Penari Pagelaran Tradisi Manopeng

03 September 2023   |   16:27 WIB
Image
Adi Tofan
saya seorang karyawan swasta sekaligus penghobi fotografi

Asap kemenyan menguarkan harum, membumbung dan tampak jelas disorot cahaya lampu. Ditandai dengan tabuhan gamelan, seorang lelaki tua tampil mengenakan topeng kayu. Ia mulai menari, menuruti keinginan sang datuk.<br />
Bunyi gamelan itu terdengar nyaring dan kerap mengentak. Mengusir sunyi kawasan Banyiur Luar, Kelurahan Basirih, Banjarmasin Selatan.&nbsp;<br />
Di atas panggung yang dibangun bersisian dengan ruas jalan, lelaki tua yang mengenakan topeng berwarna merah itu masih terus menari. Gerakannya patah-patah.<br />
Di panggung itu pula, sejumlah warga yang mengenakan kaos putih tampak berdiri. Menyaksikan lelaki tua yang menari.<br />
Ia baru berhenti menari, ketika tujuh perempuan muncul di atas panggung. Seakan-akan, ialah yang memanggil mereka.<br />
Ketujuh perempuan itu juga mengenakan topeng. Warnanya kuning. Serasi dengan kostum yang mereka kenakan. Di pinggangnya, terikat selendang hijau.<br />
Gamelan terus ditabuh, bunyinya pun masih mengentak. Ketujuh perempuan itu pun menari. Sangat energik.<br />
Namun, ada yang aneh. Seiring lamanya mereka menari, gerakannya tampak tak beraturan. Laiknya orang kesurupan. Sesekali, mereka juga mengentakkan kaki.<br />
Membuat panggung berbahan kayu itu pun berderak nyaring. Warga yang berdiri di atas panggung memasang sikap waspada. Menjaga gerak penari yang tampak mondar-mandir.<br />
Sementara itu, di depan panggung hingga ruas Jalan Banyiur Luar, warga menyemut menyaksikan tradisi manopeng (Tari Topeng) yang ditampilkan.<br />
Tak berapa lama, kondisi penari di atas panggung mulai tak terkendali. Di sela-sela situasi itu, salah seorang penari bahkan tampak limbung. Kemudian pingsan.<br />
Beruntung, para warga yang bersiaga di atas panggung dengan sigap menangkapnya. Kemudian merebahkan si penari ke sisi panggung.<br />
Saat itulah, seorang pemuda berpeci tampak menghampirinya. Dialah sang penghulu tradisi manopeng.<br />
Topeng dilepas dari wajah si penari, sembari merapal doa hingga memercikkan air dari dalam sebuah kendi. Si penari pun sadar dari pingsannya.<br />
Sementara itu, penari lain terus saja menampilkan kebolehannya. Menari dan terus menari seperti tak kenal lelah. Tak berapa lama, peristiwa lain pun terjadi. Di antara kerumunan penonton, seorang perempuan tampak melenggang-lenggok laiknya sedang menari. Namun matanya tampak terpejam.<br />
Warga yang bersiaga di atas panggung pun turun, menjemput perempuan itu kemudian menaikkannya ke atas panggung.<br />
Selain memasangkan topeng, pinggang si perempuan itu juga diikatkan dengan selendang berwarna hijau. Jadilah dia penari lainnya.<br />
Situasi seperti itu terus saja terjadi. Tak sedikit penari yang limbung, tak sedikit pula hadir penari &lsquo;pengganti&rsquo;.<br />
Tentu tidak hanya penari perempuan. Ada juga penari laki-laki. Gerakan atau tariannya pun juga tak beraturan. Seorang penari laki-laki misalnya, bahkan seperti memperagakan gerakan silat.<br />
Share Link:<br />
Di antara para penari yang ada di atas panggung, ada pula penari yang tidak bisa tenang. Terkesan mengamuk. Menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi, si penari langsung ditenangkan. Ditarik ke pinggir panggung, dipercikkan air di kepala, kemudian dilepaskan topengnya.<br />
Inilah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh Keluarga Manopeng di Banyiur Luar. Disebut tradisi, lantaran ini adalah gelaran yang hanya dilakukan oleh keturunan Datuk Mahbud di Banyiur Luar.<br />
Datuk Mahbud dipercaya menjadi seorang yang pertama kali membuka kampung di Banyiur Luar.<br />
Manopeng digelar sekali dalam setahun. Pada bulan Muharam. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi antar zuriah sang datuk.<br />
Ketika tradisi itu digelar, jalanan ditutup atau tak bisa dilintasi sementara waktu. Sudah bisa dipastikan bahwa gelaran bakal menyedot banyak perhatian. Masyarakat Banyiur Luar dan sekitarnya sudah begitu akrab dengan tradisi yang satu ini. Salah satunya, juga karena dianggap sebagai sebuah hiburan.<br />
Namun bagi mereka yang kondisi mentalnya lemah, pikiran sedang kosong, sebaiknya menjaga diri agar tidak mengalami kerasukan. Mayoritas penari yang tampil memang seperti orang sedang kerasukan.<br />
Salah seorang penari, Ria Anggara membenarkan hal itu. Perempuan 30 tahun tersebut mempercayai bahwa yang merasuki para penari adalah roh para leluhur. Menurutnya, tak ada seorang penari sadar dengan tarian yang dibawakan. Bahkan ketika si penari sadar dan hendak melepas topeng pun tak akan bisa.<br />
Maka solusinya, tarian hanya bisa diselesaikan ketika si penari sudah tampak kelelahan, kemudian limbung. Atau disadarkan oleh warga lainnya yang menjaga tarian. Khususnya penghulu tradisi manopeng di Banyiur Luar. &ldquo;Tarian yang dibawakan juga sesuai dengan karakter topeng yang dikenakan. Topeng perempuan, tarian mungkin akan terlihat lembut,&rdquo; tuturnya.<br />
Ria sendiri mengaku sudah menjalankan tradisi itu sejak duduk di bangku sekolah dasar. &ldquo;Dahulu, tarian ini hanya digelar di dalam rumah. Zaman semakin berkembang, tarian pun diarak ke luar rumah. Tapi hanya di Banyiur Luar ini,&rdquo; tekannya.<br />
Seperti diutarakan sebelumnya, tradisi manopeng digelar sekali dalam setahun. Para zuriah percaya apabila tidak dilaksanakan, bakal ada keluarga yang jatuh sakit. &ldquo;Dulu ada keluarga yang jatuh sakit. Ketika manopeng digelar, keluarga yang sakit dimandikan Sangkala. Kemudian sembuh,&rdquo; ujarnya.<br />
&ldquo;Selain pengobatan, pelaksanaan manopeng ini lebih kepada silaturahmi. Seluruh zuriah yang ada di manapun pasti datang,&rdquo; tekannya.<br />
Lantas, dari mana tradisi manopeng itu berasal? Konon tak luput dari adanya kebudayaan masyarakat Banjar zaman dahulu. &ldquo;Ada pengaruh dari Kerajaan Nagara Dipa yang berpusat di Hulu Sungai Utara,&rdquo; ungkap Ferdi Irawan.<br />
Ferdi adalah penghulu tradisi manopeng di Banyiur Luar. Ia adalah generasi keenam dari sang datuk.<br />
Diutarakannya, manopeng dulunya adalah tradisi leluhurnya ketika hendak membuka sebuah kawasan untuk dijadikan perkampungan. &ldquo;Dengan manopeng, leluhur kami meminta izin, bermediasi dengan penghuni kawasan yang tak kasat mata untuk bisa membuka kawasan, kemudian menjadikannya perkampungan,&rdquo; ungkapnya.<br />
&ldquo;Tradisi ini juga ada di berbagai daerah. Seperti di Marabahan Kabupaten Barito Kuala, hingga di Hulu Sungai,&rdquo; tambahnya.<br />
Seiring berjalannya waktu, manopeng secara turun temurun tetap dilaksanakan. Bahkan sebagai forum silaturahmi.<br />
Berbicara tentang tarian, dalam manopeng tak ada gerak tarian yang baku. Ferdi bilang itu lantaran tarian hanya dipelajari secara autodidak, dan muncul dari pihak keluarga. &ldquo;Kemudian tidak terekam dengan baik,&rdquo; ucapnya.<br />
Menurut Feri, sebagai zuriah, ketika hendak menggelar manopeng, pihaknya juga sering berlatih tari. Namun ketika ditampilkan, tarian yang dipelajari justru tidak bisa ditampilkan. &ldquo;Itulah mengapa, tarian yang ditampilkan tidak seperti tarian konvensional pada umumnya. Kami meyakini, para penari itu &lsquo;ditarikan&rsquo; oleh para leluhur,&rdquo; tambahnya.<br />
Sederhananya sang datuk bermediasi, hingga menunjukkan eksistensi melalui tariannya sendiri. &ldquo;Kebanyakan para penari adalah pihak keluarga. Meski ada orang lain yang naik ke atas panggung dan ikut menari, setelah diperinci, ternyata ada keturunan dari datuk juga,&rdquo; jelasnya.<br />
Secara garis besar, tarian yang dibawakan juga punya cerita. Contoh, adanya tujuh orang penari perempuan yang tampil. Itu mengisahkan tentang tujuh bidadari yang turun ke bumi.<br />
Kemudian, ada pula lakon tari yang dibawakan oleh si pemakai topeng pantul dan tembem. Seperti halnya dalam kisah pewayangan, itu diibaratkan adalah sosok punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong).<br />
Selanjutnya ada tokoh Sangkala atau Batarakala. Sosok inilah yang dulunya dipercaya sebagai penjaga datuk beserta zuriahnya. &ldquo;Sangkala mungkin tampak seperti preman. Tapi, ia preman yang baik. Ia pula yang menjadi pemimpin penari topeng yang ditampilkan,&rdquo; jelasnya.<br />
Ferdi menuturkan bahwa manopeng tak ujug-ujug langsung digelar begitu saja. Sebelumnya ada rapat dahulu bersama keluarga. Membicarakan apakah manopeng bakal digelar terbuka untuk umum, atau digelar tertutup di dalam rumah. Ketika sudah diputuskan, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan berbagai persiapan. Seperti melarung sesaji ke sungai. Itu dilakukan dua hari sebelum pelaksanaan manopeng. &ldquo;Kami menyebutnya memberi makan kepada makhluk yang ada di sungai,&rdquo; ujarnya.<br />
Selain itu, juga dilakukan pembersihan topeng-topeng sebelum tampil. Caranya topeng yang ada diasapi dengan kemenyan.<br />
Kemudian dilanjutkan dengan gotong royong membuat penganan sebanyak 41 macam. Kemudian penganan itu didoakan dan disantap bersama-sama.<br />
Gelaran tradisi manopeng malam itu berakhir ketika penari mengenakan topeng Sangkala tampil ke hadapan khalayak. Dalam penampilannya, Sangkala pun seperti berpesan agar para zuriah serta masyarakat bisa hidup rukun, saling mendoakan satu sama lain.
Asap kemenyan menguarkan harum, membumbung dan tampak jelas disorot cahaya lampu. Ditandai dengan tabuhan gamelan, seorang lelaki tua tampil mengenakan topeng kayu. Ia mulai menari, menuruti keinginan sang datuk.
Bunyi gamelan itu terdengar nyaring dan kerap mengentak. Mengusir sunyi kawasan Banyiur Luar, Kelurahan Basirih, Banjarmasin Selatan. 
Di atas panggung yang dibangun bersisian dengan ruas jalan, lelaki tua yang mengenakan topeng berwarna merah itu masih terus menari. Gerakannya patah-patah.
Di panggung itu pula, sejumlah warga yang mengenakan kaos putih tampak berdiri. Menyaksikan lelaki tua yang menari.
Ia baru berhenti menari, ketika tujuh perempuan muncul di atas panggung. Seakan-akan, ialah yang memanggil mereka.
Ketujuh perempuan itu juga mengenakan topeng. Warnanya kuning. Serasi dengan kostum yang mereka kenakan. Di pinggangnya, terikat selendang hijau.
Gamelan terus ditabuh, bunyinya pun masih mengentak. Ketujuh perempuan itu pun menari. Sangat energik.
Namun, ada yang aneh. Seiring lamanya mereka menari, gerakannya tampak tak beraturan. Laiknya orang kesurupan. Sesekali, mereka juga mengentakkan kaki.
Membuat panggung berbahan kayu itu pun berderak nyaring. Warga yang berdiri di atas panggung memasang sikap waspada. Menjaga gerak penari yang tampak mondar-mandir.
Sementara itu, di depan panggung hingga ruas Jalan Banyiur Luar, warga menyemut menyaksikan tradisi manopeng (Tari Topeng) yang ditampilkan.
Tak berapa lama, kondisi penari di atas panggung mulai tak terkendali. Di sela-sela situasi itu, salah seorang penari bahkan tampak limbung. Kemudian pingsan.
Beruntung, para warga yang bersiaga di atas panggung dengan sigap menangkapnya. Kemudian merebahkan si penari ke sisi panggung.
Saat itulah, seorang pemuda berpeci tampak menghampirinya. Dialah sang penghulu tradisi manopeng.
Topeng dilepas dari wajah si penari, sembari merapal doa hingga memercikkan air dari dalam sebuah kendi. Si penari pun sadar dari pingsannya.
Sementara itu, penari lain terus saja menampilkan kebolehannya. Menari dan terus menari seperti tak kenal lelah. Tak berapa lama, peristiwa lain pun terjadi. Di antara kerumunan penonton, seorang perempuan tampak melenggang-lenggok laiknya sedang menari. Namun matanya tampak terpejam.
Warga yang bersiaga di atas panggung pun turun, menjemput perempuan itu kemudian menaikkannya ke atas panggung.
Selain memasangkan topeng, pinggang si perempuan itu juga diikatkan dengan selendang berwarna hijau. Jadilah dia penari lainnya.
Situasi seperti itu terus saja terjadi. Tak sedikit penari yang limbung, tak sedikit pula hadir penari ‘pengganti’.
Tentu tidak hanya penari perempuan. Ada juga penari laki-laki. Gerakan atau tariannya pun juga tak beraturan. Seorang penari laki-laki misalnya, bahkan seperti memperagakan gerakan silat.
Share Link:
Di antara para penari yang ada di atas panggung, ada pula penari yang tidak bisa tenang. Terkesan mengamuk. Menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi, si penari langsung ditenangkan. Ditarik ke pinggir panggung, dipercikkan air di kepala, kemudian dilepaskan topengnya.
Inilah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh Keluarga Manopeng di Banyiur Luar. Disebut tradisi, lantaran ini adalah gelaran yang hanya dilakukan oleh keturunan Datuk Mahbud di Banyiur Luar.
Datuk Mahbud dipercaya menjadi seorang yang pertama kali membuka kampung di Banyiur Luar.
Manopeng digelar sekali dalam setahun. Pada bulan Muharam. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi antar zuriah sang datuk.
Ketika tradisi itu digelar, jalanan ditutup atau tak bisa dilintasi sementara waktu. Sudah bisa dipastikan bahwa gelaran bakal menyedot banyak perhatian. Masyarakat Banyiur Luar dan sekitarnya sudah begitu akrab dengan tradisi yang satu ini. Salah satunya, juga karena dianggap sebagai sebuah hiburan.
Namun bagi mereka yang kondisi mentalnya lemah, pikiran sedang kosong, sebaiknya menjaga diri agar tidak mengalami kerasukan. Mayoritas penari yang tampil memang seperti orang sedang kerasukan.
Salah seorang penari, Ria Anggara membenarkan hal itu. Perempuan 30 tahun tersebut mempercayai bahwa yang merasuki para penari adalah roh para leluhur. Menurutnya, tak ada seorang penari sadar dengan tarian yang dibawakan. Bahkan ketika si penari sadar dan hendak melepas topeng pun tak akan bisa.
Maka solusinya, tarian hanya bisa diselesaikan ketika si penari sudah tampak kelelahan, kemudian limbung. Atau disadarkan oleh warga lainnya yang menjaga tarian. Khususnya penghulu tradisi manopeng di Banyiur Luar. “Tarian yang dibawakan juga sesuai dengan karakter topeng yang dikenakan. Topeng perempuan, tarian mungkin akan terlihat lembut,” tuturnya.
Ria sendiri mengaku sudah menjalankan tradisi itu sejak duduk di bangku sekolah dasar. “Dahulu, tarian ini hanya digelar di dalam rumah. Zaman semakin berkembang, tarian pun diarak ke luar rumah. Tapi hanya di Banyiur Luar ini,” tekannya.
Seperti diutarakan sebelumnya, tradisi manopeng digelar sekali dalam setahun. Para zuriah percaya apabila tidak dilaksanakan, bakal ada keluarga yang jatuh sakit. “Dulu ada keluarga yang jatuh sakit. Ketika manopeng digelar, keluarga yang sakit dimandikan Sangkala. Kemudian sembuh,” ujarnya.
“Selain pengobatan, pelaksanaan manopeng ini lebih kepada silaturahmi. Seluruh zuriah yang ada di manapun pasti datang,” tekannya.
Lantas, dari mana tradisi manopeng itu berasal? Konon tak luput dari adanya kebudayaan masyarakat Banjar zaman dahulu. “Ada pengaruh dari Kerajaan Nagara Dipa yang berpusat di Hulu Sungai Utara,” ungkap Ferdi Irawan.
Ferdi adalah penghulu tradisi manopeng di Banyiur Luar. Ia adalah generasi keenam dari sang datuk.
Diutarakannya, manopeng dulunya adalah tradisi leluhurnya ketika hendak membuka sebuah kawasan untuk dijadikan perkampungan. “Dengan manopeng, leluhur kami meminta izin, bermediasi dengan penghuni kawasan yang tak kasat mata untuk bisa membuka kawasan, kemudian menjadikannya perkampungan,” ungkapnya.
“Tradisi ini juga ada di berbagai daerah. Seperti di Marabahan Kabupaten Barito Kuala, hingga di Hulu Sungai,” tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, manopeng secara turun temurun tetap dilaksanakan. Bahkan sebagai forum silaturahmi.
Berbicara tentang tarian, dalam manopeng tak ada gerak tarian yang baku. Ferdi bilang itu lantaran tarian hanya dipelajari secara autodidak, dan muncul dari pihak keluarga. “Kemudian tidak terekam dengan baik,” ucapnya.
Menurut Feri, sebagai zuriah, ketika hendak menggelar manopeng, pihaknya juga sering berlatih tari. Namun ketika ditampilkan, tarian yang dipelajari justru tidak bisa ditampilkan. “Itulah mengapa, tarian yang ditampilkan tidak seperti tarian konvensional pada umumnya. Kami meyakini, para penari itu ‘ditarikan’ oleh para leluhur,” tambahnya.
Sederhananya sang datuk bermediasi, hingga menunjukkan eksistensi melalui tariannya sendiri. “Kebanyakan para penari adalah pihak keluarga. Meski ada orang lain yang naik ke atas panggung dan ikut menari, setelah diperinci, ternyata ada keturunan dari datuk juga,” jelasnya.
Secara garis besar, tarian yang dibawakan juga punya cerita. Contoh, adanya tujuh orang penari perempuan yang tampil. Itu mengisahkan tentang tujuh bidadari yang turun ke bumi.
Kemudian, ada pula lakon tari yang dibawakan oleh si pemakai topeng pantul dan tembem. Seperti halnya dalam kisah pewayangan, itu diibaratkan adalah sosok punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong).
Selanjutnya ada tokoh Sangkala atau Batarakala. Sosok inilah yang dulunya dipercaya sebagai penjaga datuk beserta zuriahnya. “Sangkala mungkin tampak seperti preman. Tapi, ia preman yang baik. Ia pula yang menjadi pemimpin penari topeng yang ditampilkan,” jelasnya.
Ferdi menuturkan bahwa manopeng tak ujug-ujug langsung digelar begitu saja. Sebelumnya ada rapat dahulu bersama keluarga. Membicarakan apakah manopeng bakal digelar terbuka untuk umum, atau digelar tertutup di dalam rumah. Ketika sudah diputuskan, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan berbagai persiapan. Seperti melarung sesaji ke sungai. Itu dilakukan dua hari sebelum pelaksanaan manopeng. “Kami menyebutnya memberi makan kepada makhluk yang ada di sungai,” ujarnya.
Selain itu, juga dilakukan pembersihan topeng-topeng sebelum tampil. Caranya topeng yang ada diasapi dengan kemenyan.
Kemudian dilanjutkan dengan gotong royong membuat penganan sebanyak 41 macam. Kemudian penganan itu didoakan dan disantap bersama-sama.
Gelaran tradisi manopeng malam itu berakhir ketika penari mengenakan topeng Sangkala tampil ke hadapan khalayak. Dalam penampilannya, Sangkala pun seperti berpesan agar para zuriah serta masyarakat bisa hidup rukun, saling mendoakan satu sama lain.