DIAM YANG BERGERAK, GORESAN ABSTRAK KARYA MENDIANG LIAN SAHAR

03 March 2025   |   23:34 WIB

Pengunjung mengabadikan salah satu karya seniman Lian Sahar yang dipajang di Lawangwangi Creative Space di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pameran tunggal ini bertajuk&nbsp;<em>Diam Yang Bergerak</em>. Pengunjung dapat menyaksikan pameran ini pada 21 Februari hingga 22 Maret 2025. Lian Sahar (1933-2010) adalah perupa dan desainer asal Aceh yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Yogyakarta. Dia pernah mengenyam pendidikan seni dan desain di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dan pendidikan seni rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB).<br />
&nbsp;
Pengunjung mengabadikan salah satu karya seniman Lian Sahar yang dipajang di Lawangwangi Creative Space di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pameran tunggal ini bertajuk Diam Yang Bergerak. Pengunjung dapat menyaksikan pameran ini pada 21 Februari hingga 22 Maret 2025. Lian Sahar (1933-2010) adalah perupa dan desainer asal Aceh yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Yogyakarta. Dia pernah mengenyam pendidikan seni dan desain di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dan pendidikan seni rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB).
 
Karya-karya seniman Aceh yang terstigma politik pada 1965-an ini mengekspos goresan dan sapuan kuas dengan mengolah garis, bentuk, dan bidang pada karya yang memunculkan kesan dinamis. Ini adalah manifestasi pemahaman bahwa tak ada ide, konsep, pemahaman,dan ideologi apapun yang melulu begitu saja. Pameran menampilkan 64 <em>drawing</em> dan lukisan di atas kertas, 4 karya di antaranya dilukis di atas kanvas dan satu lukisan di atas panel kayu dengan konsep optical art, kategori desain poster, portrait, figur dan abstrak.
Karya-karya seniman Aceh yang terstigma politik pada 1965-an ini mengekspos goresan dan sapuan kuas dengan mengolah garis, bentuk, dan bidang pada karya yang memunculkan kesan dinamis. Ini adalah manifestasi pemahaman bahwa tak ada ide, konsep, pemahaman,dan ideologi apapun yang melulu begitu saja. Pameran menampilkan 64 drawing dan lukisan di atas kertas, 4 karya di antaranya dilukis di atas kanvas dan satu lukisan di atas panel kayu dengan konsep optical art, kategori desain poster, portrait, figur dan abstrak.
Pihak penyelenggara pameran, ArtSociates dan Lawangwangi Creative Space, mengumpulkan karya-karya Lian Sahar dari Dosen Pascasarjana Studi Pariwisata UGM Muhammad yang pernah mengoleksi karya-karya Lian Sahar selama 20 tahun hingga terkumpul ratusan karya <em>drawing</em>, lukisan, poster dan surat-surat. Kemudian, sebanyak 154 karya Lian koleksi Muhammad yang dalam kondisi baik, kini diakuisisi oleh Direktur ArtSociates Andonowati untuk menyelamatkan dari kerusakan akibat serangan rayap.
Pihak penyelenggara pameran, ArtSociates dan Lawangwangi Creative Space, mengumpulkan karya-karya Lian Sahar dari Dosen Pascasarjana Studi Pariwisata UGM Muhammad yang pernah mengoleksi karya-karya Lian Sahar selama 20 tahun hingga terkumpul ratusan karya drawing, lukisan, poster dan surat-surat. Kemudian, sebanyak 154 karya Lian koleksi Muhammad yang dalam kondisi baik, kini diakuisisi oleh Direktur ArtSociates Andonowati untuk menyelamatkan dari kerusakan akibat serangan rayap.
Pameran yang dikuratori oleh Heru Hikayat dan M. Dwi Marianto ini menampilkan perjalanan artistik seniman yang selama ini kurang mendapat sorotan, meskipun memiliki peran penting dalam sejarah seni rupa modern di Indonesia. Lian Sahar adalah satu dari banyak seniman yang terstigma politik lantaran dianggap berpihak dengan kelompok kiri Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Padahal, sejak era 1970-an, ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran bergengsi, termasuk Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yang menjadi cikal bakal Biennale Jakarta, yang menjadikan ia sebagai bagian dari sejarah seni rupa modern di Indonesia.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Pameran yang dikuratori oleh Heru Hikayat dan M. Dwi Marianto ini menampilkan perjalanan artistik seniman yang selama ini kurang mendapat sorotan, meskipun memiliki peran penting dalam sejarah seni rupa modern di Indonesia. Lian Sahar adalah satu dari banyak seniman yang terstigma politik lantaran dianggap berpihak dengan kelompok kiri Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Padahal, sejak era 1970-an, ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran bergengsi, termasuk Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yang menjadi cikal bakal Biennale Jakarta, yang menjadikan ia sebagai bagian dari sejarah seni rupa modern di Indonesia.

Editor : Yayus Yuswoprihanto