PUTRA SANG MAESTRO, PERTUNJUKAN YANG SARAT KRITIK

21 November 2024   |   00:22 WIB

Seniman mementaskan lakon berjudul Putra Sang Maestro di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (14/11/2024). Pentas tersebut menceritakan tentang seorang seniman badut tua yang akan diberi gelar Sang Maestro. Baginya, gelar maestro tidak layak diterima oleh badut seperti dirinya karena masih banyak seniman atau tokoh lain yang menurutnya lebih pantas menyandang gelar ini. Namun pimpinan kota yang hendak memberikan gelar bersikeras supaya badut senior ini mau menerima gelar Maestro. Alasan si pimpinan, badut selama ini terpinggirkan dan direndahkan sehingga gelar ini merupakan upaya untuk mengangkat profesinya.<br />
&nbsp;
Seniman mementaskan lakon berjudul Putra Sang Maestro di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (14/11/2024). Pentas tersebut menceritakan tentang seorang seniman badut tua yang akan diberi gelar Sang Maestro. Baginya, gelar maestro tidak layak diterima oleh badut seperti dirinya karena masih banyak seniman atau tokoh lain yang menurutnya lebih pantas menyandang gelar ini. Namun pimpinan kota yang hendak memberikan gelar bersikeras supaya badut senior ini mau menerima gelar Maestro. Alasan si pimpinan, badut selama ini terpinggirkan dan direndahkan sehingga gelar ini merupakan upaya untuk mengangkat profesinya.
 
Sutradara pertunjukan, Agus Noor, berhasil mengemas cerita dengan mulus dan menarik. Lagu-lagu Slank yang dinyanyikan Endah Laras untuk memuluskan transisi adegan pada pertunjukan tersebut juga memberikan nuansa tersendiri.
Sutradara pertunjukan, Agus Noor, berhasil mengemas cerita dengan mulus dan menarik. Lagu-lagu Slank yang dinyanyikan Endah Laras untuk memuluskan transisi adegan pada pertunjukan tersebut juga memberikan nuansa tersendiri.
Pertunjukan ini dibintangi oleh aktor-aktor besar, di antaranya Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Akbar Kobar, Endah Laras, Oppie Andaresta, Sri Krishna Encik, Mucle Katulistiwa, Marwoto, Susilo Nugroho, Wisben, dan Joened. Mereka tampil memukau dengan diiringi aransemen musik oleh Arie Pekar dan gerakan tari dari Siti Alisa yang penuh energi.<br />
<br />
&nbsp;
Pertunjukan ini dibintangi oleh aktor-aktor besar, di antaranya Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Akbar Kobar, Endah Laras, Oppie Andaresta, Sri Krishna Encik, Mucle Katulistiwa, Marwoto, Susilo Nugroho, Wisben, dan Joened. Mereka tampil memukau dengan diiringi aransemen musik oleh Arie Pekar dan gerakan tari dari Siti Alisa yang penuh energi.

 
Putra Sang Maestro mempertontonkan intrik politik, dari yang halus penuh simbol, hingga yang frontal tanpa tedeng aling-aling. Romansa Akbar dan Oppie, hanyalah sampiran cerita untuk mengelindingkan waktu 2 jam pementasan serta menyikapi realitas lewat seni.<br />
<br />
&nbsp;
Putra Sang Maestro mempertontonkan intrik politik, dari yang halus penuh simbol, hingga yang frontal tanpa tedeng aling-aling. Romansa Akbar dan Oppie, hanyalah sampiran cerita untuk mengelindingkan waktu 2 jam pementasan serta menyikapi realitas lewat seni.

 
Pentas dirancang agar tak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menginspirasi penonton untuk merenungi nilai-nilai kejujuran, kehormatan, dan penghargaan pada profesi yang sering dipandang sebelah mata.<br />
<br />
&nbsp;
Pentas dirancang agar tak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menginspirasi penonton untuk merenungi nilai-nilai kejujuran, kehormatan, dan penghargaan pada profesi yang sering dipandang sebelah mata.

 
Butet Kartaredjasa, seniman senior yang juga salah seorang pemain dalam pentas tersebut berharap&nbsp;dengan munculnya Kementerian Kebudayan para seniman bisa lebih bebas untuk berekspresi sembari menunggu gebrakan, akan dibawa ke mana proses-proses berkebudayaan di Indonesia lewat kebijakan yang digulirkan oleh negara.<br />
<br />
Editor : Yayus Yuswoprihanto
Butet Kartaredjasa, seniman senior yang juga salah seorang pemain dalam pentas tersebut berharap dengan munculnya Kementerian Kebudayan para seniman bisa lebih bebas untuk berekspresi sembari menunggu gebrakan, akan dibawa ke mana proses-proses berkebudayaan di Indonesia lewat kebijakan yang digulirkan oleh negara.

Editor : Yayus Yuswoprihanto