PAMERAN SENI RUPA TRIBUTE TO PRAMOEDYA ANANTA TOER

05 May 2025   |   20:22 WIB

Pengunjung melihat karya yang ditampilkan pada pameran seni rupa <em>Tribute to</em> Pramoedya Ananta Toer dengan tajuk <em>Jejak Langkah dalam Pertarungan</em> di Balai Budaja, Jakarta, Jumat (2/5/2025). Pameran ini merupakan pintu masuk untuk kembali berpikir kritis dan reflektif terhadap situasi zaman dengan mengenang dan membaca karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang dimaknai ulang dan diperluas melalui media seni rupa dengan berbagai dimensi gagasan para senimannya.&nbsp;<br />
&nbsp;
Pengunjung melihat karya yang ditampilkan pada pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer dengan tajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan di Balai Budaja, Jakarta, Jumat (2/5/2025). Pameran ini merupakan pintu masuk untuk kembali berpikir kritis dan reflektif terhadap situasi zaman dengan mengenang dan membaca karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang dimaknai ulang dan diperluas melalui media seni rupa dengan berbagai dimensi gagasan para senimannya. 
 
Pameran yang dikuratori oleh Mayek Prayitno tersebut berlangsung hingga 10 Mei 2025 dengan menampilkan karya dari 32 perupa yang bermuatan isu-isu sosial politik yang terus menyuarakan ketidakadilan dan ketimpangan sosial.<br />
<br />
&nbsp;
Pameran yang dikuratori oleh Mayek Prayitno tersebut berlangsung hingga 10 Mei 2025 dengan menampilkan karya dari 32 perupa yang bermuatan isu-isu sosial politik yang terus menyuarakan ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

 
Mayek Prayitno mengatakan, selain melakukan pembacaan ulang terhadap karya-karya Pram, pameran ini juga berupaya membangkitkan kembali pikiran-pikiran kritis yang yang pernah dirisalahkan penulis Tetralogi Pulau Buru dalam bahasa rupa dengan situasi hari ini. Menurut Mayek, apa yang dikisahkan Pram di dalam karya-karyanya, seperti isu penindasan, hingga ketimpangan ekonomi hingga saat ini masih terus terjadi di Tanah Air. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan kembali secara mendalam apa yang sebenarnya menjadi penyebab dari dekadensi tersebut.&nbsp;
Mayek Prayitno mengatakan, selain melakukan pembacaan ulang terhadap karya-karya Pram, pameran ini juga berupaya membangkitkan kembali pikiran-pikiran kritis yang yang pernah dirisalahkan penulis Tetralogi Pulau Buru dalam bahasa rupa dengan situasi hari ini. Menurut Mayek, apa yang dikisahkan Pram di dalam karya-karyanya, seperti isu penindasan, hingga ketimpangan ekonomi hingga saat ini masih terus terjadi di Tanah Air. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan kembali secara mendalam apa yang sebenarnya menjadi penyebab dari dekadensi tersebut. 
Ketua pelaksana pameran, Mario Lasol mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan upaya untuk membaca kembali pemikiran-pemikiran Pram berdasarkan situasi hari ini. Sebab, dari karya-karyanya, generasi muda bisa mengambil inspirasi untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan. Menurut Mario, dengan memaknai ulang karya-karya Pram, publik juga bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Dia berharap lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberanian Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Ketua pelaksana pameran, Mario Lasol mengatakan, dihelatnya pameran ini merupakan upaya untuk membaca kembali pemikiran-pemikiran Pram berdasarkan situasi hari ini. Sebab, dari karya-karyanya, generasi muda bisa mengambil inspirasi untuk berani dan terus berjuang melawan penindasan. Menurut Mario, dengan memaknai ulang karya-karya Pram, publik juga bakal lebih bisa melihat dan mengerti tentang Indonesia. Dia berharap lewat pameran ini para pengunjung juga bisa menimba semangat dan keberanian Pram untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik ke depannya.

Editor : Yayus Yuswoprihanto