 WIB

Pengunjung mengamati karya seni komik pada pameran tunggal Mice di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (15/5/2025). Pameran yang mengambil tema <em>Telekomunikasi Mengubah Peradaban</em> karya Mice ini bukan sekadar komik historis, tetapi refleksi eksistensial tentang bagaimana teknologi membentuk kehidupan manusia. Melalui satire visual, Mice mempertanyakan apakah kemajuan komunikasi benar-benar membuat manusia lebih beradab, atau justru menjauhkan kita dari kehadiran dan relasi yang otentik.
Pengunjung mengamati karya seni komik pada pameran tunggal Mice di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (15/5/2025). Pameran yang mengambil tema Telekomunikasi Mengubah Peradaban karya Mice ini bukan sekadar komik historis, tetapi refleksi eksistensial tentang bagaimana teknologi membentuk kehidupan manusia. Melalui satire visual, Mice mempertanyakan apakah kemajuan komunikasi benar-benar membuat manusia lebih beradab, atau justru menjauhkan kita dari kehadiran dan relasi yang otentik.
Dulu, komunikasi membutuhkan ruang sosial dan interaksi langsung wartel dan warnet menjadi tempat membangun koneksi yang nyata. Namun kini komunikasi dibanjiri kemudahan digital yang justru meningkatkan keterasingan. Teknologi memperdekat jarak fisik, tapi memperlebar jarak psikologis, menciptakan keterasingan di tengah keramaian digital.
Dulu, komunikasi membutuhkan ruang sosial dan interaksi langsung wartel dan warnet menjadi tempat membangun koneksi yang nyata. Namun kini komunikasi dibanjiri kemudahan digital yang justru meningkatkan keterasingan. Teknologi memperdekat jarak fisik, tapi memperlebar jarak psikologis, menciptakan keterasingan di tengah keramaian digital.
Fenomena ini terhubung dengan <em>paradox of choice</em>, semakin banyak pilihan, semakin tinggi kecemasan dan penyesalan. Era digital yang digambarkan Mice memperlihatkan bagaimana banjir pilihan komunikasi justru menjerat kita dalam dilema makna. Kebebasan tanpa arah menciptakan tekanan untuk terus hadir dan diakui, namun kehilangan kedalaman dalam relasi.
Fenomena ini terhubung dengan paradox of choice, semakin banyak pilihan, semakin tinggi kecemasan dan penyesalan. Era digital yang digambarkan Mice memperlihatkan bagaimana banjir pilihan komunikasi justru menjerat kita dalam dilema makna. Kebebasan tanpa arah menciptakan tekanan untuk terus hadir dan diakui, namun kehilangan kedalaman dalam relasi.
Melalui nostalgia dan humor, Mice mengajak pengunjung untuk merenung dan memilih secara sadar. Pameran ini bukan sekadar mengingatkan masa lalu, tapi juga menjadi seruan untuk merebut kembali makna dalam komunikasi kita di era yang serba instan dan terfragmentasi.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Melalui nostalgia dan humor, Mice mengajak pengunjung untuk merenung dan memilih secara sadar. Pameran ini bukan sekadar mengingatkan masa lalu, tapi juga menjadi seruan untuk merebut kembali makna dalam komunikasi kita di era yang serba instan dan terfragmentasi.

Editor : Yayus Yuswoprihanto